
Nindya terus memuntahkan isi dalam perutnya, sampai ia terasa sangat lemas.
Karena khawatir, Anye pun beranjak dari tempat tidur sambil membawa botol infus yang masih terpasang di tangannya.
"Apa masih mual?" tanya Anye. Wanita paruh baya itu memijat pundak Nindya dengan pelan.
"Sedikit." Jawab Nindya sambil membasuh mulutnya.
"Ada apa? Kamu kenapa?" tanya Andra yang baru saja masuk ke kamar, awalnya ia sedikit terkejut karena tak melihat ibu dan istrinya di kamar. Dan malah menemukan mereka di kamar mandi.
"Ada apa, Mom? Istriku kenapa?" Andra yang tidak tahu mengenai ini malah berpikir kalau kejadian ini ada sangkutannya dengan masakan Loly. "Apa makanannya tidak enak sampai kamu memuntahkannya?" duga Andra.
Reflek, Anye malah memukul putranya. Sudah menikah kok gak tahu dengan kejadian ini, pikirnya.
"Kenapa Mommy malah memukulku?" tanya Andra yang tak tahu apa sebabnya.
Sementara Wiliam yang berdiri di dekat pintu memperhatikan mereka, lalu ia teringat akan masa dulu saat istrinya mengalami seperti apa yang dialami menantunya. Seulas senyum terukir di bibirnya, tapi ia tak ingin menunjuk itu di hadapan mereka.
Andra pun mengajak istrinya keluar dari kamar mandi, dan ia melihat sang daddy di sana. Begitu pun dengan Nindya, wanita itu langsung bersembunyi di balik tubuh suaminya. Ia masih takut dengan lelaki itu.
Anye pun sampai geleng-geleng kepala dibuatnya. "Jangan takut, Daddy gak makan orang kok," kekeh Anye.
Rasa mual itu kembali menyerang, Nindya kembali masuk ke kamar mandi. Kali ini, Andra yang memijat tengkuk lehernya.
"Kamu kenapa, sayang? Kamu sakit?"
Nindya menggelengkan kepala sebagai jawaban.
"Lalu kenapa? Masuk angin?" tanyanya lagi.
Setelah merasa baikan, Nindya keluar dari sana. Andra membantunya memapah, ia benar-benar takut akan kondisi istrinya.
"Perlu panggil dokter?" usul Andra.
"Ajak saja istrimu istirahat, besok saja panggil dokternya," kata Anye. Ia merasa tidak heran dengan kondisi menantunya, kalau tidak masuk angin, ya berarti hamil, pikirnya.
Tanpa pamit, Andra melewati tubuh Wiliam. Kedua lelaki itu masih berdiam sejak kejadian tadi. Dan akhirnya, anak dan menantunya pun keluar.
__ADS_1
"Ini baru cucu kita," ucap Anye. "Tapi aku tidak tahu apa kamu senang atau tidak dengan kabar ini," celetuknya kemudian.
"Apa maksudmu bilang begitu?"
"Tidak ada maksud apa-apa, cuma kamu sendiri yang bisa menilai perkataanku. Aku harap kamu tidak menentang hubungan mereka."
Wiliam tak mampu lagi menimpali ucapan istrinya, ancaman yang dilakukan Anye sangat ampuh membuat lelaki itu tak berkutik. Anye mengancam bahwa ia lebih baik mati dari pada melihat putra kesayangannya tersiksa akan sikap egois suaminya. Sudah cukup Andra menuruti keinginannya, bahkan sampai menjadi kacau begini.
"Beri aku alasan untuk bisa menerima pernikahan mereka." Wiliam tidak tahu kapan anaknya menikah, dan kenapa pernikahan ini sampai terjadi. Ia hanya ingin apa Nindya pantas bersanding dengan putranya.
"Alasannya banyak, Andra dan Nindya saling mencintai, dan Andra yang sudah menodainya. Sebagai lelaki, Andra harus bertanggung jawab 'kan?" jelas Anye. "Dan itu terjadi saat malam pengantin Andra dan Aileen."
"Jadi ini alasannya? Andra kecewa lalu melampiaskannya pada gadis itu?" batin Wiliam
"Dan sekarang Nindya hamil," yakin Anye. "Apa kamu masih ingin memisahkan mereka?"
Mana mungkin Wiliam setega itu? Meski kecewa dengan pernikahan mereka, tapi ada janin dalam kandungan wanita itu. Dan itu calon cucunya sendiri. Apa lagi, ia begitu mengharapkan hadirnya pewaris di keluarganya.
