Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 97


__ADS_3

Hari mulai berubah, sedikit demi sedikit mentari mulai muncul dan menyinari bumi. Sejak Rakhsa lahir, Adam tak meninggalkanya sedetik pun. Bahkan ia sekarang tengah tertidur di kursi di dekat inkubator anaknya.


Elena pun berkata dan menyuruhnya untuk istirahat, tapi Adam tetap dan tak ingin meninggalkan putranya yang baru saja lahir beberapa jam lalu. Pria itu masih tertidur pulas. Tak lama, Elena dan Roy pun menghampiri.


Mereka membangunkan Adam, Elena ingin memberitahukan bahwa Aileen sudah dibawa pergi dengan paksa oleh Morano. Seketika, Adam terbangun dari tidurnya. Ia mengucek kedua mata yang masih terasa perih.


"Sudah pagi rupanya," ucap Adam.


Elena sedikit ragu untuk mengatakan yang sebenarnya tentang Aileen, tapi mau tak mau ia harus tetap mengatakannya. Elena dan Roy saling pandang. Roy menganggukkan kepala sebagai isyarat kalau ia menyuruh istrinya untuk segera mengatakannya.


"Ada apa?" tanya Adam, ia bingung melihat pasangan suami istri itu karena dari tadi saling lempar pandang.


"Sabar ya, aku yakin suatu saat kalian pasti bisa bersatu kembali," tutur Elena, ia menjeda ucapannya karena takut Adam akan semakin terluka atas kepergian istrinya yang dibawa oleh Morano.


"Ada apa? Apa ini ada sangkutannya dengan Aileen? Apa Morano sudah membawa istriku pergi?" Adam tak kuasa menahan sesak di dada, baru saja ia akan hidup bahagia bersama keluarga kecilnya. Apa lagi setelah darah dagingnya terlahir ke dunia. Adam menarik nafas dalam-dalam menghembuskannya secara perlahan sambil melihat ke arah inkubator, ada bayi mungil yang terlihat masih merah di sana.


Tak kuasa, air matanya luruh begitu saja tak terbendung. Memikirkan nasib anaknya yang akan hidup tanpa sosok ibu, Adam tak mau ambil resiko. Cukup Aileen yang dibawa pergi oleh Morano. Adam mengusap pipinya yang basah, ia harus kuat menghadapi hidup yang pasti sulit ia jalani. Meski tanpa istri, ia harus bisa mengurus bayinya.


Elena dan Roy ikut mengharu, ia juga tengah merasakan karena istrinya tengah hamil. Apa yang dialami Adam, belum tentu Roy bisa menjalani ini semua. Kehilangan Laura saja ia sudah cukup terpukul, apa lagi kehilangan istri yang dicintai. Beruntung, ia masih diberi kepercayaan oleh istrinya.


* * *


Di kantor.


Andra yang mendengar kabar tentang Adam ikut prihatin. Untung ia sudah bercerai dengan Aileen, kalau tidak, ia malas berurusan dengan orang seperti Morano.


Andra juga mengerti akan tidak hadirnya Adam di perusahaan, bila perlu ia akan membantunya agar tak lagi di pandang sebelah mata oleh mertuanya itu.


"Roy, kamu kerjakan ini. Kalau sudah selelai tolong foto copy," titah Andra. Roy mengangguk, ia hanya menerima perintah. Ia mengerjakan pekerjaan Adam.


Sedangkan Adam, ia masih di rumah om bagas bersama Elena.

__ADS_1


"El, sampai kapan anakku berada di inkubator?" tanya Adam.


"Mungkin sekitar 2 sampai 3 minggu," jawab Elena.


"Terima kasih sudah banyak membantuku selama ini, kalau tidak ada kalian mungkin aku sudah berpisah dari dulu dengan istriku, bahkan dengan anakku," tutur Adam.


"Jangan merasa tidak enak seperti itu, aku sudah menganggapmu sebagai keluarga," kata Elena.


* * *


Waktu sudah menunjukkan jam pulang kantor, Andra dan Roy pun akhirnya berpisah. Mereka pulang ke rumah masing-masing.


Kepulangan Andra disambut oleh sang istri tercinta, Nindya mengambil alih tas yang dibawa suaminya. Tak lupa, Andra mencium kening istrinya.


