Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 165 Apa Aku Bisa Menggapaimu?


__ADS_3

Saling terdiam beberapa saat. Hingga akhirnya, Dewi yang lebih dulu bersuara.


"Kakak pulang saja, tidak usah mengantarku."


Bagai tertusuk seribu duri saat Dewi menolak ajakannya. Belum pernah ditolak, malah ia sendiri yang sering menolak. Seakan tantangan, ia harus lebih ekstra sabar menghadapi gadis itu. Bagai merpati, seperti jinak tapi sulit digapai. Inilah sosok Dewi yang baru ia ketahui setelah beranjak remaja.


Masih belum percaya akan tolakan itu, Nathan kembali menawarkan diri. "Ini sudah malam, sebaiknya kita pulang."


Kita? Pulang? Dia pikir dia siapa? Setelah menghinaku, merendahkan ku tiba-tiba baik padaku. Modus apa yang direncanakannya? Apa dia akan menyakitiku lebih dari kemarin?


Dewi ragu akan kebaikan pria itu, ia berharap ini mimpi buruk. Sebisa mungkin ia memberikan alasan untuk menolak.


"Kakak pulang saja, aku ada janji."


"Dengan siapa? Perempuan apa laki-laki?"


Kenapa dengannya? Kenapa tiba-tiba ingin tahu urusanku? Aduh, bagaimana ini? Aku juga tidak tahu teman siapa yang akan aku temui, itu 'kan hanya alasanku untuk menghindar darinya.


"Perempuan." Tidak bisa berbohong, ingin mengatakan bersama lelaki pun karena pada dasarnya memang tidak. Bahkan ia tak berniat kemana-kemana. Ingin pulang, mandi, rebahan di kasur yang empuk. Sudah terbayang di pelupuk mata, mengistirahatkan tubuhnya adalah pilihan yang tepat.


"Ya sudah, aku antar. Ayo? Di mana kamu janjian."


"Kakak pulang saja, aku bisa pergi sendiri."


"Jangan ngeyel, ini sudah malam. Lihat, jam berapa ini?" Nathan memperlihatkan jam di tangannya. Waktu menunjukkan pukul delapan malam.


Tiba-tiba, sebuah tragedi memalukan terjadi. Perut Dewi berbunyi, menandakan bahwa gadis itu kelaparan. Spontan, ia menyentuh perutnya. Perut yang tak bisa diajak kompromi. Sepulang kerja, perutnya belum terisi.


"Ayo ikut?" Nathan meraih tangan Dewi secara tiba-tiba, dan menariknya masuk ke dalam mobil. Hingga tubuhnya tak bisa berontak. Sebuah paksaan itu terwujud.


* * *


"Mau kemana? Aku sudah bilang ada janji. Turunkan aku!" pinta Dewi.


Nathan tak menggubris, ia tak peduli pada teman yang akan ditemui gadis itu. Ia lebih peduli pada perut yang keroncongan. Nathan mengajak gadis itu ke tempat makan. Pergi ke sebuah restoran yang cukup mewah. Dewi tidak percaya diri akan penampilannya. Penampilan yang ala-kadarnya. Wajah kucel, rambut terikat secara asal. Pokoknya bukan setelan.

__ADS_1


Semua orang memandangnya, entah dengan tatapan apa itu. Yang jelas, tatapan itu seperti mengejek. Gadis kucel datang ke restoran mewah.


"Aku mau pulang!" cetus Dewi. Ia menayadari kehadirannya membuat pengunjung terganggu. Semua orang yang datang ke restoran itu terlihat anggun dan tampan. Dari segi penampilan mereka orang berada. Sedangkan ia, memikirkannya saja ia malas. Dewi benar-benar tidak percaya diri.


"Makan dulu, setelah makan baru pulang!" Perkataan yang tak bisa dibantah. Dewi ikut masuk ke dalam karena tangannya sejak turun dari mobil tidak terlepas dari genggaman lelaki itu.


Duduk dipermukaan banyak orang. Restoran itu cukup ramai, semua hidangan tersedia.


"Aku mau ke toilet."


"Aku antar."


Dewi melotot. Pikiran macam apa itu? Apa dia sudah gila ingin mengantarku ke toilet?


Dewi mendengus kesal, ia benar-benar tak bisa berkutik. Ke toilet hanya sebuah alasan. Alasan untuknya kabur dari sana, sepertinya percuma. Nathan terlihat curiga bahwa gadis itu akan pergi meninggalkannya.


Tak berapa lama, pelayan datang menyodorkan buku menu. Gambar makanan yang begitu menggugah selera. Dewi menelan saliva, membayangkan makanan itu di depan mata. Sejak dirinya pergi, ia tak lagi memakan makanan enak. Hanya nasi goreng yang menjadi menu makan malamnya.


