Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 139 Kejutan Hampir Terbongkar


__ADS_3

Andra dan keluarganya sudah siap-siap kembali ke kediamannya. Roy pun ikut kembali bersama mereka, pergi beberapa hari membuatnya rindu akan keluarganya, terlebih pada Alma, anak sematawayangnya.


Kerap, Alma sering menelpon hanya sekedar melepas rindu. Dan hari ini ia akan kembali berkumpul bersama keluarga tercinta. Roy sudah berada di dalam mobil, ia tengah menunggu sang tuan masuk ke dalam mobil.


"Mas, aku temui Hanum dulu sebentar," kata Nindya.


"Iya, Mas sama anak-anak nunggu di mobil," jawabnya, "Bu, aku pulang dulu ya? Besok lusa nanti, ada orang yang akan menjemput kalian, kalian siap-siap saja," tuturnya pada sang ibu mertua.


"Iya," jawab Rahayu, ia tak menanyakan untuk apa menjemputnya, Nindya dan Andra sudah memberitahukan soal ini sebelumnya. Mereka akan menggelar pesta hari annivarsary Wilian dan Anye.


"Hati-hati di jalan." Halim memeluk menantunya terlebih dulu.


Sedangkan Nindya, ia menemui Hanum.


"Hanum?" panggil Nindya. Hanum pun menoleh, ia tengah menjemur pakainnya. Ia menghentikan aktivitasnya lalu menghampiri Nindya.


"Ya, ada apa, Mbak?" tanya Hanum.


"Ini, semoga ini bisa membantumu." Nindya memberikan amplop cokelat kepada Hanum yang berisikan sejumlah uang.


"Apa ini, Mbak?" tanya Hanum setelah menerima amplop dari Nindya.


"Ini untuk membantumu sehari-hari, jangan menolaknya. Ini juga bisa kamu gunakan untuk memeriksa kandunganmu, jangan sampai tidak diperiksa ya? Pastikan calon anakmu baik-baik saja. Aku yakin, suatu saat kamu pasti bertemu dengan suamimu."


"Terima kasih ya, Mbak?" ucap Hanum.


"Iya, sama-sama. Aku pulang dulu, jaga dirimu baik-baik." Nindya memeluk Hanum sebelum pergi, setelah itu ia baru menyusul sang suami ke dalam mobil.


"Hati-hati ya, Nak?" Ucap Rahayu sambil melambaikan tangan ke arah mobil yang mulai melaju, si kembar Nisa dan Panji pun ikut melambaikan tangannya pada keponakannya.


* * *


"Kamu habis ngapain nemuin, Hanum?" tanya Andra pada istrinya.


"Hanya sekedar pamit saja, Mas. Dan sedikit memberikan rezeki padanya," jawab Nindya.


"Istriku baik sekali." Kata Andra sambil mencium pipinya dengan gemas. "Apa, Roy? Fokus saja ke jalan," cetus Andra saat melihat Roy tengah melihatnya lewat kaca yang menggantung di bagian atas. Roy langsung berpaling.


"Siapa juga yang tengah melihatnya," gerutu Roy.


"Aku dengar apa yang kamu ucapkan," kata Andra.

__ADS_1


"Sudahlah, Mas. Kamu emosi terus sama Mas Roy," ucap Nindya.


Andra masih kesal pada sekretarisnya itu soal kemarin, bawaanya selalu ingin marah pada lelaki itu.


"Iya, Daddy kenapa? Kenapa selalu memarahi Uncle Roy?" Nala tak terima kalau om kesayangannya selalu kena omel sang daddy.


"Kenapa semua membelamu? Ada yang spesial darimu sampai melebihiku?" tanya Andra pada Roy yang sedang fokus pada kendaraannya, "kamu juga ikut-ikutan nyalahin Daddy," sambungnya pada Nala.


"Apa sih yang diributin, Daddy? Aku pusing dengarnya," protes Nathan. Nathan tipe anak yang terbilang tidak terlalu peduli dengan keadaan. Apa yang tidak disukainya pasti diprotes olehnya.


Tanpa terasa dalam perjalanan, mereka pun sampai di mansion Andra. Semua pelayan menyambut kedatangan mereka, apa lagi ada Wiliam dan Anye di sana. Tidak bertemu dengan sang cucu membuatnya begitu sangat rindu.


"Oma, Opa ..." Nala berlari menghampiri Wiliam dan Anye, karena ia yang lebih manja dari pada Nathan. Nathan terbilang cuek, sehingga ia sedikit acuh kepada oma dan opanya.


"Peluk cium, Oma sangat rindu padamu." Kata Anye sambil memeluk Nala.


