Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 101


__ADS_3

Semua sudah berkumpul di lantai atas, bahkan si kembar sudah dipangku oleh Elena. Wanita itu sungguh sangat gemas kepada Nathan dan Nala, ia jadi tidak sabar menantikan kehadiran calon anaknya.


"Kamu kenapa, Roy? Tidak suka sama bayi, ya?" tanya Nindya.


Roy menggelengkan kepala sebagai jawaban.


"Lalu kenapa diam di pojokkan?" tanya Nindya lagi.


Roy melirik ke arah istrinya, ia takut kena omel atau malah kena cubitan lagi. Lebih baik Roy sedikit menjauh dari istrinya itu dari pada kena sasaran.


"Ngadem aja di sini," elaknya. Roy duduk di kursi pojok yang terdapat jendela di sisinya.


Sedangkan Elena menatap tajam ke arah suaminya, bumil itu tahu kalau suaminya tengah menghindarinya.


"Bagaimana? Masih suka mual?" tanya Nindya pada Elena.


"Mual kalau lihat dia." Jawabnya sambil menunjuk ke arah Roy menggunakan wajahnya.


Roy menggaruk kepalanya yang tidak gatal saat mendengar penuturan istrinya. Sepertinya aku selalu salah, nasib-nasib. Roy mendengus kesal.


Andra yang mendengar langsung terbahak. "Kamu jelek kali, Roy. Makanya istrimu mual saat melihatmu." Andra kembali tertawa terpingkal-pingkal.


"Seneng banget lihat aku menderita," ujar Roy. Roy sering curhat mengenai sikap istrinya pada sang bos.


"Istri itu disayang dong, Roy. Kamu harus extra sabar menghadapi bumil," timpal Adam.


"Nah, ini yang bener," sahut Elena, "dia gak pengertian sepertimu, Dam. Makanya aku sering kesel," gerutu Elena.


"Aku suka buat kesel dari mananya, sayang?" tanya Roy pada istrinya.


"Tuh, nanya aja wajahnya terlihat kesal seperti itu," tutur Elena.


Haduh ... Salah lagi 'kan? Roy pun akhirnya beranjak mendekati istrinya dan duduk di sampingnya. "Udah dong, jangan suudzon terus sama aku. Aku kurang apa sih biar gak kena marah terus?" Roy benar-benar pasrah, apa yang dilakukannya selalu salah.


"Sabar, Roy. Istriku juga kadang seperti itu," bisik Andra.


"Ngomongin aku?" tuduh Nindya.


"Ng-gak." Elak Andra sambil menggelengkan kepala, "bener 'kan?" bisiknya lagi pada Roy.

__ADS_1


"Ehem." Nindya berkacak pinggang sambil mendelik ke arah suaminya, bibirnya pun ikut manyun.


"Aku pergi saja Roy, takut kena amuk macan betina," pamit Andra berbisik di telinga Roy, "sayang, aku ke ruang kerjaku dulu ya?" ucapnya pada Nindya, ia mengecup kening istrinya sebelum pergi.


"Aku juga," sahut Adam, "Roy, aku titip Akhsa sebentar ya? Ada urusan sama si Bos." Adam menyusul Andra ke ruang kerja.


Sial, kenapa aku malah ditinggal. Tidak ada pilihan selain ia mengajak Akhsa, balita kecil itu tengah menatapnya. "Akhsa kalau sudah besar nanti jangan nikah dulu sebelum tahu karakter calon istrinya ya?" ucap Roy pada bayi yang tidak tahu apa katanya itu.


"Apa maksudmu bicara seperti itu? Nyesel nikah sama aku, hah?" Elena benar-benar berada dalam mood yang tidak bagus.


"G-gak!" elak Roy. Ia menepuk keningnya sendiri. Salah lagi jadinya. "Aku susul Adam saja kalau begitu." Roy buru-buru pergi menemui sahabatnya dari pada berada di sana malah menjadi bulan-bulan istrinya.


Setelah kepergian Roy, Nindya dan dokter Elena pun berbincang.


"Dok, kesal ya sama suami?" tanya Nindya.


"Ya, begitu. Kadang gak masuk diakal," tutur Elena. Mereka terus berbincang, mengobrol santai mengenai rumah tangga yang mereka jalani.


* * *


Di ruang kerja Andra.


Adam pun mendudukkan diri di sofa.


