
Di rumah sakit.
Nindya terpaksa harus bermalam di rumah sakit, dan pagi ia ingin pulang karena sudah merasa baikan. Sedangkan Andra, ia bertanya lebih dulu kepada istrinya untuk memastikan bahwa ia baik-baik saja. Apa lagi mendengar kabar bahagia ini membuat Andra harus menjaga extra akan istrinya.
"Aku tidak sakit, Mas. Aku tidak butuh kursi roda, kamu itu berlebihan sekali!" cetus Nindya. Bukannya tidak ingin punya anak lagi, ia hanya teringat bagaimana proses sesudah operasi pasca melahirkan si kembar. Sakitnya tidak ketulungan, kalau boleh memilih ia ingin melahirkan secara normal.
Pingsannya kemarin karena ia kelelahan dan itu ternyata disebabkan bahwa ia pun sama seperti Nana, bahkan usia kandungannya pun sama baru 2 minggu.
"Kalau tidak mau naik kursi roda berarti aku gendong saja, bagaimana?"
Dari pada digendong, Nindya lebih memilih naik kursi roda. Dan mereka putuskan untuk pulang ke rumah Halim orang tua Nindya. Perjalanan yang lumayan jauh membuatnya terpaksa bermalam beberapa hari saja di sana.
"Mas, kita ke rumah Nana dulu ya? Aku mau memastikan bahwa dia ada di rumahnya," pinta Nindya saat dalam perjalanan pulang. Saat mereka di jalan, Nindya tak sengaja melihat Nana tengah sarapan bubur di pinggir jalan. Dan itu salah satu tempat favorit mereka selagi bermain bersama-sama.
"Stop, Mas!"
Andra mengerem mendadak karena Nindya memintanya berhenti secara tiba-tiba. Dan wanita itu langsung turun dari mobil dan menghampiri temannya itu.
"Na?" panggil Nindya.
Nana langsung menoleh ke arah sumber suara. Niat hati tak ingin bertemu karena setelah ini ia akan mencari pekerjaan selagi perutnya belum membesar.
"Sendiri saja, mana Adam?" tanya Nindya. Belum menjawab, Andra lebih dulu datang dan ikut duduk bersama mereka.
"Iya, kemana dia?" timpal Andra. Nana tak menjawab, ia malah kembali fokus pada makanannya.
__ADS_1
"Pak, bubur 2 ya?" pesan Nindya. Pesanan Nindya saja belum datang, tapi Nana sudah undur diri. "Na, mau kemana?" tanya Nindya.
"Aku harus pergi, ada urusan." Dan Nana langsung segera pergi setelah membayar makanannya dan tak memperpanjang obrolannya dengan Nindya.
"Adam kemana sih? Kok Nana sendiri, coba kamu hubungi dia. Tidak siaga banget jadi laki-laki!" cetus Nindya.
"Ya jangan marah sama aku dong, aku tidak tahu kemana dia," sahut Andra. Setelah itu ia pun menghubungi Adam, "kamu di mana? Kenapa tidak bersama Nana? Barusan aku bertemu dengannya dia lagi makan bubur di pinggir jalan."
"Aku harus pulang, Akhsa rewel. Dia tidak bisa tidur kalau Nana tidak menceritakan dongeng untuknya. Nana juga tidak mau pulang, tapi nanti aku ke sana lagi untuk membujuknya pulang," terang Adam.
"Oh, ya sudah. Lebih cepat lebih baik kamu kembali." Inginnya, Andra membahas soal Aileen. Berhubung ada Nindya, ia tak jadi karena takut bagaimana pun Aileen mantannya. Andra cari aman saja, dan panggilan langsung berakhir.
"Apa katanya? Dia di mana?" tanya Nindya. Obrolan mereka terjeda karena makanan yang dipesan datang. "Terima kasih, Pak," ucap Nindya. Tukang bubur itu hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Adam pulang, Akhsa rewel karena tidak bisa tidur tidak ada Nana. Akhsa bergantung sama Nana, butuh waktu untuk Aileen menggantikannya, meski dia ibu kandungnya pasti beda cara memperlakukannya karena belum terbiasa," terang Andra, "coba kamu bujuk Nana agar mau kembali ke kota, setidaknya kalau tidak bisa sama Adam dia lihat Akhsa."
"Iya, aku suruh dia ajak mereka kemari."