"Apa kepergianku membuat kalian kesepian?" tanya Nala.


"Iya, kami rindu, sayang," timpal Wiliam.


Lalu, Andra dan Nindya pun masuk. Memberi salam kepada Wiliam dan Anye secara bergantian.


"Apa kabarmu?" tanya Anye pada menantunya.


"Oma tahu gak kalau Mommy-," ucap Nala menggantung karena dibekap oleh Andra.


"Kalau Mommy cape," pungkas Andra.


"Daddy, aku 'kan cuma mau bilang kalau Mommy-." Lagi-lagi, Andra membekap mulutnya menggunakan tangan. Tidak ingin kejutan itu gagal, Andra langsung membawa Nala ke kamar. Kejutan hampir terbongkar, pikirnya.


"Ada apa? Nala mau bilang apa?" tanya Wiliam pada Nindya, "apa selama di sana telah terjadi sesuatu padamu?" duganya.


"Tidak, Dad. Aku baik-baik saja, aku hanya ingin istirahat saja," jawab Nindya bohong. Padahal ia tidak ingin mertuanya tahu akan kehamilannya, karena ia akan memberitahukannya nanti saat hari H itu tiba.


"Ya sudah, kamu istirahat saja," kata Anye.


* * *


"Daddy apa-apaan sih?" Nala kesal pada sang daddy.


"Jangan kasih tahu dulu sama Oma dan Opa soal kehamilan Mommy, Daddy akan memberikan kejutan itu nanti," jelas Andra.

__ADS_1


"Oh itu, kenapa tidak bilang dari tadi? Hampir saja ketahuan," cetus Nala pada daddy-nya.


"Iya, Daddy lupa."


"Siapa yang salah?" tanya Nala.


"Daddy," jawab Andra.


Nala menghembuskan napas karena ayahnya seperti itu, terlihat panik saat tadi di hadapan opa dan oma-nya.


"Ya sudah, sebaiknya kamu istirahat," kata Andra pada anaknya, "ingat, jangan sampai keceplosan ya? Ini kejutan untuk opa dan oma."


"Iya, aku ngerti."


Karena sudah menyuruh anaknya untuk merahasiakan ini, Andra pun keluar dari kamar putrinya. Ia menemui kedua orang tuanya. Ia melihat Anye sedang mengajak Nathan mengobrol, karena Nathan tidak sehangat Nala membuat Anye dan Wiliam harus extra sabar saat mengajaknya bicara.


Nathan ya, Nathan. Anak lelaki yang sulit didekati, bahkan sekalinya bicara omongannya begitu pedas. Andra sampai bingung karena sikapnya tak mewarisi sikapnya juga sikap Nindya. Ia terlihat seperti Wiliam saat dulu, dingin dan tidak peduli.


* * *


Setelah mengantar sang bos, Roy langsung pulang ke rumahnya. Anaknya tengah menanti kedatangannya, sedangkan Elena, wanita itu masih bertugas di rumah sakit.


"Papa." Alma berlari menghampiri mobil yang baru saja terparkir di pekalangan rumahnya. Roy langsung menggendong putri kesayangannya.


"Mama belum pulang?" tanya Roy.


"Belum, paling sore," jawab Alma.


"Papa oleh-oleh untukku tidak?" tanya Alma.


"Bawa dong, tunggu sebentar, Papa ambilkan dulu." Roy menurunkan tubuh Alma dari pangkuannya, lalu membuka pintu mobil. Ia mengambil sesuatu dari dalam sana, terus memberikannya pada Alma.


Sebuah boneka besar bahkan melebihi ukuran tubuhnya. "Aku suka, sangat suka." Ucap Alma jingkrak-jingkrak saat melihat boneka besar yang diturunkan dari dalam mobil oleh Roy.


"Bisa tidak bawanya?" tanya Roy karena ukurannya terlalu besar jika dibawa oleh anaknya, "sini, biar Papa saja yang bawa." Roy dan Alma pun masuk ke dalam rumah.


"Bi, buatkan saya minum," titah Roy pada asisiten rumah tangganya.


"Iya, Tuan," jawab si bibi, "oh iya, ada pesan dari ibu Rahma, Tuan disuruh menemui beliau. Kemarin sempat datang tapi nyonya juga tidak ada, saya baru bilang pada Tuan, tadi pagi lupa mau kasih tahu nyonya," jelas bibi.


"Oh iya, Bi. Terima kasih, nanti aku hubungi saja."

__ADS_1


Ada apa ibu menyuruhku pulang? Kenapa tidak menghubungiku?


__ADS_2