Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 70


__ADS_3

Roy dan Elena tertidur, mereka nampak pulas. Hingga keesokkan harinya, Roy lebih dulu terbangung. Ia mendudukkan diri dan bersandar di sandaran ranjang, lalu melihat ke arah istrinya yang masih tertidur dengan pulas.


Roy membenarkan selimut yang dikenakan Elena, menariknya sampai menutupi batas dada. Ia tersenyum manis saat melihat wajah polos istrinya. Elena merubahkan posisi tidurnya, tanpa sadar ia berpindah bantal. Bantal yang ia jadikan sandaran kepalanya adalah paha suaminya.


Roy mengusap lembut pucuk kepala itu, membelainya dengan penuh kasih sayang. Tak lama dari situ, ia mendengar ponsel berdering. Ia mencari arah sumber suara itu, tapi ia tak tahu asal suara itu dari sebelah mana. Mungkin ia lupa meletakan ponselnya di mana.


Hingga ia membuka laci nakas di sebelahnya, dan ternyata ponselnya berada di sana. Sejak semalam, ia lupa kalau hari ini hari senin. Di mana ia harus kembali bekerja, kalau ia pergi bekerja bagaimana dengan istrinya? Elena pun pasti tidak akan masuk kerja hari ini. Ingat kejadian semalam, wanita itu pasti merasakan sakit disekujur tubuhnya.


Ia melihat ID pemanggil, ia melihat nama Adam di sana. Roy pun mengangkatnya.


"Di mana? Cepat ke kantor! Kamu sudah terlambat," kata Adam di sebrang sana.


Roy melihat jam yang menempel di dinding, waktu memang sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Ia juga merasa heran, kenapa tuan-nya tidak menghubunginya? Biasanya pria itu akan mengomel kalau ia terlambat bekerja.


"Roy! Kamu dengar aku 'kan?" kata Adam lagi.


"Iya, Dam. Aku dengar," jawab Roy


"Tunggu apa lagi? Cepat kemari, pekerjaanmu merepotkanku," rutuk Adam. Pria itu jadi mengerjakan semua pekerjaan Roy, Andra menyuruh ia yang melakukan semuanya.


Andra sendiri tahu apa yang terjadi pada anak buahnya, sehingga ia membiarkan Roy libur bekerja hari ini. Di rumah itu terpasang cctv, jelas Andra tahu apa saja yang terjadi di kolam renang. Mungkin hanya di kamar yang tak ada cctv-nya.


"Apa Tuan Andra tidak mencariku di kantor?" tanya Roy.

__ADS_1


"Tidak, dia malah menyuruhku mengerjakan pekerjaanmu. Cepatlah ke sini, aku tidak mengerti. File-mu terlalu banyak sekali di laptop." Adam kesulitan melakukan tugas Roy, karena jabatan mereka berbeda di kantor sana.


"Ok, aku datang. Tapi agak terlambat, Dam. Aku ada urusan sebentar." Setelah itu, Roy menutup ponselnya karena Elena terbangun.


"Ada apa?" tanya Elena dengan nada serak khas bangun tidur.


"Adam kerepotan mengerjakan pekerjaanku di kantor, kalau aku ke kantor sebentar tidak apa-apakan? Ada bi Asih di sini, kamu tidak sendirian." Kata Roy sambil menyelipkan rambut ke belakang telinga Elena.


Elena hanya mengangguk tak berdaya dengan posisinya yang masih tertidur paha suaminya, tubuhnya terasa remuk redam. Padahal, ia juga ada janji dengan pasien-nya hari ini. Karena keadaannya yang tidak memungkinkan, akhirnya ia memutuskan untuk membatalkan janjinya.


Elena mancoba beranjak, tapi ia begitu lemas. Tak ada tenaga sama sekali, apa lagi di bagian bawah terasa perih dan ngilu. Sebisa mungkin Elena mencoba berdiri, ia ingin ke kamar mandi. Untuk melangkah saja ia tak bisa apa lagi melakukan aktivitas yang lainnya.


Roy memahami kondisi istrinya, ia langsung saja menggendong Elena dan mengantarnya ke kamar mandi. Setibanya di sana, ia mengisi bath-up dengan air hangat. Roy berinisiatip untuk mebersihkan tubuh istrinya, mungkin mereka akan mandi bersama pagi ini. Roy fokus, bahwa ini hanya untuk mandi tidak ada niatan yang lebih.


"Roy, katanya kamu mau ke kantor?" Elena mengingatkan suaminya, karena Roy malah bertele-tele dengan aktivitasnya.


Roy pun tersadar, ia cepat-cepat menyudahi ritual mandinya. Membutuhkan waktu setengah jam untuk membersihkan diri, setelah itu selesai, Roy kembali menggendong Elena. Membawanya ke kamar lalu mendudukkannya di kursi meja rias. Elena bagaikan anak kecil dipakai pakaian oleh Roy. Menyisir rambutnya yang masih basah, setelah itu baru ia sendiri memakai bajunya.


Tapi Roy tidak tega meninggalkan istrinya itu.


"Pergilah, aku tidak apa-apa di sini," kata Elena.


"Yakin?" tanya Roy.

__ADS_1


"Iya, 'kan ada bi Asih," telak Elena agar suaminya tidak khawatir.


"Aku suruh ibu menemanimu ya?" usul Roy.


"Tidak usah, aku tidak mau merepotkannya." Padahal bukan itu alasan yang tepat saat menolaknya terlebih ia malu karena ada beberapa jejak Roy yang tertinggal di lehernya. "Pergilah." Ucapnya kembali sambil tersenyum untuk meyakinkan bahwa ia dalam keadaan baik-baik saja.


"Baiklah, aku ke kantor dulu. Aku tidak akan lama, aku akan minta izin hari ini."


* * *


Roy pun sampai di kantor, ia langsung keruangannya menemui Adam.


"Syukurlah kamu datang, Roy." Kata Adam sambil bernapas lega. Adam bangkit dari kursi kebesaran milik Roy, lalu menyuruh pria itu duduk di sana. Roy melihat laptopnya, banyak sekali pekerjaan yang harus ia kerjakan hari ini. Roy tidak bisa fokus karena kepikiran Elena.


Tak lama, Andra datang berniat menemui Adam. Tapi ia malah melihat Roy di sana.


"Apa yang kamu lakukan di sini, Roy?" tanya Andra.


Pertanyaan dari bos-nya membuat Roy bingung, tapi ia tetap menjawab.


"Kerja, inikan memang pekerjaanku," jawab Roy.


"Dua hari ini aku memecatmu, kamu boleh bersantai. Tapi setelah itu kamu kembali bekerja," tutur Andra.

__ADS_1


"Dipecat? Apa salahku?" Roy tak percaya, ada apa dengan pria itu? Punya dendam apa? Roy ketar-ketir karena panik, saking paniknya ia sampai tak mendengar bahwa Andra hanya memecatnya selama 2 hari.


__ADS_2