Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 163 Lepaskan!!!


__ADS_3

"Wi, tolong buatkan kopi. Terus antar keruangan pak Doni," titah seorang OB senior pada Dewi.


"Iya, Mbak. Ruangannya sebelah mana ya? Soalnya aku belum hapal."


"Ada di lantai 3, cari saja ruangan direktur."


"Ah, iya, Mbak." Ini untuk pertama kali Dewi membuat kopi, dan direktur-lah orang yang pertama meminum kopi buatannya.


Setibanya di lantai 3, Dewi merasa deg-degan. Entah perasaan apa ini, tak seperti biasanya. Dewi menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, lalu ia pun mengetuk pintu terlebih dulu.


"Masuk." Sahutan dari dalam terdengar. Ia pun segera masuk ke dalam.


"Siang, Pak. Ini kopi pesanan, Bapak," ucap Dewi.


"Letakkan saja di meja sana," jawabnya tanpa menoleh. Pria paruh baya yang masih terlihat gagah itu nampak serius dengan layar laptop-nya.


Dewi meletakkan kopi itu di atas meja sesuai perintah.


"Kamu OB baru?" tanya Doni. Ia melihat gestur tubuhnya dari belakang, dan tubuh itu beda dari OB yang lain.


"Iya, Pak. Baru masuk tadi pagi," jawab Dewi sambil menunduk, "saya permisi, Pak." Dewi pun keluar tanpa menoleh, begitu pun dengan Doni.


Sepeninggal Dewi. Doni beranjak dari kursi kebesarannya, aroma kopi membuatnya tergiur untuk segera meminumnya. Asap dari kopi itu masih mengepul, ia meniup-niup sebelum meminumnya. Mencium aromanya membuatnya sedikit rilex dari penatnya pekerjaan.


Menyeruputnya secara perlahan. Doni tertegun saat meminum kopi tersebut, tiba-tiba saja wajah Hanum muncul dalam bayangnya. Hampir 20 tahun ia meninggalkan wanita itu, tak ada dalam niatan meninggalkannya. Andai ia tak dijodohkan lagi dengan gadis lain, mungkin Hanum hanya istri yang ia cintai.


Terpaksa pergi meninggalkan Hanum karena tak ingin menyakitinya lebih lama lagi, bukan hanya orang tua Hanum yang tidak setuju akan hubungannya. Orang tua Doni sendiri pun tak menyetujuinya, hingga ia melepas Hanum begitu saja. Tanpa dia tahu bahwa wanita itu menderita sejak ditinggalkan olehnya.


Menanggung beban sampai ajal menjemputnya.


"Bagaimana kabarmu, Hanum?" Masih pantas-kah ia menanyakan wanita itu? Yang sudah jelas ia pasti tahu jawabannya. Hanum menderita, tanpa diketahui bahwa ia menyakiti dua wanita sekaligus. Dewi yang kini menjadi anak dari Hanum harus ikut menderita karena ulahnya.


Doni menggelengkan kepala, ia tak boleh lagi mengingat wanita itu. Sudah jelas ia terima kabar Hanum dari keluarganya, kabar yang ia ketahui bahwa Hanum akan dinikahkan dengan orang lain. Bagaikan kerbau yang dicocok hidungnya, ia merelakan Hanum begitu saja. Ia mentalak istri sirinya itu di hadapan mertuanya. Hingga akhirnya, secara tidak langsung ia sudah membebaskan Hanum dari hidupnya.


"Kenapa kopi ini rasanya sama persis buatan kamu, Hanum? Rasa manisnya itu pas."


* * *

__ADS_1


Jam kerja Dewi selesai. Tepat pukul 4 sore, Dewi langsung bersiap-siap. Ia bergegas ke kampus sore ini. Tidak ingin terlambat, ia pun buru-buru keluar dari gedung.


Tin Tin ...


Bunyi klakson langsung terdengar di pendengaran Dewi. Gadis itu tersenyum saat melihat ke arah mobil yang berwarna hitam. Mobil yang sudah ia kenali, siapa lagi kalau bukan milik Akhsa. Pria itu memang sengaja datang untuk menjemput Dewi dan akan mengantarnya ke kampus.


"Ayo naik, aku antar kamu ke kampus," ucap Akhsa setibanya Dewi di samping mobilnya.


Dewi langsung masuk, lagi-lagi Akhsa menjadi Dewa penolongnya. "Terima kasih selalu ada untukku, sebagai gantinya, nanti aku traktir makan dari gaji pertamaku," janji Dewi.


