Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 104


__ADS_3

Adam langsung melepaskan tangannya, alhasil botol susu itu terjatuh. Sontak, membuat Akhsa menangis. Buru-buru, Nana menepuk-nepuk bok*ng bayi itu agar terlelap kembali.


"Maaf, bukan maksudku mengganggu. Hanya mau membawa Akhsa ke kamar,"ucap Adam.


"Hmm, tidak apa-apa," jawab Nana pelan karena tidak ingin mengganggu tidur Akhsa, "tunggu Akhsa lelap, nanti aku pindahkan," ujarnya lagi.


"Aku keluar kalau begitu," sahut Adam.


Setelah kepergian Adam, Akhsa kembali terlelap. Dari situ, Nana menggendongnya dan segera memindahkan bayi tersebut.


Tok, tok, tok ...


"Masuk saja, Na. Tidak dikunci," sahut Adam dari dalam.


Klek, pintu pun terbuka. Nana langsung masuk ke kamar dan meletakkan Akhsa di tempat tidur. Setelah itu, Nana melihat Adam tengah berjibaku di depan laptop bahkan nampak serius. Mungkin sedang bekerja, pikirnya.


Nana langsung keluar tanpa pamit karena tidak ingin mengganggu. Lalu, ia berinisiatif untuk membuatkan kopi. Pikirnya, itu bisa membantu Adam untuk lebih konsen dengan pekerjaannya.


* * *


Nana kembali masuk dan langsung meletakkan kopi di atas meja kerja Adam. Pria itu langsung menoleh dan menatap Nana.


"Biar tidak ngantuk," ujar Nana.


"Terima kasih," ucap Adam.


"Sama-sama, permisi," pamit Nana kemudian.


Adam meraih cangkir, meniup kopi lebih dulu dan setelah itu langsung menyeruputnya sesudah kepergian Nana. Rasa rilex langsung mencul saat menghirup aroma dari kopi tersebut.


"Lumayan." Pujinya sambil meletakkan kopi itu kembali di atas meja. Adam kembali bekerja karena laporan itu harus selesai besok pagi untuk diserahkan kepada bos-nya.


* * *


"Lupa, kenapa aku malah memberinya kopi. 'Kan belum makan," kata Nana saat melihat ke atas meja makan. Ia sendiri sudah merasa lapar karena perutnya sudah keroncongan. Mau makan lebih dulu rasanya tidak enak mendahului pemilik rumah, lebih baik ia tahan sebentar rasa lapar itu dan ia memilih untuk membersihkan diri karena sebentar lagi maghrib.

__ADS_1


Seusai mandi dan melaksanakan shalat, Nana kembali ke dapur. Makanan masih utuh, lalu ia pergi dari sana niatnya mau menyuruh Adam makan. Pintu kamar terbuka sejak kepergiannya tadi, karena itu ia kembali mengetuk pintu.


Adam menoleh saat mendengar ketukkan itu, "ya, ada, Na?" tanya Adam.


"Maaf, Mas. Apa tidak sebaiknya makan dulu? Aku panaskan lagi kalau mau makan sekarang."


"Belum laper, Na. Kamu makan saja duluan, nanti aku bisa panaskan sendiri makanannya. Kamu bisa istirahat," jawab Adam.


"Baiklah." Nana pun pergi, dan langsung ke dapur.


Malam ini, Nana makan sendiri. Beberapa menit kemudian, ia sudah selesai makan. Karena tidak ada pekerjaan lain Nana pun beristirahat, dan mulai tidur malam ini. Bukannya tidur, Nana malah melihat langit-langit kamar. Ia masih tak menyangka bahwa ia berada di kota.


Melihat situasi di luar lewat jendela tadi pas ia sampai, Nana jadi penasaran bagaimana kondisi saat malam tiba. Akhirnya ia kembali bangkit dari posisinya, ia suka melihat lampu-lampu. Dan kini, Nana berdiri di balkon luar kamarnya. Kamar miliknya tepat bersebalahan dengan kamar Adam. Saat melihat ke arah balkon pria itu, ia melihat seseorang di sana.


Ia melihat Adam tengah melamun, menatap lampu-lampu di bawah sana. Dan tak lama, Adam kembali masuk tanpa menoleh ke arah balkon kamar Nana.


