
Nindya terus mondar-mandir di dalam rumahnya, ia merasa kasihan pada Hanum. Apa lagi dengan luka lebam di wajahnya akibat pukulan orang tadi. Tanpa berpikir lama, Nindya kembali ke rumah Hanum.
"Mau ke mana?" tanya Rahayu pada anaknya.
Nindya menghampiri ibunya sebelum pergi menemui Hanum. "Bu, aku ke rumah Hanum sebentar ya, mau memberikan obat untuknya kasihan dia, kalau Mas Andra nanyain aku bilang saja aku ke rumah Hanum. Aku kasihan sama dia, siapa tahi dia mau cerita kalau hanya berdua."
"Iya, coba kamu bantu dia, siapa tahi dia terbuka sama kamu."
"Iya, Bu. Aku pamit." Nindya pergi ke rumah Hanum, karena rumahnya dekat cuma jalan yang menjadi pembatas rumah mereka jadi tak membutuhkan waktu lama ia pun sampai.
"Permisi," ucap Nindya.
Hanum pun keluar. "Mau beli rujak lagi?" tanya Hanum.
"Tidak, tapi boleh aku masuk? Wajahmu belum diobati, ini aku bawa obat untuk lukamu." Nindya memperlihatkan kotak obat yang ia bawa. Nindya yakin kalau Hanum pasti tidak memiliki obat-obatan di rumahnya.
Hanum tidak mengizinkan karena ia tidak mau merepotkan orang lain. Ia juga merasa kalau keluarga pak Halim memang baik padanya, berbeda dengan warga yang lain yang selalu menggosipkannya.
"Aku tidak mungkin membiarkanmu seperti ini, aku tidak akan jahat padamu." Nindya membujuk Hanum agar mengizinkannya masuk ke dalam rumahnya.
Lalu, Hanum memberi jalan untuk Nindya. "Silakan." Hanum menggeserkan tubuhnya agar Nindya bisa masuk.
Nindya melihat seisi rumah Hanum, sangat sederhana sekali keadaan di sana. Tidak ada apa-apa, hanya ada kursi tua di sana. Alas tidur pun hanya sebuah tikar yang tergelar di dalam kamar, tidak ada pintu atau gorden yang menutupi kamar itu sehingga Nindya bisa melihatnya secara langsung.
"Sudah lama tinggal di sini?" tanya Nindya, tinggal di kota membuatnya tidak tahu ada warga baru di kampung halamannya.
"Sudah tiga bulan." Jawab Hanum sambil menyentuh perutnya.
Nindya melihat saat Hanum menyentuh perutnya. "Kamu lapar?" tanyanya menduga-duga.
Hanum menggeleng, tiba-tiba saja matanya mulai menggenang dengan air mata. Ia tak bisa menahan kepedihannya karena ia tengah hamil.
"Terus kenapa?" tanya Nindya karena penasaran. Hanum diam tak bergeming. "Ya sudah, tidak apa-apa kalau memang tidak mau bicara. Tapi obati lukamu ya, aku takut itu infeksi." Nindya mengeluarkan alkohol untuk membersihkan luka akibat pukulan wanita tadi.
"Biar aku sendiri saja." Hanum mengambil kapas sama alkohol di tangan Nindya, "terima kasih sudah baik padaku."
"Iya, sama-sama. Berapa usiamu?" tanya Nindya karena Hanum terlihat lebih muda darinya.
"22," jawabnya.
"Kita beda 3 tahun, aku 25. Anakku juga ada 2, mereka kembar. Dan sekarang lagi hamil anak ke 3," jelas Nindya.
Mendengar penuturan Nindya membuat Hanum mulai bersuara tentang hidupnya. Tak ada yang tahu kalau ia tengah hamil.
__ADS_1
"Aku juga hamil, Mbak," tutur Hanum pelan.
"Hamil? Bukannya kamu belum menikah?" Nindya terkejut mendengar penuturan Hanum.
"Semua orang memang tidak tahu kalau sudah menikah, makanya mereka bergosip tentangku yang tidak-tidak."
"Lalu di mana suamimu?"
"Tidak tahu, setelah menikah dia pergi tanpa kabar. Kami menikah tanpa ada yang tahu, karena keluargaku tidak merestui hubungan kami."
"Jadi, kalian kawin lari?" Hanum mengangguk, tapi sekarang dia tidak tahu di mana suaminya, ia datang kemari untuk mencarinya katanya suaminya Hanum mengaku orang sini.
"Berapa usia kandunganmu?" tanya Nindya.
"Baru dua minggu, Mbak. Aku bingung harus apa, tidak tahu juga harus mencarinya kemana lagi."
