Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 105


__ADS_3

Di kantor.


"Adam mana?" tanya Andra pada Roy, "kalau dia ada suruh ke ruanganku," titahnya.


"Adam belum datang," jawab Roy.


Andra mengerutkan keningnya sambil melirik jam yang menempel ditangannya. "Tumben dia telat, biasanya juga lebih awal."


Baru saja diomongin, pria itu datang dengan napas tersengal. Ia kesiangan, makanya ia berlari saat sampai di kantor. Karena ia sudah ditunggu oleh Andra, berkas semalam yang ia kerjakan itu adalah file penting.


"Tumben kesiangan, apa karena, Nana?" tanya Roy.


"Apa maksudmu bicara seperti itu? Jangan asal bicara! Jangan memancing emosiku," cetus Adam. Adam merasa kesal karena dari kemarin selalu Nana yang dilibatkan oleh Roy dari percakapannya. Ia tahu kalau Roy menyuruhnya untuk move on dari istrinya itu, tapi selama ia belum tahu kondisi Aileen ia masih menutup rapat pintu hatinya untuk wanita lain.


"Sensi terus," kata Roy. Roy hanya mencari hiburan semata, ia tengah galau tingkat dewa. Cemburunya itu terlalu berlebihan sehingga membuatnya takut akan kehilangan istrinya. Apa lagi, Elena pernah ada perasaan pada Alan.


"Lebih baik kamu segera umumkan pernikahanmu, Roy. Biar semua orang tahu kalau Elena itu milikmu." Adam tahu apa yang dirasakan oleh Roy, karena selama dalam perjalanan tadi, Elena menghubunginya karena ada yang berbeda pada suaminya itu.


"Iya, Roy. Kapan resepsi pernikahanmu diadakan?" tanya Andra.


Itu malah tidak kepikiran sama sekali oleh Roy, ia dan istrinya terlalu sibuk bekerja sampai mereka lupa resepsi pernikahannya sendiri.


"Jangan terlalu memikirkan akan ada yang merebut istrimu, Roy. Elena sah milikmu, tidak akan ada yang berani melawan mafia sepertimu. Mafia kok melempem," ledek Adam. Adam merasa puas saat meledek Roy. Pria itu wajahnya nampak merah.


"Sudah-sudah, masih pagi sudah ribut!" kata Andra, "kamu ke ruanganku sekarang," ajak Andra pada Adam.


"Bye mafia melempem." Adam melambaikan tangan ke arah Roy, lalu ia pergi bersama bosnya.


"Sialan," rutuk Roy, "apa kata Adam ada benarnya juga, aku harus mengadakan resepsi pernikahanku biar semua orang tahu kalau aku suami dari dokter Elena," ucapnya bangga.


.


.


.


💞


Jam makan siang.


Roy langsung menghubungi Elena, ia mengajak makan siang bersama. Berhubung Elena baru sampai di rumah sakit, istrinya menyarankan untuk makan di kantin tempatnya bekerja. Menurut Elena, semua makanan di kantin sehat dan lumayan enak.


Tanpa berlama-lama lagi, Roy segera pergi menuju rumah sakit. Dan setibanya di sana, ia langsung masuk ke ruangan istrinya. Lagi-lagi, pemandangan tak mengenakan saat dilihat. Bagaimana tidak, di sana terdapat Alan. Sepertinya lelaki itu tidak pantang menyerah untuk mendekati Elena. Dan Alan juga tidak percaya kalau Elena sudah menikah.

__ADS_1


Elena beranjak dari tempat duduknya saat melihat suaminya datang. Dan Alan pun menoleh.


"Ayo, El. Katanya mau makan siang," ajak Alan. Ia sengaja memanas-manasi Roy karena ia pikir pria itu akan segera pergi meninggalkan rumah sakit.


"Kamu ada janji sama dia?" tanya Roy pada istrinya tanpa ekspresi.


"Tidak, justru aku sedang menunggumu," jawab Elena, "dan untuk Dokter Alan, maaf aku sudah ada janji dengan suamiku. Dan ini." Elena memperlihatkan buku nikahnya kepada Alan sebagai bukti bahwa ia memang sudah menikah.


Yang tadinya cemberut, Roy langsung tersenyum saat Elena memperlihatkan bukti pernikahannya.


"Sebentar lagi resepsiku akan digelar, jadi tunggu saja undangan dariku," tutur Elena pada Alan.


Alan benar-benar mati kutu, mungkin ini akhir dari cerita hubungannya bersama Elena. Jika tahu dari dulu tentang perasaan Elena padanya, mungkin ia pasti daru dulu menikah dengan Elena. Takdir memang siapa yang tahu, bertahun-tahun mengenal Elena tapi Alan tidak tahu kalau ternyata wanita itu memendam perasaan padanya.


