Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 126 Berusaha Kuat


__ADS_3

Nana tak mengidahkan apa kata orang, ia sudah tidak peduli. Yang jelas ia sudah mencoba melepaskan suaminya. Tapi Adam terus mengikutinya sampai masuk ke dalam.


"Mas, tolong! Pergilah ....!!!"


"Aku tidak akan pergi selama kamu tidak ikut denganku!"


"Apa telingamu tidak mendengar apa yang mereka bicarakan tentangku?"


"Maka dari itu, kamu ikut denganku biar semua tidak beranggapan seperti itu tentangmu. Aku akan menceraikan Aileen."


"Jangan gila kamu, Mas. Bukankah ini yang kamu harapkan sejak dulu? Akhsa ingin sekali memiliki keluarga utuh dan dapat berkumpul bersama, aku tidak termasuk daftar itu, Mas."


"Tapi Akhsa sudah terlanjur menyayangimu, bahkan dia yang menyuruhku untuk menjemputmu."


"Akhsa yang menyuruhmu 'kan? Bukan atas keinginanmu. Sudahlah, aku cape aku mau istirahat." Nana langsung masuk kamar dan menutup pintu bahkan menguncinya. Sebenarnya dikunci pun percuma, jika Adam mendorongnya dengan sekali terjangan pun pasti pintu itu ambruk saking sudah keroposnya.


Tapi Adam tak melakukan itu, ia takut istrinya akan semakin marah padanya.


"Jadi, kamu mengusirku?"


"Iya," sahut Nana dari dalam. Ia menahan sesak di dada, menangis tanpa suara. Ia mencoba kuat dalam situasi ini, meski ia tak sekuat apa yang diucapkannya, "pergilah, hidupmu sekarang sudah lengkap. Tidak perlu ada aku lagi."


"Kamu serius? Aku kira kamu mencintaiku, ternyata aku salah. Kamu datang disaat aku terpuruk, dan setelah aku mencintaimu dan menyayangi kamu pergi dengan alasan karena istriku sudah kembali. Bukankah seharusnya kamu bisa menerima itu? Karena itu memang resikomu sebagai istri kedua."

__ADS_1


"Aku tidak mau jadi orang ke tiga, Mas. Biar aku yang mengalah, pergilah, ku mohon."


"Baik jika itu memang yang kamu inginkan, aku akan pergi dan tak akan menemuimu lagi. Aku harap kamu tidak menyesal!"


Saat Adam keluar dari rumah Nana, semua tetangga berada di depan rumah itu. Mereka mendengar apa yang sudah terlontar dari mulut Nana mau pun Adam. Ibu-ibu itu saling berbisik.


"Ternyata mereka sedang bertengkar."


"Iya, sepertinya ketahuan sama istri pertamanya."


"Namanya juga pelakor, mungkin Nana pulang karena siasat agar tuan itu menahan kepergiannya."


"Licik sekali."


Itulah percakapan para tetangga yang tertangkap dipendengaran Adam. Tangannya mengepal karena menahan amarah, ia tak rela jika istrinya dikatai seperti itu. Hanya ia yang tahu bagaimana sikap Nana yang sebenarnya. Jika ia seorang pelakor, mungkin sejak pertama bertemu Nana sudah menggodanya.


Dan ibu-ibu langsung bubar lantaran Adam nampak murka, wajah dan matanya terlihat merah menahan amarah. Sedangkan Nana, bumil itu menangis sejadi-jadinya. Berusaha tegar tapi tak bisa. Mungkin dengan bersikap tegas pada suaminya, lambat laun pria itu pasti menyerah.


Hari semakin gelap, Nana kelaparan. Di rumahnya tak ada stok makanan sedikit pun, jangankan untuk makanan, air minum pun tak ada. Bahkan lampu di sana sebagian gelap karena mati.


"Kamu tidak boleh cengeng, bukankah sudah terbiasa hidup susah seperti ini." Nana bangkit dari posisinya, meraba dinding untuknya berjalan keluar karena lampu ruang tamu mati. Ia mencari tas kecil miliknya yang tersimpan di atas meja, dan akhirnya ia dapatkan. Ia keluar dari rumah berniat mengecek isi dompetnya. Hanya beberapa lembar yang tersisa, dan itu pun tak lebih dari lima puluh ribu. Karena ia pergi dalam keadaan tak membawa apa-apa.