"Siapa nama suamimu?" tanya Nindya.
"Doni, katanya orang sini. Tapi setelah aku coba cari tidak ada yang namanya Doni di sini."
"Warga bilang, kamu suka keluyuran malam-malam. Itu, kamu ngapain?"
"Mencari Doni, dulu kami bertemu di club daerah sini. Setiap club aku datangi, tapi tak pernah ketemu. Mungkin warga tahu aku wanita nakal dari situ, sering keluyuran malam masuk club sana sini," jelasnya.
"Tidak ada yang percaya, semua orang menganggapku wanita hina. Apa lagi kalau sampai mereka tahu aku hamil, mereka pasti semakin menghinaku."
Sambil berbincang, Hanum pun sambil mengobati lukanya.
"Aku turut prihatin tentang keadaanmu, jangan sungkan untuk meminta bantuan pada ibuku ya, dia baik kok. Besok aku harus kembali ke kota, aku yakin kamu bisa melewati masalah ini." Ucap Nindya sambil merangkul Hanum.
"Terima kasih sudah baik, aku cuma mau berpesan, kalau ada yang namanya Doni bisa kabari aku."
"Ada potonya? Mungkin dengan itu aku bisa tahu siapa suamimu."
Hanum beranjak dari tempat duduknya, pergi ke kamar untuk mengambil poto dan setelah itu kembali lalu menunjukkannya kepada Nindya. "Ini, Mbak." Hanum memperlihatkan poto itu padan Nindya.
"Ok, aku coba hubungi kamu kalau melihat orang ini. Jangan sungkan-sungkan sama ibuku ya, aku pulang dulu," pamit Nindya.
"Iya, Mbak. Sekali lagi terima kasih."
* * *
Nindya kembali ke rumahnya, saat masuk suaminya langsung bertanya. "Abis dari mana? Nala mencarimu?"
__ADS_1
"Dari rumah Hanum," jawab Nindya.
"Ngapain?"
"Memberikan obat untuknya. Nathan belum pulang?"
"Belum, dia ikut sama Panji. Katanya main ke rumah temannya," jelas Andra.
"Sudah sore, Mas. Kamu cari dia gih, aku khawatir. Besok 'kan harus pulang. Mommy sama daddy pasti senang dapat kabar kalau mereka akan memiliki cucu lagi," terang Nindya.
Andra mau Nindya belum menceritakan soal kehamilan keduanya pada mereka, karena mereka akan memberi kejutan saat hari annivarsary Wilian dan Anye.
"Ya sudah, aku cari mereka," pamit Andra.
Setelah kepergian Andra, Nala dan Rahayu datang menghampiri Nindya.
"Mommy abis dari mana?" tanya Nala. Meski Nala kerak kena omel dari sang mommy itu tak membuatnya kesal, ia tetap bermanja pada mommy-nya.
"Abis ke rumah tante Hanum," jawab Nindya.
"Apa dia terbuka padamu?" tanya Rahayu.
"Iya, Bu. Aku jadi kasihan sama dia, Ibu tolongin dia ya? Dia juga lagi hamil, usia kandungannya sama sepertiku."
Rahayu mengerutkan kening karena bingung, setahunya Hanum belum menikah, tapi kenapa hamil? Apa gosip yang beredar tentangnya itu benar? Pikirnya.
"Ibu jangan berpikir buruk tentangnya, dia sudah menikah tapi suaminya pergi meninggalkannya," jelas Nindya pada ibunya.
"Kasihan sekali, apa keluarganya tidak ikut mencari suaminya?"
"Dia kawin lari, Bu. Hubungannya tidak mendapatkan restu, soal itu aku gak tahu kenapa orang tuanya sampai tidak merestuinya."
Obrolan mereka terhenti, karena Andra pulang bersama Panji dan Nathan dalam keadaan menangis.
"Nathan kenapa?" tanya Rahayu.
"Tidak mau pulang, dia betah sama teman-temannya," jawab Andra.
"Mommy, Daddy galak. Dia memarahiku karena aku masih main." Nathan menangis sambil memeluk Nindya.
"Daddy bukan memarahimu, ini sudah sore kalau main tuh ingat waktu," oceh Andra.
"Ini karena Panji, Bu, jangan biarkan Panji main tanpa ingat waktu. Nanti kebiasaan dia tidak betah di rumah," ucap Nindya pada ibunya. "Mending, sekarang kamu mandi," suruhnya pada Nathan, "besok kita akan pulang."
__ADS_1
Nathan pun nurut pada sang mommy, ia langsung pergi ke kamar mandi bersama Panji.