"Bener ya? Aku tagih nanti kalau kamu gajian."


"Iya, aku janji."


* * *


Mobil yang ditumpangi mereka berhenti dijalur lampu merah. Dewi mau pun Akhsa tidak menyadari akan mobil yang ada di sebrangnya. Mobil itu adalah milik Nathan, dan pria itu melihat ke arah mereka. Nathan terkejut, bahwa selama ini Akhsa tahu akan keberadaan Dewi. Padahal sudah jelas, ia tengah mencari gadis itu, dan teganya Akhsa tidak memberitahukan keberadaan gadis itu padanya.


Hatinya mendadak panas saat melihat mereka tertawa bersama. Tertawa di atas penderitaannya. Betapa tersiksanya ia selama dua hari ini. Tangannya mengepal lalu memukul stir kemudi, merasa kecewa karena Akhsa ternyata menikungnya.


"Tidak! Hanya aku yang boleh memilikinya!"


"Ada apa, Kak?" tanya Dewi, ia melihat Akhsa yang terus melirik kaca spion.


"Bukan-kah itu mobil Nathan? Di belakang mobil kita."


Dewi menoleh ke arah belakang, dan benar saja, mobil yang di belakang itu memang mobil milik pria yang membencinya. Dewi hapal betul dari plat nomor mobil tersebut.


"Apa Kak Nathan mengejar kita?" tanya Dewi cemas.


"Iya, sepertinya begitu."


"Ngebut, Kak," pinta Dewi. Dewi tidak ingin bertemu dengan pria itu. "Apa dia mengikuti mobil ini karena ada aku di dalamnya? Bagaimana ini, Kak? Kakak jadi kebawa-bawa."


"Kenapa tidak dihadapi? Kenapa harus menghindar? Kamu 'kan tidak salah."


"Aku sudah malas, paling dia belum puas menghinaku. Pokoknya aku tidak mau bertemu dengannya, ngebut Kak, ngebut!!"

__ADS_1


Akhsa menambah kecepatan mobilnya sesuai permintaan Dewi.


"Sial! Kenapa mereka menghindariku?" rutuk Nathan. Meski tertinggal, tapi ia bisa menyusul dalam beberapa detik. Hingga mobil Nathan dapat menyalip mobil Akhsa


Ciiiittttt ....


Terpaksa Akhsa mengerem mendadak karena mobil milik Nathan sudah berada di depan mobilnya.


"Kak, mau apa dia?" tanya Dewi ketakutan.


Akhsa sendiri santai menghadapi Nathan, karena ia tahu bahwa lelaki itu sudah menyesal. Ia juga tahu kalau Nathan tidak mungkin menyakitinya. Dari itu ia selalu ada disaat Dewi membutuhkan bantuan. Secara tidak langsung ia membantu Nathan menjaga pujaan hatinya.


Tapi sepertinya Nathan salah sangka terhadapnya. Dapat dilihat dari wajah pria itu, seperti sedang menahan amarah karena Dewi bersamanya.


Nathan menghampiri mobil Akhsa, dan langsung menghampiri ke arah pintu yang ada Dewi di dalamnya.


"Wi, Dewi? Tolong buka pintunya?" pinta Nathan dari luar.


"Kak, bagaimana ini? Sebenarnya apa mau dia?" tanya Dewi.


"Turun, dan temui dia," titah Akhsa.


Dewi pun nurut, ia turun dari mobil. Meski sedikit takut tapi ia mencoba melawan jika pria itu kembali menghinanya. Saat sudah turun dari mobil, tiba-tiba Nathan memeluknya. Betapa terkejutnya Dewi saat itu.


Apa yang dilakukan pria ini? Kenapa memelukku tanpa permisi?


"Aku minta maaf, maafkan aku. Aku tahu aku salah, tolong jangan pergi!" ucap Nathan tanpa malu.


"Lepaskan! Berani sekali kamu memelukku!" Dewi berontak mencoba melepaskan diri.


"Aku akan melepaskanmu, tapi maafkan aku."


"Lepaskan! Atau tidak aku akan berteriak!"


Nathan tetap tidak melepaskan karena ia tahu Dewi masih marah padanya.


"Aku bilang lepaskan!" Seketika, Dewi menginjak kaki Nathan sampai pria itu terpaksa melepaskan pelukkannya. Dan ia mengaduh karena kesakitan.

__ADS_1


...----------------...


Maaf ya baru up, mode sibuk dunia nyata 😁😁 Selamat membaca, semoga suka dengan ceritanya. Maaf jika masih banyak kurangnya 🙏


__ADS_2