Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 179 Jadilah Ibu Dari Anak-Anakku


__ADS_3

Menatap langit-langit kamar. Menjadikan tangan sebagai bantal. Ingatannya menerawang kebeberapa menit yang lalu. Bibir itu seakan masih terasa, ia tak menyangka akan melakukan itu dengan gadis yang sering ia hina. Jatuh cinta mengalahkan segalanya.


Memejamkan mata sejenak, lalu kembali terbuka. Ia benar-benar tak dapat tidur malam ini. Padahal, waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Bayang wajah Dewi selalu menghiasi. Tanpa sadar, bibirnya melengkung tersenyum. Ia juga tidak menyadari bahwa lelaki yang tidur di sampingnya tengah menatap ke arahnya.


"Kamu belum tidur?"


Suara itu mengalihkannya. Nathan menoleh ke arah samping di mana akan adanya Akhsa di sana. "Seindah inikah jatuh cinta? Aku sampai tidak bisa tidur karena wajahnya selalu terbayang." Jawab Nathan sambil memiringkan tubuh menghadap ke arah Akhsa, dengan satu tangan menopang kepalanya.


Akhsa tau siapa yang dibicarakan oleh pria itu, karena tidak ada yang disembunyikan olehnya. Mereka bersaing dan akan mendapatkan hati Dewi dengan terang-terangan.


"Ingat, siapa pun yang dipilih dia nanti, kita harus bisa terima," ucap Akhsa. Meski ia tau siapa yang akan dipilih oleh gadis itu. Tak menampik kalau Dewi juga memang sudah menyukai Nathan, entah sejak kapan itu, yang jelas, Dewi sudah menunjukkan rasa sukanya.


"Hmm." Jawab Nathan kembali mendaratkan kepala di bantal, "aku sudah mulai mengantuk, aku tidur dulu."


"Ya, tidurlah. Jangan sampai kamu sakit lagi, aku tidak mau bersaing dengan orang sakit. Aku tidak akan memberikan rasa kasihanku padamu," ucap Akhsa diiringi mata terpejam.


* * *


Aroma masakan sudah tercium dari arah dapur. Nisa dan Dewi sudah berkutat di dapur yang tengah menyiapkan sarapan untuk para penghuni di rumah itu. Semua kumpul di kediaman Halim, tak terkecuali. Dihari minggu ini, semua menghabiskan waktu di rumah saja.

__ADS_1


Dewi menata hasil masakannya di atas meja. Lalu, Dewa pun datang dan langsung menyicipi makanan itu tanpa sendok.


"Jorok!" Dewi memukul tangan itu secara spontan.


"Pelit, aku cuma mau menyicipinya," ucap Dewa ketus.


"Mandi dulu sana," titahnya.


"Apa sih, pagi-pagi sudah ribut," sela Nisa. wanita itu menambahkan makanan di atas meja, "mandi dulu sana, kamu pasti baru bangun," kata Nisa pada Dewa.


Laki-laki itu hanya nyengir kuda dan memasang wajah tak berdosa. "Tante sama calon Kakak ipar sama galaknya!" cetus Dewa sembari berjalan meninggalkan ruang makan.


Dewi menggelengkan kepala cepat. Ia tak tau harus menjawab apa, karena ia memang belum pacaran dengan pria itu.


"Kalau memang sudah saling suka, kenapa harus diulur?" ujar Nisa.


"Maksud, Kakak?" Dewi terkejut mendengar penuturan wanita yang menjadi tante dari pria yang ia sukai.


"Kalian menikah saja, tidak usah menunggu lama." jawabnya Nisa. Nisa melihat wajah Dewi dengan seksama, lalu tangannya terhuyun menyentuh bibir Dewi, "bibirmu kenapa? Kok merah gitu? Kakak rasa itu bukan karena lipstik?" selidiknya.

__ADS_1


Dewi menepis tangan itu, lalu menyentuh bibirnya sendiri. "Ini warna dari lipstik, aku baru mencobanya," elaknya. Padahal itu, hasil perbuatan keponakannya karena semalam Nathan menggigitnya. "Warnanya jelek ya? Aku ganti saja warnanya."


Dewi langsung pergi berniat ke kamar untuk memberikan lipstik di bibir. Sepertinya Nisa sudah mulai curiga, apa lagi dia menduga bahwa dirinya sudah menjalin kasih dengan keponakannya.


Saat Dewi masuk ke dalam kamar, Nathan langsung menyelipkan tubuh di pintu yang hampir tertutup. "Kakak ...," protes dengan aksi Nathan.


Pintu langsung ditutup oleh pria itu, bahkan menguncinya. "Kenapa dikunci? Kakak mau apa?" Dewi setengah ketakutan, apa lagi teringat akan kejadian semalam.


Tanpa aba-aba lagi, Nathan memeluk gadis itu.


"Menikahlah denganku," bisiknya, "aku sudah siap, kamu mau 'kan jadi istriku? Jadilah ibu dari anak-anakku."


...----------------...


Mampir di sini, judul : Nota Hutang Di Atas Pernikahan


By : Haryani


__ADS_1


__ADS_2