Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 57


__ADS_3

Roy tiba di ruang makan, ia melihat tuannya yang sedang tertawa bahagia bersama istrinya. Bisa-bisanya mereka bahagia di atas penderitaannya, pikirnya. Bukan menderita akan masalahnya dengan Elena, melainkan, amarah yang akan ia terima dari ibu-nya nanti.


Andra dan Nindya langsung menghentikan sendau gurau mereka. Mereka melihat wajah Roy yang nampak kusut. Roy mendudukkan diri di samping tuannya.


"Mana dokter Elena?" tanya Nindya.


"Mungkin sebentar lagi," jawab Roy apa adanya.


Nindya mengangkat kedua bahunya ke arah suaminya, seolah bertanya ada apa dengan pria ini? Kenapa wajahnya ditekuk?


Andra hanya menggerakan tangan dengan cara mengangkatnya ke udara sebagai jawaban, ia juga tidak tahu apa yang terjadi padanya. Tak lama dari situ, Elena muncul. Ia sudah terlihat cantik seperti biasa, bahkan ia langsung menghampiri mereka.


"Maaf, sepertinya aku harus segera kembali ke rumah sakit. Ada pasien yang sedang membutuhkanku," tutur Elena.


Jika sudah mengenai pekerjaannya, Andra dan Nindya tak lagi bisa menahan kepergian dokter itu.


"Nona Nindya juga sudah terlihat lebih segar, saya rasa sudah tidak ada lagi yang harus saya lakukan di sini," kata Elena lagi. "Saya permisi." Ucapnya seraya membungkukkan tubuhnya dan setelah itu ia benar-benar pergi dari pandangan Andra, Nindya juga Roy.


Roy sendiri merasa tidak enak akan kesalahpahaman ini, terlebih dengan sikap ibunya yang memaksanya untuk membawa Elena di hadapan wanita paruh baya itu. Jelas, dokter Elena mendengar apa yang diucapkan oleh ibu-nya Roy saat tadi.


Roy dan yang lainnya pun sarapan tanpa suara. Bahkan Andra sendiri tak berani berucap karena Roy begitu fokus dengan makanannya. Bahkan Roy lebih dulu menyelesaikan sarapannya.

__ADS_1


"Mau ke mana, Roy?" tanya Andra saat melihat Roy beranjak dari tempatnya.


"Menemui ibu, aku harus menjelaskan semuanya karena ini salah paham. Saya pamit, Tuan." Tanpa mendengar jawaban dari tuannya ia langsung pergi.


"Roy marah?" tanya Nindya pada suaminya.


"Sikapnya memang begitu, sudah biasa," jawab Andra.


***


Elena tidak fokus dengan kendaraannya, beberapa kali ia hampir menabrak mobil yang berpapasan denganya. Tapi, ia selamat sampai di tujuan. Kalau bukan karena pekerjaannya ia merasa malas untuk pergi kesana, terlebih ia akan bertemu dengan dokter Alan yang kini sudah menjadi kekasih suster Mira.


Sedangkan Roy, ia baru saja tiba di rumahnya. Baru menampakkan diri, ia langsung dicecar oleh ibu-nya. Ibu Roy yang bernama Rahma itu langsung melihat-lihat ke arah belakang putranya, berharap anaknya akan mengajak wanita yang sedang dekat dengannya.


"Mana gadis itu, hah?" tanya Rahma.


"Gadis mana, Bu? Aku ke sini datang sendiri, tidak sama siapa-siapa."


Roy menghirup oksigen sebanyak-banyaknya sebelum ia menjelaskan tentang dokter Elena, ia harap ekspresi ibunya akan baik-baik saja padanya.


"Bu." Ucap Roy sambil meraih tangan ibunya. "Dengarkan aku, aku sama dokter Elena tidak ada hubungan apa-apa. Jadi Ibu jangan menyuruhku untuk menikahinya, Ibu jangan percaya sama Tuan Andra," jelas Roy dengan cara perlahan.

__ADS_1


"Kenapa Ibu harus percaya padamu? Lalu, menurutmu Tuan Andra itu berbohong pada Ibu, hah?" katanya. "Oh, jadi gadis itu bernama Elena. Dia seorang dokter," sambungnya lagi


Roy memejamkan matanya, jawaban sang ibu tak sesuai dengan ekspektasinya. Ibu Rahma lebih percaya pada majikannya ketimbang anaknya sendiri. Ibu Rahma juga sudah menginginkan putranya untuk segera menikah, ia sudah mendambakan hadirnya sosok bayi mungil dihidupnya. Jelas, ia lebih percaya pada tuan Andra.


"Kalau kamu tidak mau mengenalkan Ibu padanya, Ibu sendiri yang akan menemuinya." Sangat mudah baginya untuk mencari gadis itu, apa lagi wanita itu adalah seorang dokter.


Mampus! Roy tidak bisa lagi menahan ibunya jika keadaannya sudah seperti ini. Meski ia dulu seorang mafia, hidup liar di luar sana, tapi ia anak yang suka membangkang pada orang tuannya. Ia begitu sangat menyayangi ibunya itu.


"Bu, kumohon ..." Roy mengatupkan kedua tangannya, ia tak ingin ibunya menemui dokter Elena. Ia tahu siapa yang dicintai dokter itu, ia tak ingin memaksa seseorang menjadi miliknya. Apa lagi ia tidak yakin dengan perasaan yang ia rasakan pada dokter Elena. Meski wanita itu sering muncul dalam bayang-bayangnya akhir-akhir ini, dan ia rasa itu bukan cinta melainkan seringnya bertemu dengannya.


Apa lagi dengan pertemuannya yang selalu dalam kondisi tidak tepat waktu. Pertemuan yang sering diwarnai keributan seperti Tom and Jarry.


Ibu Rahma tidak mempedulikan anaknya, ia harus segera menemui gadis itu. Jika perlu ia akan langsung melamar dokter itu untuk menjadi menantunya.


"Ayo, antar Ibu menemuinya," ajak ibu Rahma.


...Roy hanya bisa menelan salivanya saking terkejutnya. Bagaimana ini? Apa yang harus ia lakukan di hadapan Elena nanti?...


...----------------...


Jangan lupa tinggalkan jejak, terima kasih😘😘

__ADS_1


__ADS_2