
Setelah melepas rindu, Wiliam mengajak Halim serta keluarganya masuk ke dalam rumah.
"Mas, bagaimana ceritanya kamu ada di sini?" tanya Rahayu.
Halim pun menceritakan tentang kejadian kemarin. Sehingga Rahayu menyimpulkan bahwa kemarin Nindya menghubunginya ternyata sudah menemukan keberadaan suaminya.
Nindya datang menghampiri, ia duduk di tengah-tengah si kembar. Si kembar diapit oleh Halim, karena Nisa dan Panji tidak lepas dari dirinya. Mereka berempat bahagia, tidak menyangka akan bertemu kembali sejak 5 tahun berpisah.
Karena sudah siang, Wiliam mengajak untuk makan siang bersama. Nindya melayani kedua orang tuanya, ia sampai lupa akan keberadaan sang suami.
"Aku tidak dilayani, hmm?" Andra merasa cemburu karena terabaikan, mimik wajahnya cemberut seperti anak kecil. Sejak Nindya hamil, Andra sedikit manja kepada istrinya.
Nindya hanya menggelengkan kepala saat melihat tingkah suaminya. Wiliam serta yang lain pun tersenyum ketika melihat mereka.
"Suamiku manja sekali, iya aku ambilkan." Dengan sigap ia mengambilkan makanan untuk suaminya.
"Terima kasih," ucap Andra setelah sang istri meletakan piring yang sudah terisi dengan makanannya. Nindya hanya tersenyum.
Seusai makan, mereka berbincang bersama, Rahayu dan si kembar terus bergelung bersama Halim. Bahkan Nisa begitu manja, duduk di pangkuan sang ayah.
"Ayah kenapa kerjanya lama sekali, aku rindu dengan Ayah. Ayah tahu? Aku sering diejek oleh teman-teman karena mereka tidak pernah melihat, Ayah." Nisa mengeluarkan keluh kesahnya.
"Iya, Ayah kerja apa sih? Kata Ibu, saat Ayah pulang akan membawakan mainan banyak untukku. Jadi mana mainan yang Ayah janjikan?" timpal Panji.
Halim menitikkan air mata saat mendengar penuturan si kembar. Ia sama sekali tidak tahu apa saja yang mereka alami. Hidup susah tentu pasti, karena selama berumah tangga, Halim tak pernah mengizinkan istrinya untuk bekerja.
"Besok, Ayah janji besok akan mengajak kalian pergi jalan-jalan." Selama bekerja Halim selalu menyisipkan penghasilannya, ia menggunakan uangnya hanya untuk keperluan hidup saja. Selebihnya ia tabung untuk mencari keberadaan keluarganya.
Wiliam sangat merasa bersalah, ia mendengar apa yang dibicarakan mereka lewat cctv. Wiliam juga memberi ruang khusus untuk kebersamaan mereka. Ia tak ingin mengganggu momen bahagia mereka.
Anye menyentuh pundak suaminya.
"Ini saatnya kamu menebus kesalahanmu," ucap Anye.
"Iya, aku akan menebus semuanya." Wiliam langsung menghubungi anak buahnya, menyuruhnya untuk menyiapkan tiket. Ia akan membawa Halim serta keluarganya berlibur ke luar negri.
Ia juga sudah menganggap si kembar seperti anaknya sendiri. Ia menyukai kedua bocah itu, lucu dan sangat menggemaskan. Ia juga akan meminta Halim untuk mengelola perusahaannya yang berada di Sukabumi. Sebuah perusahaan garment yang dibilang cukup besar di kota sana.
* * *
"Kamu tidak menaruh dendam pada Daddy 'kan?" tanya Andra.
__ADS_1
"Dendam? Maksudmu?" Nindya bukan tak mengerti apa maksud suaminya, ia hanya tak ingin mengingat masa lalu yang membuatnya sedih.
"Soal ayahmu yang dijebloskan ke penjara oleh daddy. Aku juga tidak menyangka kalau ayahmu salah satu karyawannya."
"Sudahlah, itu tidak perlu dibahas. Sudah berkumpul kembali saja aku sudah bahagia. Lagian, itu semua salah paham 'kan? Bukannya daddy juga sempat mencari keberadaan ayahku?"
"Syukurlah kalau begitu."
"Lihatlah mereka, Nisa dan Panji sangat bahagia. Aku pun bahagia keluargaku sudah berkumpul kembali. Ditambah lagi, dia akan hadir melengkapi bahagia kami." Tutur Nindya sambil menyentuh perutnya.
"Kalau ini kebahagiaan kita semua." Sahut Andra sambil mengelus perut istrinya.
