
Setelah pelukkan itu terlepas, Nathan langsung meraih tangan itu. Tangan yang terasa panas dirasakan oleh Dewi. Seketika, gadis itu menjadi cemas. Apa penyebabnya sakit memang karenanya? Tapi mengapa? Ia sendiri merasa tidak pernah melakukan apa-apa.
"Masih mau diam? Apa perlu aku yang mengatakannya pada Dewi?" kata Dewa kepada kakaknya. Adik lelakinya itu geram sendiri, memiliki kakak yang begitu pengecut.
"Dewa," protes sang mommy.
"Kenapa? Apa aku salah bicara seperti itu? Lelaki macam apa kamu ini!" sungutnya kesal kepada kakaknya.
"Sebaiknya kita keluar, biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka." Nindya menarik lengan Dewa agar keluar bersamanya.
Masalah? Masalah apa? Aku merasa tidak punya masalah dengannya. Kenapa mereka pergi meninggalkan-ku bersama lelaki ini?
Kini menyisakan Nathan dan Dewi di kamar itu. Dewi menjadi gugup saat Nathan mendekatkan diri kepadanya. Tubuhnya bergetar karena menahan beban tubuh yang terasa lemas. Sejak hari kemarin, dirinya tak berselera makan. Bagian hidupnya hilang.
Melihat kaki yang bergetar, Dewi menjadi iba. Lalu ia mengajak Nathan untuk duduk. Mereka berdua duduk di tepi tempat tidur milik orang tuanya Nathan. Pria itu menggenggam tangan Dewi, sontak, Dewi pun langsung mengarahkan pandangannya ke arah tangannya.
"Aku tidak tahu harus berapa kali aku meminta maaf padamu agar kamu bisa memaafkan-ku. Aku sangat menyesal, Dewi," lirih Nathan.
Dewi diam, karena memang kesalahan Nathan yang selalu menghinanya cukup keterlaluan. Tanpa bukti ia menuduh bahwa ia wanita hina. Nemplok sana nemplok sini pada lelaki lain. Sedikit pun tak pernah berpikir akan memiliki kekasih. Menurutnya, diusia yang baru menginjak 19 tahun bukannya untuk berpacaran. Ia ingin menggapai cita-cita dan membalas budi atas semua kebaikkan keluarga yang sudah membesarkan dan merawatnya selama ini.
"Apa kamu membenciku? Tidak bisakah kamu memaafkan-ku?" tanya Nathan tanpa melepaskan genggamannya.
"Aku tidak membencimu, Kak. Aku juga memaafkanmu." Jawab Dewi seraya menarik lengannya. Ia takut sendiri dengan sikap Nathan yang tiba-tiba saja berubah.
"Apa kamu mencintai, Akhsa?" tanyanya tanpa basa-basi.
Terkejut dengan pertanyaan Nathan membuatnya menatap pria itu. Pandangan mereka bertemu, ada sesuatu di mata lelaki itu. Tatapan yang berbeda saat dirasakan. Nathan merubahkan posisi duduknya, kini ia menghadap ke arah Dewi. Kaki yang terangkat sebelah di tempat tidur dengan posisi tertekut, dan sebelahnya tetap menjutai ke bawah.
__ADS_1
Lagi-lagi Nathan meraih tangan Dewi. Gadis itu semakin bingung, apa yang aka dilakukannya kepadanya?
"Katakan yang sejujurnya, apa kamu mencintai pria itu? Pria yang menjadi sahabatku selama ini?"
"Pertanyaan Kakak aneh, kenapa memberikan pertanyaan yang tidak pernah terpikirkan olehku?"
"Kalian dekat, bahkan hanya dia yang tahu keberadaanmu. Aku kira kamu mencintainya."
"Aku tidak pernah berpikir soal cinta, hidupku saja masih sulit. Kakak tahu apa yang aku rasakan selama tinggal di sini? Aku merasa tidak enak karena ada orang yang tidak menyukai keberadaanku di sini. Yang aku pikirkan bagaimana caranya tidak bergantung kepada orang lain. Dan sekarang, aku tidak akan bergantung lagi pada keluarga ini. Aku sudah bertemu dengan orang tuaku, aku akan tinggal bersamanya mulai saat ini."
Jawaban yang sangat puas dan sekaligus membuatnya sakit. Suka dengan jawaban bahwa Dewi tak memiliki perasaan kepada Akhsa. Sakit saat bibir mungil itu mengaucapkan tidak akan bergantung lagi pada keluarga ini. Itu artinya, tak ada lagi kesempatan baginya untuk bersamanya setiap hari di rumah ini.
