
Kebahagiaan menyelimuti keluarga Wiliam serta keluarga Halim. Mereka masih berada di rumah sakit, setelah beberapa hari di sana, kini saatnya Nindya pulang bersama sang buah tercinta.
Andra mendorong kursi roda yang ditumpangi istrinya. Sedangkan si kembar dipangku oleh Rahayu dan Anye.
Si kembar sudah diberi nama oleh Wiliam sendiri, nama yang diberikan untuk kedua cucunya adalah Nathan dan Nala yang berarti hadiah dari Tuhan, kehadiran mereka memberi makna yang luar biasa untuknya. Menyadarkannya untuk menjadi manusia yang tidak sombong.
"Keluarga kita lengkap sekarang," ucap Wiliam bahagia, "mereka akan menjadi penerus keluarga Wiliam," tuturnya lagi.
Mereka sedang dalam perjalanan pulang, bahkan Panji dan Nisa sejak tadi menghubungi karena sudah tidak sabar bertemu keponakannya. Tak lama, mereka pun sampai di rumah utama. Seisi rumah itu menyambut kedatangan si kembar sebagai anggota baru di keluarga Wiliam yang dikenal sebagai keluarga terhormat.
Yang dulu sangat disegani karena Wiliam pria yang terkenal angkuh. Namun keangkuhan itu sudah tidak nampak lagi semua sirna setelah Nindya menjadi menantunya. Wanita itu mampu membuatnya menjadi pria hangat. Kehadiran sang cucu benar-benar membuatnya pria penyayang.
Setelah tiba di rumah, Wiliam terus menggendong si kembar secara bergantian.
"Wil, biarakan mereka tidur dengan nyenyak. Nanti mereka merasa sakit karena terus digendong dari tangan ke tangan yang lain," kata Anye menyarankan.
"Tidak sabar menunggu mereka besar dan tumbuh menjadi anak-anak yang lucu. Mereka pasti seperti Panji dan Nisa," ujar Wiliam.
"Iya, mereka pasti seperti om dan tante-nya. Cantik juga tampan," jelas Anye.
Meski tidak rela melepaskan sang cucu, Wiliam pun akhirnya menidurkan mereka di kereta bayi. Kamar yang dibuat khusus untuk sang cucu nampak seperti kamar seorang raja dan ratu.
* * *
Jika mereka tengah bahagia, tapi tidak dengan Adam. Pria itu harus merawat anaknya seorang diri, bahkan ia sama sekali tidak tahu kabar tentang istrinya. Morano benar-benar memisahkan mereka, Adam bukan tak ingin mencari keberadaan Aileen. Ia tak ada waktu karena sibuk bekerja dan mengurus bayi-nya.
Kemana pun ia pergi, Adam selalu membawanya. Seperti sekarang, inilah potret di mana Adam membawa anaknya.
Sungguh malang nasib anak ini, harus terpisah dari sang ibu yang sudah melahirkannya. Dengan cara seperti ini yang bisa dilakukan Adam saat bepergian. Meski begitu, ia harus tetap kuat menghadapi masalah yang menimpanya. Ia akan mengajak Rakhsa ke rumah utama untuk menjenguk si kembar.
Adam kembali masuk setelah tadi sempat keluar. Saat sedang mengemudi, sesekali ia melihat anaknya, lalu tersenyum kecil. Ia tak ingin lagi terpuruk dalam kesedihan yang berkempanjangan.
"Kamu tidak sendiri lagi Sa, kalian pasti tumbuh besar bersama-sama dengan si kembar," tutur Adam yang belum tahu akan nama kedua anak dari bosnya.
Saat sedang menyetir, ponsel miliknya berdering. Ia mengangkatnya dengan satu tangan, dan tangan yang satunya sibuk menyetir.
"Ada apa, Roy?" Ternyata yang menghubunginya adalah teman kerja sekaligus teman pelipur lara saat sedang bersedih.
__ADS_1
"Tuan Andra sudah pulang, kapan kamu akan menjenguk anaknya?" tanya Roy di sebrang sana.
"Aku sedang dalam perjalanan menuju sana," jawab Adam.
"Ok, aku pun menyusul," ucap Roy lagi.
Panggilan pun terputus, Adam kembali fokus pada kendaraannya. Ia pun akhirnya sampai di kediaman Wiliam. Rumah yang paling besar di daerahnya.
Adam pun masuk setelah gerbang dibuka oleh satpam yang berjaga. Dan ia mulai turun tak lupa menurunkan kereta bayi untuk Rakhsa.
"Siang, Tuan," sapa security.
