Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 56


__ADS_3

Bukan hanya itu, Andra juga melihat kamar yang di tempati dokter Elena seperti kapal pecah. Tempat tidur itu sangat berserakan, bantal, selimut, dan guling berceceran di atas lantai.


"Apa Roy segila itu?" pikir Andra mengenai permainan ranjang mereka. Tidak bisa dibiarkan, ia harus bertindak cepat. Ia tak ingin villa-nya dijadikan tempat maksiat oleh mereka.


"Apa yang kalian lakukan?"


Roy dan dokter Elena pun terkejut ketika mendengar suara lantang dari ambang pintu. Mereka berdua langsung menjauh, bahkan anting yang hendak dipakaikan oleh Roy kembali terjatuh entah kemana.


Roy mencari anting itu saat itu juga, tapi Andra berpikir bahwa itu hanya akal-akalan Roy saja.


"Apa yang kamu cari, Roy? Sudahlah, jangan berlaga tidak ada apa-apa di antara kalian. Jangan membohongiku lagi." Kali ini, ia tak ingin dibohongi seperti semalam.


Tapi Roy tetap mencari anting itu. Andra yang geram langsung meraih baju bagian kerah belakangnya.


"Hey ... Jangan pura-pura tidak mendengarku!"


"Sebentar, aku harus cari anting Dokter Elena yang jatuh barusan. Tuan jangan selalu berpikir yang tidak-tidak padaku." Akhirnya, Roy meluapkan kekesalannya karena bosnya selalu berpikir negatif padanya.


"Baiklah, cari sampai ketemu. Aku akan menghubungi ibumu dan mengatakan bahwa anaknya harus segera dinikahkan."


Dokter Elena yang menyadari akan percakapan mereka langsung terkejut. Bahkan ia tak bisa membela diri karena keadaan mereka sudah tersudut.


Roy tak menggubris, lebit tepatnya ia begitu tak mendengar jelas penuturan bosnya. Ia terlalu fokus pada anting yang terjatuh itu, ia tahu kalau anting itu sangat berharga bagi Elena. Karena tadi dokter itu sudah memberitahukan akan berharganya barang tersebut.


"Nah, ini dia." Ucapnya seraya mengambil anting itu. "Ini, aku tidak bohong 'kan?" Roy memperlihatkan benda itu pada tuannya. Sayang, itu semua sudah terlambat karena Andra sudah menghubungi ibunya Roy melalui vidio cal.


"Ibu?" Ucap Roy ketika melihat wajah ibunya di layar ponsel milik tuannya.

__ADS_1


"Nih, bicaralah. Dan katakan padanya bahwa kamu akan menikahinya." Tutur Andra seraya memberikan ponsel itu pada Roy.


"Nikah? Menikah dengan siapa?" batin Roy.


Dokter Elena semakin tercekat, bahkan untuk bernapas saja ia merasa tak bisa. Bagaimana ini? Bagaimana menyelesaikan kesalahpahaman ini? Andra tidak akan percaya begitu saja setelah apa yang sudah ia lalui bersama Roy. Kejadiannya tak seperti yang dibayangkan oleh pria itu.


"Roy ... Buat malu saja! Ibu gak mau tahu, kamu harus kenalkan dia pada Ibu! Kamu mau membunuh wanita yang sudah melahirkanmu secara mendadak, hah?" Nada suara itu sangat menggelegar bak petir yang menyambar.


"Bu, aku bisa jelaskan. Ini hanya salah paham, Ibu jangan percaya pada Tuan Andra. Dia tidak tahu yang sebenarnya," jelas Roy pada ibunya.


"Maksudmu aku mengada-ngada gitu? Aku membohongi ibumu, begitu?" timpal Andra.


"Bukan begitu, Tuan. Ini salah paham, tolong mengertilah," bela Roy sendiri.


"Bu, Ibu jangan mau dibohongi olehnya. Ibu percaya padaku 'kan?" kata Andra pada ibunya Roy.


"Pokoknya Ibu mau bertemu dengannya, atau Ibu yang akan menemuimu ke sana." Ibu-nya Roy langsung mentup panggilan vidio cal itu secara sepihak.


"Sudahlah, Roy. Sudah saatnya kamu menikah." Ucapnya seraya pergi dari kamar itu. Dalam hati, Andra merasa senang karena sudah menjahili sekretarisnya itu. Kalau tidak begini, mungkin Roy tidak akan menikah. Padahal ia tahu, kalau Roy tidak berbobong akan anting itu.


Yang jelas, ia ingin anak buahnya itu menikah dan melepas masa lajangnya. Sudah waktunya Roy menikah. Andra kembali menemui istrinya, ia terus menebar senyumnya sampai-sampai Nindya penasaran apa yang sudah terjadi pada suaminya itu.


"Ada apa? Mana Roy dan dokter Elena?" tanya Nindya.


"Mungkin mereka sedang berdiskusi, memecahkan permasalahan mereka," jawab Andra.


"Maksudnya? Aku tidak mengerti."

__ADS_1


Andra pun menjelaskan secara detail pada istrinya tentang apa yang terjadi pada mereka. Nindya sampai geleng-geleng kepala dengan tingkah suaminya yang sudah usil pada sekretarisnya sendiri.


"Kamu ini ada-ada saja, bagaimana kalau ibu-nya Roy memintanya untuk menikahinya?"


"Ya bagus dong, Roy tidak jomblo lagi."


"Bukan itu masalahnya, kalau mereka tidak saling mencintai bagaimana? Mereka nikah karena terpaksa dan salah paham, apa kamu yakin kalau mereka menikah akan bahagia?"


"Itu urusan nanti, cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu."


***


Dokter Elena terdiam, bahkan Roy mencoba menjelaskan pada gadis itu bahwa tidak akan terjadi apa-apa di antara mereka. Apa lagi sampai menikah, Roy tahu bahwa yang dicintai gadis itu bukanlah dirinya. Ia tak ingin membuat gadis itu menerimanya karena terpaksa.


"Jangan menyentuhku! Pergilah!" usir Elena.


saat Roy mencoba untuk meraih tangannya. Padahal ia hanya ingin memberikan anting itu padanya.


Dan akhirnya Roy pun pergi meninggalkan gadis itu sendirian.


"Aku tunggu di meja makan," ucap Roy sebelum menghilang dari pandangannya.


...----------------...


Mana tim Roy dan Elena?


Tidak semudah itu, Ndra menikahkan mereka. Mereka 'kan sama-sama kepala batu🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2