"Aku duluan ya, Al," pamit Elena. Bumil itu langsung melingkarkan tangannya di lengan suaminya, dengan kepala bersandar di bahu lalu menuju kantin.


* * *


Elena meraih tangan suaminya lalu menggenggamnya. Mereka sudah berada di kantin rumah sakit dan menunggu makanan datang setelah dipesan tadi.


"Percaya padaku, hanya kamu yang aku cintai Jadi berhenti berpikir kalau aku akan berpaling darimu, ada calon anak kita yang meski kita jaga. Kita harus selalu bersama dalam keadaan suka mau pun duka," jelas Elena.


Roy yang beralih menggenggam tangan istrinya lalu mengecupnya, tak peduli dengan pasang mata yang melihat ke arahnya. Ia senang bukan kepalang, lenyap sudah rasa kegalauannya.


"Tentu, aku juga ingin jadi pengantin. Memakai gaun, dan disaksikan oleh banyak orang," ucap Elena antusias.


"Kita percepat saja, kalau nanti-nanti perutmu keburu besar. Aku tidak ingin kamu kelelahan nantinya."


"Kita bicarakan ini sama om Bagas juga ibu, ya?" pinta Elena.


Roy mengangguk.


* * *


"Roy kemana sih? Kok belom balik-balik dari tadi, ini 'kan sudah lewat jam makan siang," ucap Adam sendiri sambil melirik jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 2 siang.


Tak lama, ia mendengar suara siulan. Dan ternyata yang bersiul itu adalah Roy. Wajahnya nampak sumringah, tidak ada lagi wajah galau.


"Happy bener, abis menang lotre ya?" tanya Adam.


"Ini lebih dari lotre," jawab Roy. Ia bahagia hari ini karena sang istri ternyata sepemikiran dengannya.


Roy lanjut bekerja dengan hati yang riang. Bekerja dengan semangat membuat waktu begitu terasa cepat berlalu. Bahkan sang bos sudah keluar dari pertapaan, siapa lagi kalau bukan Andra.

__ADS_1


Pria itu lebih bersemangat karena adanya si kembar yang tengah menanti kepulangannya. Ia juga ada janji dengan seorang foto grafer. Nathan dan Nala akan melakukan sesi berpoto.


"Semuanya, aku duluan," pamit Andra.


Bukan hanya si kembar yang menanti kepulangannya. Nindya lebih menantinya, semakin hari, dikeduanya makin cinta. Setibanya di rumah, Andra disambut hangat oleh istri tercinta.


"Jangan terlalu menunggu kepulanganku, kamu harus banyak istirahat biar cepat pulih," kata Andra saat istrinya menyambut kedatangannya.


"Aku sudah merasa baikkan, jangan terlalu khawatir," tutur Nindya.


"Si kembar sedang apa?"


"Lagi siap-siap, sore ini 'kan poto grafer-nya datang. Mereka sedang dalam perjalanan," jawab Nindya.


💞


Sesi poto dimulai, si kembar sudah terlihat rapi dengan pakaian lucu yang dikenakannya. Nindya dan Andra begitu bahagia.


"Kita buat adik buat mereka, aku ingin punya banyak keturunan. Di rumah ini sepi karena aku tak memiliki saudara kandung, jadi aku mau beri Daddy banyak cucu," tutur Andra pada istrinya.


"Tunggu beberapa tahun ya?" kata Nindya.


"Iya, beri jarak. Aku gak akan setega itu, sayang." Kemesraan mereka disaksikan oleh beberapa orang dari tim poto grafer itu. Mereka tersenyum melihat pasangan serasi itu.


💞💞💞


Adam pun baru sampai di apartemen.


"Sini, Mas. Aku bawa," pinta Nana, ia mengambil alih tas yang dibawa oleh Adam.


Mungkin karena lelah, ia memberikan tas tersebut tanpa menolak.


"Akhsa rewel gak hari ini?" tanya Adam kemudian.


"Tidak, dia anteng sekali." Jawab Nana sambil meletakkan tas kerja di atas meja. Lalu ia pergi ke dapur untuk mengambilkan minum dan memberikannya pada Adam.


"Minum, Mas." Nana memberikan segelas air minum kepada Adam.


Bukannya langsung mengambilnya, Adam malah tercengan. Sikap perhatian Nana sangat dirindukan, ia berharap Aileen yang seperti ini. Selalu teringat pada istrinya, Adam malah melengos pergi tanpa pamit. Ia hanya mengambil gelas tersebut.


"Dia kenapa? Apa dia tidak suka dengan sikapku? Aku 'kan hanya memberikannya minum," gumam Nana yang merasa bersalah.


"Lain kali, jangan seperti ini lagi ya? Cukup Akhsa yang kamu perhatikan," ucap Adam tiba-tiba dari arah belakang Nana.

__ADS_1


__ADS_2