"Bukankah Kakak suka dengan kepergianku?"
Pertanyaan yang tak ingin sama sekali di dengarnya, tidak sedikit pun ia suka. Nathan tidak ingin wanita itu pergi, selamanya ingin seperti ini. Selalu berdua hingga sampai gadis itu menaruh hati padanya. Tak akan menyia-nyiakan kesempatan, dan sebisa mungkin ia akan membuat gadis itu nyaman bersamanya.
"Kalau aku tidak bahagia bagaimana? Kalau aku lebih bahagia kamu ada di sini apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu akan tetap di sini? Anggap saja kalau kamu sedang menebus semua kebaikan keluarga ini?"
Tidak peduli dengan keinginannya yang memaksa, ia tetap ingin Dewi berada di sini. Tidak ingin gadis itu pergi meninggalkannya, meski ia sudah dipertmukan dengan papa-nya.
"Kenapa tidak bahagia? Dan kenapa lebih bahagia adanya aku di sini?" tanya Dewi.
Peka sedikit kenapa? Apa kamu tidak tahu dengan perasaanku. Sial, perjanjian itu menyiksaku. Kalau Akhsa tahu aku mengungkapkan perasaanku dia pasti marah karena sudah berjanji untuk tidak menyatakan cinta sebelum tahu kepada siapa hati Dewi berlabuh.
"Kenapa? Kakak sendiri tidak bisa menjawab 'kan? Apa yang membuatmu bahagia adanya aku di sini? Apa karena tidak bisa menghinaku lagi? Dan itu sudah menjadi kebiasaanmu membuatku sakit 'kan?"
Entah polos atau memang sengaja memancing Nathan agar mengakui perasaannya. Dewi bersi kukuh akan pergi selagi tidak ada yang bisa membuatnya tinggal di sini tanpa alasan yang cukup kuat. Apa lagi yang membuatnya bertahan di rumah ini? Orang tuanya sudah diketahui, tentu ia akan memilih pergi bersama orang tuanya bukan?
__ADS_1
"Jika tidak ada jawaban yang membuatku tinggal di sini, aku akan pergi, Kak. Maafkan aku ya sudah membuatmu selalu emosi, aku pergi." Dewi melepaskan tangannya dari genggaman Nathan.
Sedangkan lelaki itu begitu pengecut, tetap menyimpan perasaan hingga akhirnya Dewi pergi dari hidupnya. Ia juga harus menjaga persahabatan yang selama ini terjalin dengan baik. Ia yakin kalau jodoh tidak akan kemana.
* * *
"Aunty, aku harus pergi. Maafkan aku yang selalu merepotkanmu, aku janji akan sering main ke sini," ucap Dewi.
"Lalu, Nathan? Kamu akan pergi meninggalkannya? Dia mencintamu, Dewi. Apa kamu tidak memaafkan kesalahannya?"
Dewi tercengang akan penuturan wanita paruh baya itu. Meski hatinya sempat merasakan akan sikap Nathan yang berubah drastis, tapi ia tetap belum percaya jika lelaki itu sendiri yang mengungkapkan perasaannya.
"Kak Nathan sendiri tidak mengatakan apa-apa sama aku, Aunty. Jika benar dia mencintaiku, dia pasti mengejarku bukan? Aku akan tetap pergi, biarkan Kak Nathan meyakinkan perasaannya sendiri. Cinta itu butuh pembuktian, bukan cuma hanya dari ungkapan," terang Dewi.
"Apa kamu tidak memiliki perasaan padanya? Meski secuil?" tanya Nindya.
"Biarkan waktu yang menjawabnya."
Tidak akan pernah mengakui perasaan sebelum ia yakin akan cinta pria itu. Ia takut sakit dikemudian hari karena perasaan lelaki itu belum memantapkan perasaanya kepadanya.
"Aku pergi, Aunty. Salam untuk yang lain, aku janji akan sering-sering datang ke sini." Dewi memeluknya, lalu setelah itu benar-benar pergi.
* * *
Setelah kepergian Dewi, Nindya menemui anaknya.
"Kesempatan tidak akan datang kedua kali, Nathan. Kamu itu pengecut!" kesal sang mommy kepada anaknya yang masih duduk sendiri di kamarnya. Untuk sekedar mengejar saja Nathan tidak bisa. Tubuh yang tak bisa diajak kompromi, tapi ia yakin bahwa suatu saat Dewi akan menjadi miliknya. Tidak untuk sekarang, tapi nanti.
__ADS_1