
Sementara di tempat lain.
Meriang, panas dingin mendadak hilang saat mendengar kabar bahwa Dewi berada di Sukabumi. Rasanya ingin segera menyusul gadis lugu itu. Nathan langsung bangkit dari persembunyiannya. Pagi ini ia merasa dapat asupan gizi yang sangat luar biasa.
Mendapat kabar dari Panji, sang om. Om-nya sudah tahu bahwa ia menaruh hati pada gadis itu. Dan saat Panji mendengar perbincangan Dewi dengan ibunya dan Doni mengizinkan Dewi untuk tetap tinggal di sana, ia langsung memberikan kabar itu kepada keponakannya.
Dengan semangat, Nathan segera berlari ke kamar mandi. Tidak peduli dengan pekerjaan, ia akan menyerahkan kerjaan itu kepada ayahnya.
Selesai mandi dan berpakaian, ia segera ikut bergabung di ruang makan.
"Pagi semua? Pagi, Mom." Nathan mencium pipi sang mommy. Nindya sampai terheran-heran dengan perubahan anaknya. Semalam saja anak bujangnya itu meringkuk di tempat tidur tanpa melepaskan selimut. Dan sekarang mendadak terlihat begitu bugar.
"Kamu mau kemana?" tanya Andra saat melihat setelan Nathan yang tidak mengenakan pakaian kantor.
"Hari ini aku libur ke kantor, entah sampai kapan. Aku mau ke rumah, nenek," jawab Nathan.
Nindya mengerutkan kening, tidak biasanya anaknya pergi ke sana tanpa ada yang dituju. Nindya sendiri tidak tahu bahwa Rahayu tengah sakit, sakit karena memikirkan bagaimana nasib Dewi. Ia juga tidak tahu bahwa Dewi sudah kembali.
Tujuan Nathan hanya satu, ia akan mengejar cintanya sampai ia dapatkan. Persaingan akan dimulai. Persahabatan tetap persahabatan, dan cinta tetap harus diperjuangkan. Dengan semangat 45, ia menghabiskan sarapannya.
"Memangnya kamu sudah sembuh?" tanya Andra.
"Sudah, Dad," jawab Nathan.
"Kamu mau ngapain pergi ke rumah, nenek?" tanya Nindya.
"Menemui, Dewi. Dia ada di sana, Mom. Benar apa kata Mommy, kesempatan tidak akan datang dua kali. Dan ini kesempatanku untuk mengejar cintaku," jawab Nathan mantap.
"Oh ya?" Nindya terkejut, tapi ia senang nika memang Dewi berada di sana. "Ini baru anak, Mommy. Jangan seperti Daddy, dia tidak gentle. Memendam perasaan selama dua tahun sama, Mommy." Ucap Nindya sembari melirik ke arah suaminya.
"Jangan bahas itu," cetus Andra. Dan sepertinya sifatnya mewarisi Nathan yang kurang bersikap tegas menghadapi masalah percintaan.
"Kenapa? Memang begitu 'kan? Nathan mewarisi sikapmu soal percintaan," ledek istrinya lagi.
Seketika, Andra skakmat. Rasanya ia ingin menenggelamkan diri agar tak dapat jadi bahan omongan pagi ini.
"Wah ... Daddy tidak asyik, masa selama itu memendam perasaan. Untung Mommy belum diembat orang," sahut Dewa, "kalau begitu, aku gerak cepat untuk mengejar cintaku," sambungnya lagi.
"Sekolah yang bener, kecil-kecil sudah cinta-cintaan," kata Nathan.
__ADS_1
"Siapa bilang aku masih sekolah? Aku sudah kuliah, kakak lupa? Dewi 'kan satu angkatan denganku, kalau aku masih kecil itu artinya Kakak pedofil pada Dewi."
"Enak saja kalau bicara!" sergah Nathan tidak terima dibilang pedofil.
"Makanya, jangan bilang aku anak kecil. Aku tidak mau sepertimu, aku juga sudah punya calon pacar," kata Dewa tidak mau kalah.
"Kuliah saja yang benar, jangan mendahului Kakak-kakakmu. Lupa kalau ada Nala yang masih belum punya pacar?" kata Nindya.
"Ah, itu Kak Nala-nya saja yang terlalu galak sama cowok. Sampai sekarang masih menjomblo. Sudah lama juga dia tidak pulang," ujar Dewa.
"Biarkan saja, Nala masih ingin mengejar cita-cita menjadi pengacara hebat. Mommy bangga padanya, kemarin dia menang di persidangan."
"Sidang tentang perceraian itu?" tanya Nathan, meski diam, ia tetap memperhatikan adik-adiknya.
"Iya," jawab Nindya.
"Mommy harus hati-hati, janga biarkan Nala terlalu sering menangani kasus perceraian. Nanti dia tidak mau menikah karena pekerjaannya. Belum ada satu pun yang Nala kenalkan kepada kita tentang pacarnya," oceh Nathan, "aku berangkat dulu kalau gitu, takut keburu macet," pamitnya kemudian.
"Hati-hati, pulang bawa mantu ya? Restu Mommy meridhoi," kata Nindya.
"Iya, Mom. Doa-kan anakmu ini, aku pergi."