"Saya pesan ini dan ini." Nathan menunjuk buku meni, lalu ia menyodorkan buku itu di hadapan Dewi. "Pilihan makanan apa yang ingin kamu makan, bila perlu bungkus untuk dibawa pulang."


Pelayan itu mencatat semua makanan yang dipesan. "Untuk yang dibungkus mau makanan yang mana?" tanya pelayan itu.


"Tidak ada yang dibungkus," jawab Dewi. Makan bersama Nathan adalah keterpaksaan. Sudah terlanjur berada di sini bersamanya, tidak ingin mempermalukan orang kaya itu sehingga Dewi duduk dengan patuh.


* * *


Makanan datang. Dewi langsung menyantap makanan itu, tidak bisa dibohongi karena perut memang sudah keroncongan. Ia makan dengan lahap.


"Sudah berapa hari tidak makan?" tanya Nathan, "apa Akhsa tidak memberimu makan sampai kamu terlihat kelaparan?"


Dewi tidak menjawab, apa pun topiknya, ucapannya selalu menusuk hati. Ia malah semakin fokus pada makanannya. Tujuannya ingin segera pergi setelah makan selesai.


"Aku sudah selesai, boleh aku pulang?"


"Silakan, tapi bayar dulu makanannya."

__ADS_1


Dewi melohok, makan di restoran ini tentu sangatlah mahal. Ia tak punya uang untuk membayar. Dan itu Nathan jadikan agar gadis itu tidak pergi begitu saja, karena ia yakin kalau Dewi tidak memiliki uang banyak.


"Kenapa harus aku yang membayar? 'Kan Kakak yang mengajakku kemari!"


"Iya, aku memang yang mengajakmu. Tapi aku tidak bilang akan membayar makananmu, terkecuali kamu menungguku selesai makan. Makanan ku saja belum aku sentuh."


Menyebalkan, ingin rasanya Dewi memaki orang itu. Tidak ada pilihan lain selain menunggunya makan sampai selesai. Dengan setia Dewi menunggu, bosan, ia pun memainkan ponselnya sambil menunggu Nathan.


Asyik sendiri sampai ia tak menyadari bahwa Nathan sudah selesai makan. Pria itu terus memperhatikan. Penasaran dengan apa yang dilakukannya dengan benda pipihnya itu. Dewi tersenyum kecil.


Kesal sendiri, Nathan mengambil ponsel yang sedang dimaikan Dewi.


"Kembalikan!"


"Aku penasaran, kamu sedang apa sampai tersenyum-senyum seperti itu." Nathan melihat layar ponselnya. Dadanya terasa sesak saat tahu bahwa ternyata yang membuat Dewi tersenyum karena sedang ber-chat ria dengan musuhnya.


Sebuah emot lucu yang saling terkirim. Hatinya patah, sehingga pikiran akan memiliki Dewi sirna. Bagai orang ketiga hadir di dalam hubungan mereka. Tanpa bersuara sepatah kata pun, ia memberikan ponsel itu kepada Dewi.


"Ayo, aku antar kamu pulang." Perang belum dimulai, tapi ia merasa sudah kalah karena sikap Dewi yang begitu manis kepada Akhsa.


Beda akan perlakuannya padanya. Apa yang ditanam, itulah yang ia petik. Sikap yang selalu menyakitinya kini terbalaskan. Hatinya merasa teramat sakit dengan kedekatan mereka.


Mendadak diam membuat Dewi bingung. Pria itu kini terdiam seribu bahasa. Tidak ada lagi sikap keingintahuannya. Dewi jadi berpikir, apa ada sikapnya yang membuat pria itu terdiam?


Tak lagi menolak, Dewi membiarkan Nathan mengantarnya pulang. Nathan menatap gedung tinggi yang kini ada di hadapannya. Sebuah apartemen yang terbilang cukup sehingga Nathan berpikir bahwa Akhsa yang ada dibalik ini semua.


Ia kalah telak, disaat ia menyakitinya ada seorang lelaki yang perhatian padanya. Tidak percaya diri bahwa ia akan menang dalam peperangan ini. Yang menjadi pertanyaannya, apa ia sanggup kehilangan Dewi untuk selamanya. Apa lagi dengan sikap Dewi yang menjadi kebalikkannya pada sikap Akhsa.


"Istirahatlah, jaga diri baik-baik. Maafkan atas sikapku selama ini," ucap Nathan.


Dewi tak bersuara, pikirannya terlalu sibuk dengan sikap Nathan yang seperti ini. Tadi cerewet dan sok peduli. Tapi sekarang, pria itu kembali dingin.


* * *


Apa aku bisa menggapaimu? Sepertinya aku memang tidak pantas untuk dicintai, apa kamu nyaman bersamanya? Aku apa aku harus merelakanmu bahagia dengannya?

__ADS_1


"Arrgghhh ..." Nathan memukul stri kemudi. Perasaannya hancur seketika setelah melihat chat ria antara Dewi dengan Akhsa


__ADS_2