
Adam putuskan pulang ke rumah, ia tak ingin istrinya marah atau curiga. Untuk Aileen, wanita itu sedang dioperasi dan dia tidak akan langsung sadar dan menanyakan keberadaannya.
Sampailah Adam di rumah, saat tiba di sana menunjukkan pukul 5 sore. Namun tak ada siapa-siapa di sana, bahkan bi Minah pun sudah pulang. Kemana istrinya pergi?
Tak lama dari situ, ia mendengar suara mobil berhenti di depan rumah. Dengan segera ia pergi ke depan, ia yakin itu pasti Nana dan Akhsa. Dan benar saja, mereka yang pulang. Nana terpaksa mengajak Akhsa jalan-jalan untuk menenangkannya karena saat bangun tidur ia terus merengek.
Rengekan itu berhenti saat Nana mengajaknya dan membelikannya mainanan. Nana turun dari taxi lalu membayarnya. Adam menyambut kedatangan mereka.
"Papa, Papa sudah pulang?" tanya Akhsa, "lihat, mainanku bagus 'kan?" Akhsa menunjukkan robot-robotan, hilang rasa kesal pada sang papa karena itu berkat Nana.
Sedangkan Nana, ia masuk begitu saja tanpa menyapa suaminya. Andai ia tidak tahu kalau suaminya ternyata tidak ke kantor, mungkin ia akan selamat. Nyatanya, meski Andra menutupi kebohongan ini, Nana tetap tahu kalau ternyata Adam memang tidak ke kantor hari ini.
Pikiran Nana berkelana, kemana suaminya pergi? Ia tak akan menanyakan itu selagi suaminya tidak membahasnya, ia tak ingin salah sangka. Mungkin ada kalanya ia tak tahu apa saja yang dilakukan oleh suaminya.
"Kamu marah?" tanya Adam.
"Marah untuk apa? Tidak ada alasan untukku marah, Mas." Nana meletakkan tas di atas nakas, ia memang lelah hari ini dan ia langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sampai Nana keluar dari kamar mandi, Adam masih setia berada di sana.
Nana hanya memakai jubah handuk, lalu menuju lemari untuk mengambil baju di sana. Adam terus memperhatikan istrinya, ia merasa kalau istrinya memang marah padanya. Dapat dilihat dari raut wajah Nana yang terus cemberut.
Andra bilang Nana tidak tahu kalau aku tidak masuk kantor, lalu kenapa dia marah? Apa karena terlalu lama menungguku?
Tanpa diketahui oleh Adam, Nana tahu kalau suaminya memang tidak masuk kantor hari ini, ia tahu dari security di kantor saat akan pulang tadi.
Nana kembali masuk ke kamar mandi dan memakai baju di sana. Adam sangat yakin Nana memang marah padanya, tidak ada pilihan lain selain ia jujur pada istrinya apa pun resikonya ia akan coba hadapi. Sebelum semuanya terlambat.
* * *
Hari sudah mulai gelap, Adam tengah berada di kamar Akhsa sedang mengajak anaknya bermain. Tak lama, Nana datang karena Akhsa belum mandi seusai pulang tadi. Jadi Nana menyiapkan air hangat terlebih dulu untuk memandikan anaknya itu.
"Biar Akhsa mandi bersamaku," kata Adam.
__ADS_1
"Gak apa-apa, Mas. Biar aku saja, kamu pasti cape seharian bekerja."
Ucapan Nana serasa menyindirnya, sedangkan Adam merasa bahwa hari ini ia tidak bekerja sama sekali. Ia hanya berada di rumah sakit. Tanpa mengkhiraukan keinginan suaminya, Nana mengajak Akhsa ke kamar mandi dan bocah itu nurut apa yang perintahkan Nana.
Nana menyibukkan diri di rumah, seusai memandikan Akhsa ia langsung memasak selesai itu ia menyuapi Akhsa makan dan ia pun ikut makan bersama.
"Kamu tidak makan, Mas?" tanya Nana.
"Kamu tidak mengajakku makan, biasanya juga mengajakku. Kamu itu sebenarnya marah 'kan padaku? Jangan diam seperti ini, kalau ada yang mengganjal di hati kamu ucapkan padaku!"
Baru saja Nana akan berucap, ponsel Adam berdering. Adam mengangkatnya tapi ia menjauh dari Nana karena panggilan itu dari dokter Zack. Dokter Zack meminta Adam ke rumah sakit karena Aileen baru saja sadar. Mau tak mau, Adam ke rumah sakit sekarang juga.