* * *
Meski kantung mata masih menghitam akan sakit yang dialaminya kemarin tak membuat rasa semangatnya pudar. Ia ikut bersenandung kecil dengan lagu yang tengah diputarnya. Lagu jadul yang menemaninya, dengan judul lagu I'm falling in love. Suara musik yang begitu nyaring sehingga ia ikut berjoget dengan kepala manggut-manggut.
"I love you, Dewi ...," teriak Nathan seperti orang gila.
Beberapa jam dalam perjalanan akhirnya ia sampai pada jam 1 siang. Jalanan cukup macet, sampai ia merasa sedikit lelah. Sampai di kampung halaman orang tuanya, ia senyum-senyum sendiri dibuatnya. Tidak sabar dengan ekspresi Dewi saat melihatnya. Apa gadis itu akan senang dengan kedatangannya? Atau malah biasa saja karena ia terlalu sering menorehkan luka padanya?
Jawaban itu akan dapatkan nanti saat bertemu dengan gadis pujaannya. Rumah yang dikunjungi terlihat sangat sepi. Nathan yakin kalau orang-orang rumah pasti akan sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Sang nenek biasanya akan sibuk di taman belakang sambil mengurus tanaman bunga yang ia tanam sendiri.
Sengaja tidak memberikan kabar akan kedatangannya, ia ingin ini menjadi sebuah kejutan untuk Dewi. Pertama kali ia masuk mencari neneknya, dan pergi ke halaman belakang. Tapi tidak ada siapa-siapa di sana.
Lalu kembali mencari ke kamar, dan benar saja, wanita yang sudah mulai mengeriput itu tengah tidur siang. Tidak tahu sakit, Nathan berpikir hanya tidur siang biasa. Ia menghampiri, lalu berjongkok di samping ranjang. Saat menggenggam tangannya, tangan itu terasa hangat.
Saat itu juga, Rahayu membuka mata.
"Cucu-ku." Ucapnya seraya tersenyum, Rahayu sangat rindu. Rindu kepada anak dan cucu-cucunya.
__ADS_1
"Nek, Nenek sakit?" tanya Nathan, "tubuh, Nenek juga terasa hangat." Ada kekhawatiran di mata Nathan, "kenapa tidak beritahu kami?" tanyanya.
"Semua ini gara-gara kamu! Dasar bandel!" Rahayu memukul punggung tangan cucunya, "kenapa bisa bersikap seperti itu kepada Dewi? Jantung Nenek rasanya mau copot saat tahu Dewi pergi dari rumah!" cetusnya.
"Maafkan aku, Nek. Aku tahu aku salah, dari itu aku datang kemari untuk menemuinya. Rasanya ada yang kurang meski dia bilang tidak marah padaku."
"Dasar bodoh! Dewi sampai pergi karena dia sakit hati dengan ucapanmu, dasar anak nakal!" Lagi-lagi Rahayu memukulnya.
"Di mana Dewi, Nek? Aku ingin menemuinya."
"Mungkin di kamarnya, tadi dia bilang mau tidur siang. Coba saja kamu temui dia," titahnya.
Nathan mengangguk, lalu beranjak. Sebelumnya ia mencium kening yang mulai mengeriput itu.
* * *
Tahu di mana letak kamar Dewi, ia langsung menuju ke sana. Pintu kamar yang tidak tertutup sempurna sehingga ia langsung saja masuk tanpa permisi. Dan dilihatnya, gadis itu memang tengah tidur. Tidurnya begitu pulas. Nathan berdiam tepat di depannya, karena gadis itu tidur dengan posisi meringkuk. Lama ia menatap wajah itu, hingga si pemilik raga menggeliat.
Dewi membuka mata.
"Aku pasti mimpi." Ucapnya saat membuka mata seraya kembali memejamkan mata.
Sampai Nathan mengelus pipinya.
Tapi kenapa sentuhannya terasa nyata?
Ingin memastikan mimpi atau bukan, Dewi membuka mata.
...----------------...
Jangan lupa mampir di sini juga.
...CINTA SUCI YANG TERNODA...
Blur.
Suci yang ingin bunuh diri karena diperkosa, ditolong oleh seorang pria bernama Alby. Dia tinggal dan bekerja di rumahnya sebagai seorang koki. Namun, nasib malang selalu mengikutinya dia diperkosa kembali oleh Alby. Pria itu dalam pengaruh obat perangsang yang sengaja dimasukkan ke dalam minumannya oleh sang adik ipar. Alby bersedia bertanggung jawab dan menikahinya. Tetapi pernikahan mereka tidak cukup kuat untuk menahan angin yang datang. Suci di fitnah selingkuh dan di ceraikan oleh Alby, padahal saat itu Suci ingin mengatakan kalau dia hamil anak Alby. Suci pergi tanpa pernah mengatakan tentang kehamilannya. Dia pingsan di jalan dan di tolong oleh orang yang memfitnahnya seorang pria bernama Adit. Mereka semakin dekat. Ada juga Bayu tetangga mereka yang menyukai Suci. Pada siapa hati Suci berlabuh? Mantan suami, atau pria yang membuatnya bercerai dengan suaminya atau Bayu pria yang juga menolongnya saat dia jatuh.
__ADS_1