"Siang juga, Pak," jawab Adam.
"Wah ... Tuan kecil sangat tampan," ucap security lagi.
"Mananya Rakhsa, Pak. Panggil saja Aksha, jangan Tuan," jelas Adam.
Satpam pun mengangguk mengerti.
Tin, tin ...
Suara klakson terdengar dari luar gerbang, sudah dipastikan oleh Adam kalau itu pasti Roy.
"Iya, Pak. Silakan, saya masuk duluan kasian Aksha." Adam pun masuk ke dalam. Baru saja melangkah, Roy langsung berteriak memanggil namanya.
"Dam?" panggil Roy.
Adam menoleh, lalu melengos pergi. Bukannya apa-apa, cuaca di luar begitu panas ia harus memikirkan anaknya.
"Lah, kok pergi sih," kata Roy.
"Kasian Akhsa kepanasan," ucap Elena.
"Oh, gitu ya? Aku kira kenapa," kata Roy lagi.
"Kamu kira dia kenapa, hah?" sewot Elena, bawaannya itu selalu pengen marah pada suaminya itu. Jika ada kena omel, kalau tidak ada disuruh pulang cepat. Ya itulah kebiasaan bumil itu.
Sedangkan Roy, ia mulai terbiasa dengan sikap istrinya. Bahkan sejak pertama kali bertemu pun wanita itu sudah galak padanya.
__ADS_1
"Ayok," ajak Roy setelah membuka pintu mobil arah istrinya.
Elena langsung turun dan segera masuk ke dalam, bahkan meninggalkan suaminya yang masih berdiri di samping mobil, ia hanya menatap kepergian istrinya yang berlalu begitu saja. Hanya bisa geleng-geleng kepala saat tingkah istrinya seperti itu. Walau begitu, ia tetap sayang padanya.
Emosi bumil turun naik, jika sedang manja tak nanggung-nanggung. Kadang Elena mau tidur dalam pangkuan suaminya jika manjanya sedang kumat. Tidak mau jauh-jauh dari suaminya itu. Roy susah bergerak sampai tangannya kesemutan karena menahan beban tubuh istrinya.
"Mau sampai kapan berdiri terus di sana?" tanya Elena berteriak.
Roy menghela napas dengan kasar, mode istrinya sedang tidak baik. Ia harus menyiapkan mental dari sekarang. Dengan cepat Roy berlari ke arah istrinya.
"Tidak usah lari-lari," cetus Elena.
"Diam salah, lari salah," gumam Roy.
"Kenapa menggerutu? Pasti ngedumel tentangku, iyakan?" Elena curiga karena Roy pasti seperti itu saat ia tengah kesal padanya. Elena sendiri mencoba meredam emosinya, tapi ia tak bisa. Semakin mencoba, ia semakin ingin marah. Ia sendiri tidak tahu apa sebabnya.
* * *
"Hai, Dam?" sapa Andra yang tengah menuruni anak tangga, "sendiri?" tanyanya kemudian.
"Sama Akhsa," jawab Adam.
"Lalu, di mana Aksha-Nya?"
"Sama Nyonya Anye, gak tahu dibawa kemana," jawab Adam.
Meski Aksha tak mendapatkan kasih sayang dari ibunya, tapi ia mendapatkan kasih sayang dari semua orang. Termasuk Anye dan Wiliam, yang jelas mereka adalah mertua dari istrinya yang dari pernikahannya dulu. Di sini rasa bersyukur Adam, ia selalu dikelilingi orang-orang baik.
"Oh ... Aku kira kamu sudah mendapatkan baby siter," sahut Roy dari arah belakang.
"Jangan membahas baby siter, sampai kapan pun aku tidak akan memakai jasa itu. Aku bisa mengurus Akhsa sendiri," kata Adam.
"Sudah-sudah ... Nanti kalian malah bertengkar soal baby siter," kata Andra. Karena ia tahu tujuan mereka kemari, ia langsung saja mengajaknya ke lantai atas untuk bertemu dengan si kembar.
"Siapa namanya?" tanya Roy pada Andra saat berjalan di anak tangga.
"Nathan dan Nala," jawab Andra, "bagus 'kan?" sambungnya kemudian.
"Bagus, itu artinya hadiah dari Tuhan," timpal Elena.
__ADS_1
"Emang hadiah dari Tuhan, kalau bukan dari Tuhan lantas dari siapa?" celetuk Roy, pria itu tidak mengerti apa yang dimaksud istrinya, alhasil, Elena mencubit pinggangnya keras-keras.
"Aduh, aduh ... Sakit," keluh Roy.