Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 141 Resmi Bercerai


__ADS_3

Pesta pun kini telah usai, karena waktu yang ditentukan hanya sampai jam 10 malam. Apa lagi, mereka mengajak anak-anak mereka ke pesta itu.


"Daddy, aku ngantuk." Kata Nala sambil menguap.


"Ya udah, sini biar Daddy gandong." Andra meraih tubuh kecil Nala untuk digendong.


Saat mereka berjalan hendak memasuki lif, Nindya melihat seorang pria berjalan bersama seorang wanita dan terlihat sangat mesra.


"Liat siapa, sayang?" tanya Andra karena Nindya menghentikan langkahnya.


"Itu." Nindya menunjuk ke arah pria dan wanita tadi.


"Siapa memangnya?" Andra jadi penasaran.


"Kalau di liat dari wajahnya mirip suaminya Hanum, tapi aku takut salah orang soalnya mereka mesra sekali, Mas."


"Suami Hanum? Memangnya Hanum sudah menikah?"


"Iya, dia cerita ke aku. Tidak ada yang tahu soal pernikahannya, makanya semua warga mengiranya wanita nakal."


"Nanti saja selidiki, kita pasti ketemu lagi dengan orang itu," kata Andra, "kasian anak-anak, mereka ngantuk."


"Iya, Mas." Andra dan Nindya pun melanjutkan kembali perjalanannya. Mereka pulang ke rumah masing-masing. Roy dan Adam sudah lebih dulu pulang, mungkin mereka sudah sampai ke rumah.


Nindya dan Andra pun langsung pulang sesampainya di mobil. Bukan hanya anak-anak yang tertidur, Nindya pun ikut tertidur. Mungkin karena memang sudah sangat lelah.


Sesampainya di rumah, Andra menyuruh supir dan security menggendong kedua anak mereka untuk dibawa masuk, sedangkan ia menggendong istrinya. Tak tega jika harus dibangunkan.


Nathan dan Nala di bawa ke kamar masing-masing oleh supir dan security, setelah itu selesai mereka kembali pada pekerjaan mereka.


"Terima kasih, Pak," kata Andra saat berpapasan dengan pekerjanya.

__ADS_1


"Sama-sama, Tuan."


* * *


Setelah merebahkan tubuh Nindya, Andra langsung membersihkan diri, dan setelah mandi ia langsung berpakain dan menyusul istrinya untuk tidur. Andra mengecup kening istrinya lebih dulu sebelum menyusul sang istri ke alam mimpi.


Hingga keesokkan harinya, mereka terbangun. Andra sudah harus kembali menjalankan aktivitasnya kembali seperti biasa.


"Mas, kalau liat orang yang semalam kamu cari info tentang dia ya, kasihan Hanum," ucap Nindya.


"Iya, kalau pria itu ternyata lelaki hidung belang bagaimana? Hanum lebih kasihan."


"Kalau itu benar adanya mending tidak usah, biar aku dan ibu yang membantunya sampai melahirkan nanti, diusut pun percuma yang ada Hanum semakin tersiksa. Biar dia jadi wanita hebat, hidup tanpa suami belum tentu hidupnya akan susah. Hanum wanita baik, aku yakin dia pasti mendapatkan lelaki yang jauh lebih baik dari laki-laki itu."


"Baiklah, Mas berangkat sekarang. Soalnya, pagi ini Adam izin tidak masuk kerja karena akan sidang terakhir dengan Aileen. Mas pamit." Andra mencium kening istrinya lalu segera pergi ke kantor.


Namun, Nindya mencium punggung tangan suaminya terlebih dulu. Nathan dan Nala sudah siap dengan seragam sekolahnya. Hari ini ia mulai memasuki sekolah dasar. Kedua anaknya berangkat diantar oleh Andra sendiri, dan pulang akan dijemput oleh Nindya.


* * *


Perpisahan tak membuat jalinan silaturahmi mereka terputus, terlebih ada anak kandung yang memang harus mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya.


Adam dan Aileen sudah duduk saling berdampingan, mereka menunggu hasil sidang hari ini. Proses lebih cepat dari sebelumnya. Pengacara mereka pun ikut mendampingi. Setelah melewati pertanyaan dari Hakim, ketuk palu pun dimulai.