"Bagaimana? Apa kamu sudah tahu di mana keberadaan Aileen?" tanya Andra.


Adam menggelengkan kepala sebagai jawaban, Aileen seperti ditelan bumi. Tidak ada titik terang akan keberadaan wanita itu.


"Lantas? Apa kamu akan terus hidup seperti ini? Akhsa butuh sosok figur mama, perlu aku carikan istri untukmu?" tawar Andra, "setidaknya kamu cari pengasuh untuk anakmu, kamu tidak bisa bekerja terus secara online." Bukannya Andra tidak mengerti akan situasi ini, tapi ia butuh pekerja yang bisa membantu Roy saat dia sedang sibuk. Bahkan harus bertemu secara langsung dengan clien.


"Aku tidak bisa, Tuan. Aku berhenti saja, Tuan bisa mencari orang untuk menggantikanku," kata Adam.


Bukan jawaban ini yang diinginkan Andra, malah ia berharap pria itu bersedia dengan adanya baby siter untuk mengasuh Aksha.


"Perlu aku yang harus carikan baby siter untuk anakmu? Nindya punya saudara yang bisa membantumu untuk mengasuh Aksha. Dia bisa dipercaya, Dam. Kamu kenal istriku seperti apa baiknya selama ini, aku harap kamu pikirkan ini baik-baik. Akha masih butuh pengobatan 'kan?"


Adam sedikit berpikir, apa kata tuannya benar. Kalau ia berhenti bagaimana pengobatan Akhsa? Butuh biaya banyak untuk pemulihan anaknya. Lahir secara prematur ada sedikit kendala yang sudah diterangkan dokter padanya. Akhsa sering sakit-sakitan, pikirnya.


"Aku mau kenal dulu kalau begitu," ucap Adam.

__ADS_1


Andra tersenyum, "baik, besok kamu bisa bertemu dengannya."


Tak lama, Roy pun masuk ke ruangan itu. Adam dan Andra langsung menoleh.


"Apa anakku rewel?" tanya Adam.


"Tidak, kedua wanita itu yang rewel," jawab Roy.


Andra dan Adam menertawakan nasib Roy.


"Tidak usah menertawakanku, hidupku tidak susah-susah amat," celetuk Roy.


"Sensi banget sih, Roy," kata Andra.


"Tadi ku dengar, Adam akan memakai jasa baby siter ya?" tanya Roy.


"Iya, aku sarankan saudara istriku yang akan menjadi baby siter-Nya," sahut Andra.


"Jangan sampai tumbuh cinta ya, Dam," ledek Roy.


Ini memang sudah direncanakan oleh Roy dan Andra tanpa sepengetahuannya, karena Roy mengeluh ia terlalu sibuk dalam bekerja. Apa lagi dengan sikap istrinya yang terkadang tidak mengerti akan posisinya di kantor.


"Ini bukan perjodohan 'kan?" duga Adam. Karena Roy selalu menyuruhnya mencari pengganti Aileen yang bisa menjadi sosok ibu untuk Akhsa.


"Tidak, hanya aku sarankan kamu jangan sampai jatuh hati pada baby siter-mu sendiri." Roy sudah tahu bagaimana wanita yang akan menjadi pengasuh Akhsa.


"Jangan memancing Adam, bisa-bisa nanti dia berubah pikiran. Apa kamu mau selamanya sibuk sendiri di kantor?" tanya Andra.


Roy langsung menutup mulutnya rapat-rapat, tentu ia tak ingin kerepotan seorang diri.


"Kalau kamu masih beranggapan aku akan tertarik pada pengasuh itu, lebih baik tidak usah. Aku urus Aksha sendiri, dan kamu akan terus kerepotan karena tidak ada aku," cetus Adam. Adam berkata seperti itu untuk menakut-nakutinya, dan sepertinya itu berhasil. Roy langsung beranjak dari tempatnya.


"Mau kemana?" tanya Andra.


"Tidak di sini, tidak di sana. Semua orang memojokkanku," oceh Roy. Roy langsung pergi setelah menyerahkan Aksha kepada papanya.


"Ceritanya marah?" teriak Adam.


Roy hanya melambaikan tangan sebagai jawaban, bahkan ia sama sekali tak menoleh, ia terus saja berjalan menuju untuk segera keluar. Dirinya ingin mencari ketenangan. Tidak istri, tidak sahabat. Semuanya membuatnya kesal.

__ADS_1


__ADS_2