Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 89


__ADS_3

"Ada apa denganmu? Aku tidak pernah melihatmu menangis sebelumnya." Hanya satu wanita yang pernah membuat Roy menangis, yaitu kekasihnya yang terdahulu. Dulu, Roy menceritakan semua tentang kisah hidupnya dengan kekasihnya. Hingga Andra berpikir, apa wanita itu kekasihnya?


"Apa dia kekasihmu dulu?" tanya Andra.


Tak dapat disembunyikan, Roy pun mengangguk.


"Dia hamil oleh papanya," kata Roy.


"Apa? Apa ini yang membuatnya bunuh diri?" tanya Andra.


Roy jadi teringat akan percakapannya dengan Laura malam tadi.


"Maafkan aku, Roy. Maaf sudah menyakitimu," lirih Laura, gadis itu menggengam tangan Roy. Tak ada lagi kesempatan untuknya bisa kembali seperti ini. Inilah hari terakhir untuknya bersama orang yang sangat dicintainya.


"Bolehkah aku memelukmu untuk yang terakhir kali?" pinta Laura.


Tanpa menjawab, Roy menarik wanita itu ke dalam pelukkannya. Ia ikut menangis karena Laura pun sedang menangis.


"Menangislah jika itu bisa membuatmu lega." Ucap Roy sambil mengusap lembut punggung wanita itu. Ia dapat merasakan apa yang dirasakan Laura.

__ADS_1


Belum menikah tapi sudah hamil, tentu akan jadi beban dalam hidupnya. Terlebih dengan orang yang sudah menghamilinya, orang yang sudah ia anggap orang tuanya sendiri. Laura diperkosa oleh papa tirinya hingga kini ia tengah hamil.


Setelah merasa tenang, Laura melepas pelukkannya. Lalu menatap wajah Roy begitu lama.


"Mungkin ini yang terakhir aku melihatmu, aku akan pergi jauh hingga tak ada orang yang bisa menemuiku. Aku ingin terlepas dari semua ini, Roy," jelas Laura.


"Kamu lapor polisi saja, Ra. Aku pasti membantumu," kata Roy.


"Sudah terlambat, Roy. Tidak ada yang percaya padaku termasuk mamaku, aku hanya ingin hidup tenang," jelasnya lagi.


Itulah kata-kata terakhir yang diucapkan Laura, hidup tenang yang dimaksudnya ternyata adalah mengakhiri hidupnya.


Yang membuat Roy terasa sesak, ia tak memenuhi keinginan Laura yang terakhir kali. Di mana ia meminta keluar dari rumah sakit hanya untuk melihat bintang malam itu. Roy tidak memenuhinya karena rumah sakit ini adalah rumah sakit di mana istrinya bekerja. Ia takut ada orang yang memberitahukan soal ini pada istrinya.


Karena keduanya adalah wanita yang sama-sama ia cintainya.


Selamat jalan, Ra. Semoga kamu bahagia di sana, maafkan aku yang tak bisa menuruti permintaan terakhirmu. Roy memejamkan mata sejenak, lalu menghapus air matanya.


"Lupakan semua yang sudah terjadi antara kamu dan Laura, hidup bahagialah bersama Elena," ucap Andra. Setelah mengatakan itu, Andra menyusul Wiliam karena harus mengurus pemakaman Laura.

__ADS_1


.


.


.


Pemakaman Laura selesai, semua orang sudah meninggalkan pemakaman tersebut. Hanya tinggal Roy seorang diri di sana. Tidak bisa dipungkiri, setelah bertemu kembali, perasaan yang sudah ia kubur dalam-dalam sesaat hadir.


Cinta pertama yang nampak berkesan itu sirna setelah Laura pergi meninggalkannya. Lalu dipertemukan dalam kondisi yang sudah berbeda, Roy sudah menikah, dan Laura hamil. Dan kini, Roy benar-benar kehilangan Laura untuk selama-lamanya.


"Aku tidak menyangka kalau kamu akan meninggalkanku untuk selama-lamanya. Semoga kamu tenang di sana, kenangan manis kita akan selalu aku kenang," tutur Roy tanpa tahu bahwa ada Elena yang ikut ke pemakaman.


Roy pun berdiri hendak meninggalkan pusara Laura, saat membalikkan tubuhnya dan hendak berjalan, tiba-tiba langkahnya terhenti karena ia melihat sosok yang sangat ia kenal.


Elena berwajah sendu, ini sudah ia pastikan bahwa ternyata suaminya masih mencintai kekasihnya. Yang ia pikirkan sekarang, apa Roy akan tetap seperti Roy yang ia kenal? Ia rasa setelah kejadian ini perubahan itu pasti ada. Buktinya, semalam saja Roy berubah. Pria itu dingin padanya, untuk sekedar tidur saja, Roy enggan melihat kearahnya.


Dan itu berlaku pada perasaannya, bahkan Roy semalam tertidur dalam keadaan memeluknya bukan?


Elena tak bersuara, ia malah membalikan tubuhnya dan segera pergi dari sana. Roy segera menyusulnya karena ia mengira kalau istrinya pasti kecewa padanya. Berkata sudah tidak peduli pada Laura, nyatanya ia masih peduli hingga ia mengantarkan jasad Laura ke tempat perisirahatannya.

__ADS_1


__ADS_2