Mereka berada disatu ruangan, tapi dengan kursi yang berbeda. Nisa dan Panji terus mengoceh, seakan belum puas soal jawaban Halim yang pergi bekerja cukup lama.
* * *
Hari sudah mulai petang.
Saatnya Roy menjemput Elena untuk pulang.
"Mau kemana, Roy?" tanya Adam, ia melihat temannya itu sudah siap-siap.
"Sok sibuk banget sih." Adam iri akan hal itu.
"Makanya, cepatlah nikahi Aileen. Bila perlu, kalian kawin lari saja. Kasian, anak yang ada di kandungannya," celetuk Roy. "Sudah ah, aku takut terlambat menjemput istriku."
Roy segera pergi meninggalkan Adam yang masih bergelut dengan laptopnya. Adam bekerja keras untuk mengumpulkan uang, ia ingin menunjukkan bahwa ia layak untuk Aileen.
Roy pun akhirnya tiba di rumah sakit.
Di ruangan Elena, terdapat Alan di sana. Ia sedang berbincang dengan Elena. Bahkan Elena sudah menjelaskan siapa orang yang ada di mobil bersamanya tadi pagi, tapi Alan tidak percaya soal itu.
"Aku tidak percaya, El. Kamu jangan bohong padaku!" desak Alan.
"Kenapa juga aku harus berbohong?" kata Elena. "Lagian, kamu itu kenapa? Hari ini aneh sekali?" ujar Elena lagi.
"Aku hanya ingin tahu soal perasaanmu, El," ucap Alan.
"Perasaan yang mana?" Elena tak mengerti. Alan sudah menjalin hubungan dengan suster Mira, sejak itu ia mulai melupakan Alan. Apa lagi sekarang ia sudah menikah, tak ada lagi nama Alan di hatinya.
"Ini, kamu tulis soal perasaanmu padaku." Alan melayangkan buku diari milik Elena.
__ADS_1
"Dari mana kamu dapatkan ini?" Setahu Elena, buku itu sudah ia buang.
"Setelah aku tahu tentang perasaanmu, aku memutuskan Mira."
"Kenapa kamu putuskan dia?" Elena tak percaya.
"Sebetulnya aku juga memiliki perasaan padamu, El. Tapi aku tak berani karena aku takut malah membuat kita menjauh. Aku kira kamu hanya menganggapku sebagai teman biasa."
"Lalu?" tanya Elena.
"Aku mau kita menjalin hubungan, ternyata kita saling mencintainya. Menunggu apa lagi? Bila perlu aku akan melamarmu." Alan menyentuh tangan Elena dan menggenggamnya.
Sayang, disaat itu muncullah Roy. Roy terkejut saat melihat pemandangan itu. Elena pun tak kalah terkejut, ia segera melepas tangan Alan. Wajah Roy memerah karena menahan amarah. Ia tak menyangka akan menyaksikan ini, ini membuatnya sakit hati. Karena penasaran soal diari milik Elena, Roy mengambilnya lalu membacanya.
Ia juga tahu kalau cinta Elena sepertinya sangat besar kepada Alan.
"Maaf, sepertinya kedatanganku tidak tepat." Roy menutup buku itu dan ia mulai pergi dari sana.
Dengan segera, Elena menyusul suaminya. Roy sudah salah paham tentangnya. Roy begitu cepat dengan langkahnya, Elena sampai berlari mengejarnya.
"Roy, tunggu! Ini tidak seperti yang kamu bayangkan," ucap Elena.
Roy terus berjalan, dan Elena terus mengejar. Hingga akhirnya, Elena berhasil meraih tangan suaminya. Elena langsung memeluk suaminya. Tak peduli dengan orang disekitarnya.
"Roy, ini salah paham. Aku bisa jelaskan," ucap Elena yang masih memeluk suaminya.
"Penjelasan apa, El? Kamu memang mencintainya 'kan? Tunggu apa lagi? Dia sudah menyatakan cintanya padamu."
"Apa maksudmu bilang seperti itu, hah? Setelah di menyatakan cintanya padaku terus akan menerimanya, begitu? Kamu anggap aku wanita apa?" tanya Elena setelah melepaskan pelukkan itu.
Kini keduanya bertengkar karena soal perasaan. Roy tidak bisa berpikir jernih, ia hilang kendali karena cemburu.
"Tega kamu berpikir tentangku." Elena menangis karena ia merasa suaminya berpikir buruk tentangnya.
"Bukan begitu, maksudku." kata Roy.
"Kamu jahat, Roy. Jahat!"
...----------------...
Konflik dikit ya, biar cinta keduanya semakin kuat setelah ini. Jangan di hujad dulu, wkwk
__ADS_1