Ia takut istri pertama suaminya beranggapan mau dinikahi oleh Adam karena uang, dan memanfaatkan Akhsa untuk menjadi istri dari Adam.

__ADS_1


"Cukuplah untuk makan malam ini." Nana pun bergegas keluar dari rumahnya setelah melihat isi dompetnya, saat di luar, ia kira suaminya sudah pulang. Nyatanya belum, mobilnya masih terparkir tapi tak ada siapa-siapa di dalam mobil itu.


Selagi tidak ada orang, Nana buru-buru pergi untuk membeli makan. Banyak makanan yang berjajar di pinggir jalan, sampai ia bingung harus memilih yang mana. Inginnya ia membeli semuanya, tapi uangnya tidak cukup.


Hamil membuatnya lapar mata, padahal selera makannya sedang berkurang. Akhirnya ia membeli martabak berukuran sedang harga dua belas ribu saja, itu pun dengan rasa kacang cokelat. Ia harus bisa menyisakan uang untuk sarapan besok.


"Pak, martabaknya 1, rasa kacang cokelat," kata Nana pada penual martabak manis itu.


"Iya, Neng. Duduk dulu saja, soalnya ngantri."


Nana mengangguk sambil tersenyum. Hanya ia yang membeli parian rasa itu. Tak lama, giliran Nana yang dibuatkan. Setelah semuanya selesai, ia pun akhirnya senang. Lagi-lagi, Nana menatap tukang sate. Tapi ia terus berjalan menghindari bau yang membuatnya menggugah selera.


Setibanya di rumah, mobil Adam pun sudah tidak ada, diperkirakan mungkin sudah pulang, pikirnya. Dengan senang hati, Nana membuka kotak martabak itu lalu melahapnya dengan sangat lahap. Martabak itu terasa nikmat dilidahnya, karena cukup kenyang Nana kembali ke kamar. Ia mulai istirahat malam ini, ingat dengan pesan dokter ia mencoba untuk tidak memikirkan semua yang sedang terjadi padanya.


Meski mencoba, tetap saja kepikiran. Ia teringat Akhsa, biasanya jam segini ia tengah membacakan dongeng untuk anak sambungnya itu.


"Apa kamu sudah tidur?" tanya sendiri. Pikirannya terlalu bodoh, tentu Akhsa lebih nyaman berada di sisi ibu kandungnya. Dan Aileen pasti memperlakukan anaknya dengan penuh kasih sayang. Lambat laun, ia pun terpejam.


Tengah malam, Nana terbangun. Rasa lapar kembali menjalar. Ia mengusap perutnya karena lapar. "Kenapa disaat tidak ada makanan perutku selalu minta diisi, apa tidak bisa menunggu besok pagi saja," gerutunya. Lalu ia bangkit dari kasur miliknya yang terasa keras, berjalan menuju ruang tamu. Tanpa disadari ruangan itu sudah terang, ditambah lagi banyak makanan yang terletak di atas meja.


Saking tak percaya, ia mengucek kedua matanya. Ia takut itu hanya mimpi dan berhalusinasi, tapi itu nyata makan itu masih terlihat. Dan ia pun menghampirinya, karena memang sudah lapar ia langsung menyantapnya. Saat sedang mengunyah, ia meneteskan air mata. Apa ia tak bisa jauh dari suaminya? Ia yakin betul kalau makanan ini pasti suaminya yang membelikannya.


Bahkan ini makanan yang sempat diinginkannya. Diam-diam, Adam memang mengikutinya. Ia tak mungkin meninggalkan istrinya dalam keadaan perut kosong, setidaknya dengan cara ini yang bisa ia lakukan untuk istrinya.

__ADS_1


"Aku masih merepotkanmu, Mas. Tapi aku harus berusaha kuat, ini yang terakhir aku merepotkanmu. Setelah ini hidupmu akan kembali normal seperti dulu. Maafkan aku, Mas. Aku harus bisa hidup tanpamu." Lagi-lagi air mata yang keluar.


"Besok, aku harus mencari kerja. Aku juga harus pergi dari sini," ucapnya mantap.


__ADS_2