Adam meraih jaket dan mengambil kunci mobil, lalu ia pamit kepada Nana.
"Sayang, aku pergi sebentar. Kalau mengantuk kamu tidur saja, tidak usah menungguku." Tak ada response dari Nana, bahkan saat Adam mencium keningnya pun Nana tetap menyuapi Akhsa.
"Papa mau kemana? Dari tadi pergi terus?" tanya Akhsa.
Sebenarnya apa yang kamu sembunyikan dariku, Mas. Tidak biasanya kamu seperti ini.
* * *
Aileen memang sudah sadar, tapi kali ini wanita itu tengah tertidur. Adam menemaninya, meski jiwanya berada di sini tapi hatinya kepada Nana. Apa yang ada dalam hatinya memang hanya Nana? Dan perasaan pada Aileen memudar seiring berjalannya waktu.
Tak lama dari situ, Aileen membuka mata. Tapi ia tak melihat siapa pun di sana, Adam tengah ke kamar mandi. Hanya ponselnya yang tergeletak di sisinya. Lalu ponsel itu berdering, dan Aileen melihat layar ponsel itu. karena tak kunjung terjawab ponsel itu kembali mati.
Saat Adam keluar dari kamar mandi, dokter Zack pun masuk ke ruangan itu.
"Dok," sapa Adam. Lalu Adam menoleh ke arah brankar, ia juga melihat Aileen sudah membuka matanya.
Dokter Zack memeriksa pasien terlebih dulu. "Bagaimana?" tanya Zack pada Aileen.
__ADS_1
Aileen tak menjawab, ia hanya tersenyum tipis. Rasa semangat untuk kembali ingatan ternyata pudar. Jika tahu begini ia lebih memilih untuk tidak mengingat semuanya termasuk Adam dan anaknya.
"Tuan Adam, sebaiknya pasien istirahat. Untuk malam ini biarkan dia tidur, besok mulai bisa menanyakan apa Aileen sudah ingat apa belum. Tapi seharusnya sudah ingat karena operasi berjalan lancar," terang dokter Zack. Setelah itu, Zack pun keluar dari sana dan meninggalkan Adam.
Adam mendudukkan tubuhnya di kursi samping brankar, tatapan mereka bertemu. Aileen tak bersuara sedikit pun, bahkan ia tak melihat kerinduan dari mata suaminya sedikit pun. Semua terasa hambar, Aileen memilih untuk kembali tidur.
Karena Aileen sudah tidur, Adam pun keluar dan memilih pulang, ia akan kembali ke rumah sakit besok pagi. Setelah kepergian Adam, Aileen membuka matanya. Ternyata ia tidak tidur, melainkan menahan rasa sakit dalam hatinya. Apa lagi saat melihat ID panggilan di ponsel suaminya.
Aileen memencet tombol menerangkan bahwa ia memanggil dokter, dan datanglah dokter Zack.
"Ada apa? Apa ada yang sakit?" tanya Zack khawatir, "di mana suamimu? Kenapa dia tidak ada?"
"Mungkin sudah pulang," jawab Aileen lirih.
"Pulang? Kenapa pulang? Kenapa dia tidak menenamanimu di sini?"
Aileen diam, jelas ia tahu kenapa suaminya lebih memilih pulang. Ada istri lain yang menunggu kepulangannya, dan kehadirannya sudah terlambat kini ia sudah tahu semuanya.
"Kenapa? Kenapa malah menangis?" Zack malah heran.
"Seharusnya ingatanku tidak usah kembali, biarkan aku hilang ingatan dari pada seperti ini. Boleh aku minta tolong?" pinta Aileen.
"Apa?"
"Bilang saja kalau operasinya gagal, ini lebih menyakitkan dari sebuah hilang ingatan. Kepergianku ternyata sudah tergantikan, aku hanya ingin bertemu dengan anakku saja, itu lebih dari cukup untukku."
Zack ikut bersedih saat mendengar penuturan Aileen. "Kalau itu sudah menjadi keputusanmu aku akan membantumu, sekarang tidurlah."
* * *
Adam sudah pulang, dan langsung pergi ke kamar. Ia melihat Nana sudah tidur. Dan ia pun ikut tidur bersama istrinya. Lagi-lagi Adam tertipu, Nana ternyata belum tidur bahkan napasnya masih tersengal karena mengejar waktu agar tidak keduluan oleh suaminya sampai di rumah.
__ADS_1
Ya, Nana mengikuti suaminya pergi tanpa sepengetahuan suaminya.