
"Tidak-tidak! Aku tidak setuju," ucap Andra.
"Daddy ... Yang mau nikah itu aku, kenapa Daddy tidak merestui?" Nathan terlihat sangat marah, kenapa ayahnya tidak merestui? Apa yang kurang dari Dewi? Dia terlihat sempurna, cantik, baik, rajin. Idaman calon menantu, pikirnya.
"Kenapa harus buru-buru? Kuliah saja Dewi baru masuk, 'kan kalian bisa tunangan dulu. Tunggu sampai kamu usia 25, dan Dewi genap 20. Kamu izin menikah bukan cuma kepada kami, ada Doni selaku orang tua kandungnya. Kamu harus meminta restu itu kepadanya," jelas Andra.
"Iya, benar apa kata Daddy. Jadikan Dewi wanita paling spesial, tidak selancar jalan tol jika kamu mau menikahinya." Nala ikut mencela, dia pikir wanita itu barang? Bisa digapai dengan mudah. "Wi, kamu harus jual mahal, jangan mau begitu saja diajak nikah."
"Sekalinya bicara malah ngajak gelud," cetus Nathan, "tadi diam saja, kamu punya masalah apa sih? Tau soal cinta memangnya?"
Nala memilih diam, melawan pun percuma. Ia tidak bisa membalas perkataan pria arogan itu. Benar apa kata Nathan, apa ia mengerti soal cinta? Hidupnya sibuk mengurus orang bercerai.
"Sudah, jangan ribut!" tukas Rahayu, "jika kamu serius, minta restu sana pada papanya Dewi," ujarnya pada sang cucu, "dan untukmu, ajak Nathan menemui papamu. Bagaimana pun, dia perlu tau soal siapa yang akan menjadi suamimu," sambungnya pada Dewi.
"Iya, Bu." Dewi tertunduk malu. Sekalinya punya pacar malah diajak menikah, ia 'kan ingin tau seperti apa pacaran? Manis pahitnya ia harus tau dan bisa menghargai arti hubungan.
"Kalau menurut, Daddy. Kalian tunangan dulu," usul Andra.
"Iya, itu lebih baik untuk mengikat perasaan Dewi. Kamu tidak perlu khawatir, Dewi akan menikah denganmu." Ujar Nindya sembari menepuk bahu putranya, "temui calon mertuamu, dan mintalah restu darinya.
__ADS_1
* * *
Nathan merasa menang banyak, seharian ini ia menghabiskan waktu berdua dengan Dewi. Selepas mengajaknya jalan-jalan sambil menunggu kepulangan Doni dari kantor. Nathan tak lagi mengulur waktu, hari itu juga ia berangkat ke Jakarta untuk menemui papanya Dewi.
Tidak ingin mengganggu jam kerjanya, ia pergi bersama calon tunangannya. Memilih cincin yang pas untuknya bertunangan kelak. Setelah didapat apa yang diinginkan, Dewi pun menemui Doni di kediamannya.
Doni memberikan alamat rumahnya pada gadis itu, rumah yang terlihat megah. Ternyata Dewi keturunan orang kaya, ia tak menyangka akan hal itu.
"Nona Dewi, ya?" tanya security.
"Iya, kok, Babak tau?" tanya Dewi.
"Iya, saya sudah diberi tau sama tuan kalau Nona akan datang. Silakan masuk, Nona. Di dalam ada nyonya besar."
"Tidak ada siapa-siapa, kamu yakin ingin menunggunya di sini?" tanya Nathan. Dewi mengangguk, karena Doni sudah dalam perjalanan pulang. "Katanya ada nenek-mu, tapi kok gak ada," sambung Nathan.
Dewi mengangkat kedua bahu sebagai jawaban, ia memang belum menanyakan soal neneknya kepada ayahnya. Pria itu cuma bilang kalau ia masih memiliki nenek. Tak lama dari situ, suara mobil terdengar dari pekalangan rumah. Sepertinya, yang datang memang papanya Dewi.
"Mau kemana?" tanya Nathan melihat Dewi bangkit dari tempat duduknya. Dewi mengangkat tangan tanpa menoleh, ia mengintip dari jendela. Melihat Doni turun dari mobilnya.
__ADS_1
"Pa," sapa Dewi saat Doni muncul dari balik pintu.
"Maaf, Papa telat. Tadi banyak kerjaan yang harus diurus," terangnya. Doni pun melihat ke arah Nathan. "Siapa dia?" tanyanya.
Dewi meraih tangan Doni dan mengajaknya untuk lebih dekat dengan calon tunangannya.
"Kenalin, ini Nathan. Dia ca--"
"Oh, jadi dia yang sering menghinamu?" pungkas Doni.
"Maaf, Om. Itu dulu, kedatanganku kemari menemui Om untuk meminta restu," terang Nathan dengan gentle.
"Restu?" Doni mengernyit.
...----------------...
Yuhu ... Mampir lagi yuk di sini.
Judul : Kesandung Cinta Anak Bau Kencur
__ADS_1
By : Yanktie ino