Mereka berdua resmi bercerai. Adam mengulurkan tangan pada Aileen, dan wanita itu pun menjabat tangannya.


"Aku harap, kita bisa kerja sama dalam mendidik anak kita. Meski kita tak lagi bersama, semoga jalinan kita cukup baik. Aku juga minta maaf atas semua ini" tutur Adam.


"Iya, aku harap kamu bahagia. Hari ini biar aku yang menjemput Akhsa sekolah, rencananya aku akan menemui papaku setelah ini. Aku ingin menghambiskan waktu bersama anakku selama aku masih berada di sini," jelas Aileen.


"Kalau kamu kembali, bagaimana dengan dokter Zack?" tanya Adam. Karena ia kira mantan istrinya memiliki hubungan spesial.

__ADS_1


Aileen mengerutkan kening, kenapa mantan suaminya menanyakan hal itu? Bahkan ia sedikit pun tak terpikirkan akan dokter Zack karena ia memang tak ada hubungan apa-apa antara dirinya dengan lelaki itu.


Dua kali gagal menikah tak membuatnya berpikir akan menikah kembali. Cukup 2 kali ia gagal soal rumah tangganya, dibikang trauma mungkin iya. Orang tua yang selalu ikut campur membuatnya mengurungkan niatnya. Ia lupa cara bahagia itu seperti apa. Hidup bagai wayang, sehingga ada dalang yang memerankannya.


"Maaf, mungkin aku salah bicara, aku kira kamu-," ucap Adam menggantung.


"Tidak perlu minta maaf, setalah aku membuat noda padamu, sepertinya noda itu akan selalu membekas di hatimu, sehingga aku selalu terlihat buruk di matamu," pungkas Aileen, "aku hanya ingin kamu menjaga betapa buruknya sikapku, jangan sampai Akhsa tahu tentang masalaluku yang kelam."


Sungguh, Adam tak menyangka bahwa Aileen bisa berpikir seperti itu padanya. Sedikit pun ia tak berniat mengingatkan masalalu mantan istrinya, ia menyesal karena Aileen benar-benar sudah berubah.


"Maafkan aku," ucap Adam sekali lagi.


"Tidak apa-apa, aku akan belajar dari keselahan yang pernah ku perbuat. Semoga Tuhan membuka pintu maafku, aku rasa urusan kita selesai sampai di sini. Aku permisi." Aileen mulai meninggalkan ruang sidang, saat ia keluar, ia melihat Zack sudah ada di sana. Sepertinya lelaki itu memang sengaja untuk menemuinya.


"Aileen," panggil dokter Zack.


"Iya, ada apa?" jawab Aileen.


"Bisa kita bicara sebentar, kita bicara di sana saja." Zack menunjuk sebuah kursi panjang yang terbuat dari kayu. Aileen pun berjalan menuju kursi yang ditunjuk lelaki itu.


"Ada apa? Sepertinya serius sekali?" tanya Aileen.


Zack bukan lagi abg yang harus berbasa-basi untuk mengatakan apa yang ada dalam hatinya. Ia juga merasa sudah terlalu lama menutup pintu hatinya untuk wanita lain.


"Aku ingin menikahimu, jadilah ibu dari kedua anakku. Marsya menyayangimu," jelas Zack.


Aileen terkejut, ia tak menyangka kalau dokter Zack akan mengajaknya untuk menikah, atas dasar apa? Sedangkan pria itu tahu betapa buruknya ia.


"Aku takut, Dok. Aku takut gagal untuk kesekian kalinya. Maaf, aku tidak bisa. Aku baru saja resmi bercerai, mana mungkin secepat itu aku mengambil keputusan." Setelah memberi jawaban, Aileen langsung pergi.


Sepeninggalnya wanita itu, Zack terluka. Kenapa disaat ia siap membuka lembaran baru malah ditolak? Biasanya wanita yang mengejarnya, tapi ini? Zack yang patah hati. Padahal ia sudah nyaman dengan Aileen, terlebih dengan Marsya. Gadis kecil itu yang mendorongnya untuk mengatakan keinginannya kepada Aileen. Seketika Zack hancur.

__ADS_1


__ADS_2