Dari kejauhan, nampak Halim di sana. Ia tersenyum saat melihat anak dan menantunya hidup rukun dan harmonis. Nindya yang menyadari akan keberadaan sang ayah pun tersipu malu, wajahnya memerah bak tomat yang sudah matang.


Tak berselang lama, si kembar datang menghampiri. Mereka pun cukup dekat dengan sang kakak ipar. Bahkan Panji menagih janji dari Andra, menagih sebuah mainan yang keluaran terbaru, yakni sebuah mobil-mobilan.


"Kamu jangan terlalu memanjakan kedua adikku," kata Nindya saat suaminya memberikan mainan yang diinginkan Panji, tak lupa juga membelikan sebuah boneka barbie untuk Nisa.


"Tinggal 2 bulan lagi, sabar saja," kata Nindya, "oh iya, bagaimana dengan Adam?" Nindya sendiri sudah mendengar kabar itu dari Anye.


Wiliam sangat bersyukur sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan Morano, bahkan ia sudah mencabut saham yang bergabung dengan perusahaan pria kejam itu. Wiliam tak habis pikir dengannya, ia sendiri juga sempat gila hormat dan martabat.Tapi setelah Nindya jadi menantunya, ia tak lagi memandang orang dari status-nya.


Semua terasa indah jika kita menerima takdir dengan ikhlas.


"Terima kasih Kakak ipar." Panji antusias ketika mendapatkan hadiah dari Andra.


"Punyaku mana?" Kini Nisa datang menagih.


"Ini, Kakak tidak mungkin lupa dengan adik yang sangat menggemaskan ini." Andra mencubit pipi gembul Nisa.

__ADS_1


Lalu, Panji dan Nisa pergi karena sudah mendapatkan mainan itu.


"Mas, lain kali jangan memanjakan mereka lagi ya? Aku dan Ibu mengajarkan mereka mandiri sejak dini," kata Nindya.


"Iya, ini yang terakhir. 'Kan sudah ada Ayah, mereka pasti manja padanya."


"Sebaiknya kamu mandi dulu," titah Nindya pada Andra.


"Mandi bareng yuk? Sudah lama loh kita tidak--." Ucap Andra terputus karena Nindya membekap mulutnya dengan tangannya. Bukannya apa-apa, Nindya merasa malu jika di dengar yang lain akan ajakan absurd suaminya.


Nindya memang belum mandi, ia putuskan untuk mandi bersama. Perutnya sudah semakin membesar, ia sudah tak lagi bisa menjangkau bagian tubuh belakangnya.


Aktivitas di kamar mandi terus berlanjut sambil berolah raga. Tubuh yang semakin berisi memberi kepuasan tersendiri bagi Andra, semakin semok semakin nikmat menurutnya.


Sesi percintaan pun selesai, Andra tak lagi berani mengucapkan perubahan pada tubuh istrinya. Mau gendut sekalipun ia tetap mencintainya.


"Bentar lagi lahiran, aku mau puas-puasin deh tidur sama kamu. Setelah lahiran nanti, aku pasti puasa. Boleh ya kita melakukannya lagi?" pinta Andra memelas, "kamu cukup diam dan menikmati permainanku saja, ya?" pintanya lagi.


Mau tak mau, Nindya mengangguk pasrah. Apa kata suaminya ada benarnya, ia akan melahirkan dan setelah itu pasti tak bisa melayani suaminya dalam waktu yang menurutnya cukup lama.


"Yes." Andra girang tiada tara.


Pertempurannya amat terasa lelah, Andra benar-benar seperti orang kesurupan. Ia mencapai puncaknya sampai beberapa kali.


"Mas, aku haus. Ambilkan minum," pinta Nindya


"Sebentar." Andra menarik napas karena ia merasa lelah, "kakiku lemas sekali, beri aku waktu sebentar lagi," pintanya.


"Siapa suruh seperti ini, kaya gak akan nemu lagi aja," rutuk Nindya, "ayo dong, 'kan aku juga lelah," tutur istrinya.


"Lelah dari mananya? 'Kan aku yang kerja, kamu tinggal mengacungkan kaki saja," dengan enteng Andra berucap.

__ADS_1


"Kamu pikir aku tidak lelah, hah? Ada anakmu di sini." Nindya marah karena suaminya mengira dirinya tidak lelah.


"Iya-iya, aku ambil minum." Dengan cepat Andra memakai boxer dengan asal, tanpa ia tahu kalau celana yang ia kenakan dalam keadaan terbalik.


__ADS_2