
Ketika Andra keluar dari ruangan itu, Roy pun bangkit dari duduknya. Begitu pun dengan Adam yang masih setia di sana.
"Temuilah dia, aku sudah bukan lagi suaminya. Aku akan mengurus percerain dengannya," ucap Andra pada Adam. Meski ia belum cukup kenal secara dekat, tapi ia yakin bahwa Adam pria baik-baik.
"Terima kasih, Tuan," jawab Adam.
Roy menepuk bahu Adam. "Berjuanglah, dapatkan kembali cintamu." Seharian bersama Adam, Roy jadi tahu bagaimana kisah percintaan mereka sewaktu dulu, jauh di mana Aileen mengenal Andra. Sebetulnya, Aileen wanita yang tidak mudah bergaul. Adam sendiri tidak tahu apa penyebabnya sampai Aileen menjadi sedikit liar.
Entah karena Morano yang telah menikah dengan wanita yang seumuran dengannya atau hal lain yang menjadikannya seperti ini. Disaat cinta-cintanya dengan Adam, Morano malah menyuruh anaknya menikah dengan anak sahabatnya. Mungkin itu semuanya menjadikannya seperti sekarang. Kini, Adam harus kembali berjuang untuk mendapatkan cinta Aileen yang telah hilang padanya.
"Terima kasih, Roy," kata Adam.
* * *
Sementara di ruangan Aileen, Morano sibuk dengan ponselnya. Entah apa yang akan dilakukan oleh pria itu, hingga beberapa saat, Morano menghubungi seseorang.
"Beri dia pelajaran, bila perlu bunuh dia," ucap Morano pada sambungan itu.
Yang tadinya sedang melamun, Aileen tersadar saat ayahnya mengucapkan kata 'bunuh.'
"Siapa yang akan Papa celakai?" tanya Aileen. Ia tahu seperti apa papanya itu, ia takut sang papa mencelakai keluarga Andra apa lagi dengan Andra sendiri.
"Kamu tidak perlu tahu, yang jelas Papa sakit hati oleh keluarga suamimu itu." Lebih tepatnya mantan suami, meski memang belum resmi bercerai.
Tidak! Aileen tidak ingin sesuatu terjadi pada pria itu, meski cintanya tak terbalas setidaknya pria itu pernah menjadi suaminya.
"Papa tidak boleh mencelakai Andra, dia tidak salah sama sekali. Aku yang salah di sini, Pa!" Untuk memastikan tidak terjadi sesuatu pada Andra, Aileen melepas jarum infus yang masih
__ADS_1
menempel di punggung tangannya. Ia mencabutnya secara kasar, sampai ia sedikit meringis.
Ia yakin kalau Andra masih berada di luar, ia juga tahu kalau papa-nya selalu dikawal oleh anak buahnya. Takut terjadi sesuatu pada pria itu, ia segera pergi dan berlari menuju luar rumah sakit. Ia tak mempedulikan kondisinya yang terasa lemah karena terlalu banyak beban yang ia pikul dalam hidupnya.
Adam yang berada di luar ruanganya pun melihat kekasih hatinya yang berlari tanpa tahu arah tujuannya. Ia hanya bisa mengejar wanita itu dari belakang. Sampailah Aileen di luar sana, tatapannya menjumpai Andra dan orang tuanya yang hendak menaiki kendaraannya.
Dan di sebrang sana, ia melihat pria berpakaian warna hitam serta penutup wajah berjalan dengan tergesa. Dan ia yakini bahwa pria itu adalah orang suruhan papanya. Membawa senjata tajam yang disembunyikan di belakang tubuhnya, kini ia tahu tujuan pria itu.
Aileen semakin panik, ia berlari menuju ke arah Andra untuk menghadang rencana pria itu. Pria misterius itu semakin mendekat ke arah Andra. Hingga sampailah orang itu tepat di belakangnya, pria itu meraih bahu Andra dan membalikkan tubuhnya.
Saat tubuh itu terbalik, pria yang berbaju hitam itu langsung menusukkan benda tajam yang ia bawa.
Jleb, benda tajam itu mendarat dengan sempurna di bagian perut. Sampai yang tertusuk pun langsung meringis dan mengaduh.
"Aileen ... " Teriak Adam sambil berlari ke arah wanita itu.
"Aileen, Aileen ..." Andra menepuk pipi wanita itu.
Aileen berlumur darah di bagian perut. Hanya ini yang bisa ia lakukan untuk orang yang di cintainya. Aileen ambruk saat itu juga, ia langsung tak sadarkan diri karena darah itu mengucur dengan hebatnya.
Adam yang melihat langsung berlari dan mengambil alih Aileen, ia membawa wanita itu masuk kembali ke rumah sakit.
Antara percaya dan tidak, Andra masih mematung di sana. Anye dan Wiliam yang melihatnya langsung menghampiri putranya itu.
"Kamu tidak apa-apakan?" tanya Anye.
"Aileen, Mom. Dia-," ucapnya menggantung.
__ADS_1
"Ini tidak aman, sabaiknya kita pulang," ajak Wiliam.
"Ta-tapi, Aileen?" kata Andra.
"Dia akan baik-baik saja, pulang sekarang. Orang tadi berniat mencelakaimu." Wiliam langsung menarik tangan anaknya untuk segera masuk ke dalam mobil. Ia juga tak ingin wartawan keburu datang, dan benar saja, beberapa wartawan datang karena memang kebetulan berada di rumah sakit sedang mencari informasi, entah tentang apa ia tak tahu.
* * *
"Ke apartemen," ucap Anye pada supir setelah semua berada di dalam mobil tersebut.
"Apartemen? Untuk apa kita ke apartemen?" tanya Wiliam.
"Kita masih ada urusan di sana," jawab Anye.
Andra yang duduk di kursi depan tak lagi bersuara, ia masih membayangkan kajadian barusan. Bahkan baju yang ia kenakan pun terkena darah wanita itu.
Wiliam tak lagi banyak bertanya, untuk saat ini ia menuruti apa kata istrinya. Mobil pun melaju menuju apartemen.
Sementara di apartemen, Nindya berada di sana seorang diri. Ia tengah menunggu suaminya kembali, entah kenapa perasaannya mendadak tidak enak. Karena jenuh, ia pun menyalakan televisi. Tidak ada film yang menarik, sampai ia terus mengganti chanel.
Di televisi tersebut menayangkan sebuah berita, berita di mana sebuah kecelakaan yang sangat begitu tragis. Di mana ada korban penusukkan di depan rumah sakit, korban sudah dilarikan ke rumah sakit hingga tak ada penayangan korban.
Nindya melihat sepintas mobil di sana, dan ia hapal betul mobil tersebut. Sampai ia berpikir bahwa sesuatu terjadi pada pemilik mobil itu.
Tak berselang lama, pintu apartemennya terbuka. Nindya segera bangkit dari posisinya dan langsung menuju ke arah pintu. Betapa terkejutnya ketika ia melihat suaminya yang berlumur darah. Takut terjadi sesuatu, ia langsung berlari dan memeluk suaminya.
Nindya masih belum menyadari akan keberadaan Anye dan Wiliam di sana. Wiliam nampak terkejut ketika melihat seorang wanita merangkul putranya terlebih ia mengenal siapa wanita itu.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan? Kenapa menyambutnya dengan sebuah pelukkan?"