"Sudah malam, aku mau istirahat," kata Anye.
* * *
"Tidak, hanya sedikit pusing," jawab Nindya
Andra sendiri merasa aneh pada mommy-nya, kenapa wanita itu begitu santai? Padahal ia begitu sangat khawatir.
"Aku pijit ya? Biar gak pusing."
Andra pun memijatnya dengan sangat lembut. Tak lama, Nindya meminta suaminya untuk menghentikan aktivitasnya.
"Kenapa?"
"Emm-," ucapnya tertahan karena tak bisa mengatakannya. Malu rasanya jika ia jujur dengan keinginannya. Yang Nindya lakukan hanya langsung dengan niatnya. Wanita itu kini memandang wajah suaminya, tatapan yang sangat penuh dengan cinta. Ia sendiri tak mengerti kenapa ia merasa ingin.
Perlahan, Nindya mendekatkan wajahnya. Dekat dan semakin dekat, hingga akhirnya tak ada lagi jarak di antara mereka. Andra sendiri sampai terkejut dengan tingkah laku istrinya, tapi ia cukup senang dengan itu. Istrinya sudah tak lagi malu-malu.
Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Andra pun membalas ciuman itu. Lama semakin lama, berubah menjadi panas, dan membangkitkan gairah cintanya malam ini. Semakin ke sini, istrinya lumayan bisa membuatnya semakin menginginkannya.
__ADS_1
Andra tak bisa menahan diri untuk ini, malam ini mereka mulai melakukan penyatuan yang cukup dahsyat. Saat Andra akan menghujam istrinya, Nindya meminta agar suaminya melakukannya dengan lembut. Sebetulnya, ia menyadari sesuatu padanya. Sudah telat dua minggu ia tak mendapatkan menstruasi, tapi ia belum yakin dengn dugaannya.
"Lakukan dengan lembut," bisiknya di telinga suaminya.
"Iya, sayang."
* * *
Di rumah sakit.
Adam menemani Aileen di ruangannya sendiri. Morano dan istrinya belum kembali sampai saat ini.
"Aileen, cepat sadarlah." Adam terus menggenggam tangan kekasihnya itu, sudah berjam-jam ia berada di sana. Hingga matanya mulai lelah dan mengantuk, tak terasa, Adam malah tertidur dengan posisi terduduk dan kepala yang bersandar di sisi brankar.
Beberapa jam kemudian, Aileen mulai membuka matanya secara perlahan. Wanita itu kini tersadar setelah beberpa jam, ia merasa tangannya susah digerakkan. Lalu, ekor matanya ia arahkan untuk melihat tangannya. Namun yang ia jumpai malah keberadaan seseorang di sampingnya, ia tahu siapa orang itu.
"Adam, setelah aku menyakitimu kamu masih tetap di sini dan menjagaku," batinnya.
Aileen mencoba kembali menggerakkan tangannya, dan akhirnya, Adam yang merasakan itu langsung terbangun dari tidurnya.
"Ai, kamu sudah sadar?" Adam tersenyum padanya. "Apa yang kamu butuhkan? Apa mau minum?"
Aileen mengangguk, karena tenggorokannya terasa kering. Cepat-cepat, Adam mengambilkannya minum dan langsung memberikannya pada Aileen.
"Terima kasih," ucap Aileen.
"Kenapa harus berterima kasih, sudah seharusnya aku menjagamu. Apa lagi ada anakku yang kamu kandung."
Aileen lupa akan satu hal, kini pria itu pun pasti kecewa padanya. Kalau tidak ada anaknya dalam kandungannya, Adam pun pasti pergi meninggalkanya. "Jangan berharap lebih Aileen, dia baik karena ada anaknya," batin Aileen.
Ia merasa menjadi wanita paling jahat, entah apa yang membuatnya bisa berpikir demikian. Apa karena kejadian ini membuatnya sadar?
"Kenapa masih di sini? Apa kamu tidak pulang?" tanya Aileen. "Pulanglah, ini sudah malam, aku akan baik-baik saja tanpamu."
"Aku yang tidak baik tanpamu, Aileen. Aku masih mencintaimu, apa kamu tidak mencintaiku lagi? Apa cintamu pada Andra sangat besar?"
Kini, Aileen sudah tidak bisa menahan kepergian suaminya. Berharap pun sudah tak bisa, kesalahannya terlalu patal. Hanya laki-laki bodoh yang bisa menerimanya dalam keadaan seperti ini.
__ADS_1