
Dengan rasa bahagia, Dewi masuk pekalangan taman kampus. Ia menghirup udara segar di sana. Keadaan masih terlihat sepi karena ia sampai pada pukul setengah tujuh pagi. Siswa hanya baru beberapa yang datang. Dengan semangat ia berjalan menuju kelas yang ia rindukan beberapa hari ini.
Belum sampai kelas ponselnya berdering, wajahnya memucat saat mendengar panggilan itu. Tanpa menunggu lama lagi ia segera berlari keluar gerbang. Memasukkan ponselnya dengan sembarang ke dalam tas, tanpa sadar tenyata benda pipih itu terjatuh di aspal.
Menyetop taksi dan segera pergi. Tubuhnya bergetar sambil menangis. Mendengar kabar tentang ayahnya Dewi begitu histeris, dia orang tua satu-satunya yang dimilikinya saat ini.
"Mau kemana, Non?" tanya supir taksi.
Dewi menyeka air matanya. "Ke rumah sakit, Pak. Rumah sakit Cipto," jawabnya. Berharap keadaan sang papa baik-baik saja, tidak ada luka yang serius meski kabar yang diberikan adalah mobil yang ditumpangi Doni ringsek karena terhantam bus yang oleng.
Tidak terpikir akan memberikan kabar ini kepada siapa pum, yang ia inginkan hanya cepat-cepat sampai dilokasi tujuan. Jalanan macet, mungkin jalan macet karena kecelakaan tersebut. Terpaksa Dewi turun di tengah jalan, ia turun setelah membayar taksi.
"Non, rumah sakitnya masih jauh," teriak supir.
Dewi tak menggubris, pikirannya kalang kabut. Ia tak ingin ditinggalkan oleh Doni, pria itu orang berharga dalam hidupnya sekarang. Berlari sekuat mungkin, hingga perlahan larian itu mengendur karena lelah. Keringat membanjiri area kening hingga turun ke leher. Mendapati pangkalan ojek, Dewi pun berniat melanjutkan perjalanannya ke rumah sakit.
Sampailah ia di sana. Rumah sakit sedikut ricuh karena banyaknya korban yang dilarikan ke sana. Korban terluka parah serta yang meninggal pun ada. Perasaan campur aduk itu datang menyiksa, lutut bergetar dengan tubuh yang mulai lemas.
"Sus, ada pasien bernama Doni Nugraha?" tanya Dewi meraih bahu suster yang melintas di depannya.
"Nona bisa liat daftar pengumuman tentang bus di sana." Tunjuk suster ke arah papan.
"Papa saya bukan penumpang bus, dia di mobil yang tabrak bus itu," terang Dewi.
__ADS_1
"Oh ... Kalau itu ada ruang ICU, keadaannya parah. Nona bisa ke sana sekarang," terang suster.
Dewi kembali berlari menuju ruang ICU, belum tahu letaknya ada di mana sehingga ia harus mencari terlebih dulu. Terlihat papan ruang ICU, ia menghampiri ruangan itu. Saat berjalan menuju ke sana pintu ruangan itu terbuka disertai brankar yang di dorong dari dalam oleh beberapa suster. Ada pasien di atasnya, tubuhnya tertutup dengan kain dari ujung kaki sampai ujung kepala.
Dewi mendekat dengan langkah gontai. "Sus, apa dia korban kecelakaan?" tanya Dewi dengan nada serak karena terus menangis. Suster mengangguk. "Boleh saya melihatnya?" pinta Dewi, dan suster itu kembali mengangguk.
Perlahan tangannya meraih kain yang menutupi korban, tangan bergetar karena takut bahwa korban itu adalah papanya. Perlahan tapi pasti. Dewi menutup mulutnya karena terkejut, tak lagi bisa menahan beban tubuh yang terasa begitu lemas. Gadis itu jatuh pingsan tepat di samping brankar.
* * *
Dewi masih belum sadarkan diri, didirnya terlalu shock saat mendapati korban kecelakaan itu. Orang tuanya yang tinggal satu-satunya itu pergi meninggalkannya, kini ia benar-benar sendirian. Dewi mengerjapkan mata, dirinya mulai sadar. Tapi gadis itu seketika menangis meraung-raung. Tubuhnya bangkit dari brankar tapi langsung merosot ke lantai. Tak ada tenaga untuk berpijak, ia tidak tahu harus apa.
Derap langkah terdengar menuju ruangan. Dewi mendongak ke arah pintu yang terbuka.
...----------------...
Mampir lagi yuk di sini.
Judul : Call Me Yura.
By : AG Sweetie
__ADS_1
Vlora hanya diam dengan dada yang terasa sesak dan paras cantik yang bermandi tangis. Seburuk apapun perjalanannya selama ini, rumah tangga yang tengah berada di ambang kehancuran itulah yang menjadi payung untuknya dan Given selama enam tahun ini.
Rumah tangga bak di neraka itulah yang sudah memberinya dan Given status yang baik di mata dunia. Perpisahan bukanlah tujuan Vlora, bukan juga keinginannya.
Apapun alasannya dan Tristan saat ini, Vlora jelas terluka dan kecewa, bahkan ia merasa sangat hancur. Sama halnya juga dengan Tristan.
"Why?" tanya Tristan dengan nada berbisik.
"Harusnya aku yang terluka bukan kamu." Menunjuk dada Vlora.
"Aku pikir aku yang berdosa menyakitimu, nyatanya aku sendiri yang paling tersakiti saat ini. Kau kejam, Ra!" Setetes air mata merebas dari manik legam itu. Sesak membuat Tristan menunduk dan menjeda ucapannya.
Mungkin Vlora tidak bisa melihat dan merasakan, bahwa seonggok daging di balik dada lelaki itu tengah tersayat. Luka di dalam sana sedang menganga menelan pahit yang mematikan segenap rasa.
"Aku jelas menyakitimu dengan terang-terangan, tetapi kau diam-diam dengan rapinya mengkhianatiku begitu manis. Lalu kenapa kau yang harus merasakan luka sementara duri itu kau sendiri? Kenapa, Ra?" imbuhnya lagi.
Tristan menepis basah yang berjejak menyusuri rahang tegasnya, lalu ia pun tertawa bodoh.
"Aku mempermainkan banyak hati hanya untuk melampiaskan kekecewaanku padamu. Tapi kau malah sebaliknya, menjadikanku pelampiasanmu atas perbuatan orang lain." Tristan menggeleng tidak percaya.
"Who is he?" tanya Tristan dengan datar.
Vlora ikut menunduk, tanpa berniat membuka suara sedikit pun.
__ADS_1