"Seperti galau," ujar Nana, "istrinya kemana ya, apa meninggal?" pikirnya. Nana sendiri tidak menanyakan akan keberadaan istri dari pria itu, takut dibilang lancang. Ia sendiri juga tak menanyakannya pada Nindya, takut dibilang kepo.


"Ah, sudahlah. Itu bukan urusanku, niatku kemari untuk bekerja dan mencari uang," tuturnya kemudian.


💞


Saat Adam sibuk di dapur, Nana datang. Ia merasa haus, makanya ia pergi ke dapur. Tapi ia malah melihat Adam di sana.


"Kenapa tidak menyuruhku?" kata Nana tiba-tiba. Ia langsung mengambil alih spatula yang dipegang Adam, "sini, biar aku saja yang mengerjakannya."


"Tidak usah, biar aku sendiri saja. Lagian tugasmu hanya mengurus Akhsa, bukan asisten rumah tangga." Adam menahan spatula yang akan diambil oleh Nana.


"Tidak apa-apa, sini." Nana merebut spatula itu dan menyuruh Adam duduk manis di kursi meja makan.


Karena tidak ingin ada keributan di dapur, Adam pun mengalah. Ia duduk sambil memperhatikan punggung Nana dari belakang. Ia jadi teringat pada Aileen, mungkin akan begini setiap hari kalau istrinya itu ada bersamanya. Adam belum pernah mendapatkan momen seperti ini bersama istrinya karena baru beberapa jam menikah bersamanya, ia harus kembali kehilangan Aileen.


Entah kapan dan di mana ia akan bertemu kembali bersama istrinya. Saat Nana sudah meletakkan makanan itu di meja, Adam masih terlihat memperhatikan gadis itu, tanpa disadari ia malah tersenyum melihat Nana. Yang ia bayangkan itu adalah Aileen, bukan Nana.


Nana melambaikan tangan tepat di depan wajah Adam, sampai pria itu terkesiap.

__ADS_1


"Jangan melamun," kata Nana, "makanannya sudah siap," sambungnya.


"Ah, iya," ucap Adam. Pria itu mulai makan. "Kamu istirahat saja, Na. Biasanya Akhsa bangun pagi-pagi sekali."


"Iya." Nana pun pergi dari dapur dan memilih untuk tidur karena takut besok kesiangan.


Keesokan harinya.


Nana terbangun dari tidurnya karena mendengar Akhsa menangis, buru-buru ia bangun dan pergi ke kamar Adam sambil menguncir rambutnya secara asal.


"Uh, sayang ...," kata Nana pada Akhsa. Akhsa pun berhenti menangis, Adam begitu lelap sehingga ia tak mendengar anaknya menangis.


Dengan cekatan, Nana mengganti popok Akhsa dan langsung membuatkan susu setelah selesai Akhsa nyaman. Saat sedang membuatkan susu, Adam pun terbangun.


"Nana," ucap Adam, "jam berapa ini? Akhsa nangis? Maaf, aku tidak mendengar," kata Adam.


"Jam 4, iya tidak apa-apa. Mas tidur lagi saja, biar Akhsa bersamaku."


Karena memang masih mengantuk, Adam kembali tidur. Ternyata begini kalau ada yang mengasuh Akhsa. Adam dapat tidur kembali dengan rasa tenang karena ia mulai percaya bahwa Nana memang dapat diandalkan.


.


.


* * *


"Kamu marah?" tanya Elena pada suaminya.


Roy tak menjawab, ceritanya ia sedang merajuk karena pas kemarin menjemput istrinya ia melihat Elena tengah bersama Alan. Tapi Roy tak mengutarakan isi hatinya, ia malah takut kemarahan Elena berbalik padanya.


"Kamu kenapa? Sejak kemarin diam saja, aku salah apa?" tanya Elena lagi.


"Tidak kenapa-kenapa," akhirnya Roy buka suara.


"Gak kenapa-kenapa kok cemberut terus, kalau ada apa-apa ya diomongin jangan dipendam sendiri. Kalau kamu gak ngomong mana aku tahu titik permasalahannya," kata Elena.

__ADS_1


"Lupakan saja, aku tidak apa-apa. Aku berangkat dulu." Roy mencium kening Elena dan setelah itu beralih pada perutnya, "Papa kerja dulu," ucap Roy berinteraksi pada calon anaknya.


Elena bekerja bagian sif 2, jadi ia berangkat agak siang.


__ADS_2