* * *
Nana mendatangi setiap toko yang ada di pinggir jalan, siapa tahu ada lowongan pekerjaan untuknya. Mencari bekal untuknya sebelum pergi jauh. Tapi sayang, tidak ada lowongan untuknya. Nana sedikit lelah, karena matahari sudah meninggi. Terasa panas dan haus sekali, ia pun akhirnya berhenti di warung untuk membeli air minum, saat di situ ia melihat selembar kertas yang menempel di dinding warung.
Ada lowongan pekerjaan, bekerja sebagai tukang cuci piring di sebuah restoran. Nana senang, akhirnya ada pekerjaan untuknya. Dia langung menuju lokasi. Dan benar saja, ia diterima sebagai tukang cuci piring di sana. Untuk upah akan dibayar setiap hari, perharinya 50 ribu. Dan hari ini, ia mulai bekerja separuh waktu, luamayan meski dapet upah 25 ribu hari ini.
Nana bekerja sangat baik, tak ada masalah di tempat kerjanya hingga tak terasa restoran tutup jam 9 malam. Ia juga merasa beruntung karena mendapatkan nasi kotak yang dibagikan dari restoran tersebut.
__ADS_1
Untuk beberapa hari ke depan, mungkin ia masih tinggal di rumahnya yang lama. Nana sampai di rumah reotnya. Para tetangga bukannya tidur, ini malah kepo sama kehidupan Nana yang kembali ke kampung halaman. Nana tidak tahan dengan ibu-ibu di sana.
"Baru pulang? Dapat target gak, Na?" tanya seorang ibu-ibu rempong.
"Makanya, jadi pengasuh ya pengasuh saja. Gak usah gaet bapaknya juga," celetuk ibu yang lain.
Nana tak menanggapi omongan mereka, ia sudah lelah dan merasa lapar. Setibanya di dalam ia langsung memakan nasi kotak hasil bawaannya.
Sementara Adam, ia harus berusaha menenangkan Akhsa.
"Akhsa tidur ya, Papa janji akan mengajak Mama Nana kemari," bujuk Adam.
"Aku mau pulang, Pa. Gak mau di apartemen, di sini gak ada teman, aku bosan ada di sini," oceh Akhsa.
Sedangkan Aileen, ia tak bisa membujuk anaknya. Akhsa sudah sangat bergantung pada wanita itu, ia sudah mencoba membacakan dongeng untuk anaknya, tapi sepertinya cara penyampainnya kurang pas sehingga Akhsa malah tidak bisa tidur. Akhirnya ia nyerah dan menyuruh Adam untuk menidurkan anaknya.
Setelah banyak drama, akhirnya Adam berhasil menidurkan Akhsa. Dan ia pun tidur di samping anaknya, ia tidak tidur bersama Aileen. Entah kenapa, ia merasa ada yang kurang, cintanya sudah terbagi dengan Nana. Ia tak bisa senang-senang di sini sedangkan Nana menderita di sana. Apa lagi dengan keadaan rumahnya. Itu lebih buruk dari rumahnya sewaktu hidup miskin.
Aileen pun tak mengajak Adam tidur bersama, seiring berjalannya waktu, rasa itu pudar dengan sendirinya. Apa lagi yang diketahui Adam, ingatannya itu belum pulih. Apa keduanya memang sudah tidak ada cinta? Apa mungkin memang karena Akhsa? Mereka berdua jadi tidak ada yang meminta untuk berpisah?
Keduanya pun akhirnya terlelap dan tidur di kamar yang berbeda . Keadaan membuat mereka tersakiti, kebersamaannya memang dipaksakan karena Akhsa. Aileen kira, setelah ingatannya kembali semua akan seperti dulu, dan ternyata tidak. Ada cinta lain yang lebih dulu mengisi kekosongan suaminya.
...----------------...
Seperti yang sudah dijanjikan, minggu ini bagi siapa yang memberikan dukungan terbanyak akan mendapatkan hadiah dariku, berupa pulsa. Meski pulsanya tidak seberapa setidaknya bisa ditukar jadi kouta, lumayankan.
__ADS_1
Caranya gampang, kumpulkn poin lalu kirim melalui hadiah atau vote dan sebagainya. Dan jangan lupa follow profilku, terima kasih semuanya. Akan diberikan kepada ranking mingguan. Mungkin contohnya seperti ini.