
Adam terus mencari sampai memutari sekeliling rumah, tapi tetap tak kunjung bertemu. Ia masih berpikir positif bawha istrinya belum pergi, untuk memastikan itu semua ia pergi ke kamar untuk melihat lemari pakaiannya. Di sana terlihat rapi, baju-bajunya masih lengkap.
Uang serta perhiasan pun masih terletak di tempatnya. Hingga ia mengira, Nana pergi tidak jauh. Lalu, ia pun menghubungi Elena siapa tahu istrinya berada di sana. Tapi Elena mengatakan tidak ada Nana di sana, akhirnya ia menghubungi Nindya. Berharap istrinya berada di sana.
"Apa Nana ada di sana?" tanya Adam pada Nindya.
"Tidak ada, kenapa menanyakan Nana? Memangnya dia tidak di rumah?'
Saat Nindya bertelepon dengan Adam, Andra pun menghampiri. "Ada apa? Siapa yang telepon?"
"Adam, dia menanyakan Nana." Jawabnya sambil menutup telepon dengan telapak tangan, setelah itu ia kembali bercakap dengan Adam. Karena memang tidak ada Nana di rumahnya panggilan itu pun akhirnya terputus.
"Mas, aku mau cari Nana. Aku khawatir," kata Nindya pada suaminya.
Andra menduga kalau Nana sudah mengetahui semuanya, ia ikut merasa bersalah dengan kepergian Nana. Tapi ia tak menyangka kalau wanita itu memilih pergi meninggalkan suaminya.
"Mas, ayok! Kita cari, Nana." Nindya menarik baju suaminya karena pria itu malah melamun, "kamu kira Nana pergi kemana? Sebenarnya ada apa sih sampai Nana pergi?"
"Mungkin Nana sudah tahu kalau Aileen sudah kembali." jawab Andra
"Apa? Aileen sudah kembali? Kamu tahu?" Nindya pun terkejut mendengar jawaban suaminya.
"Iya." Andra menyesal tak mengatakan soal ini kepada istrinya.
"Kenapa tidak bilang padaku?" Nindya jadi kesal, mungkin ini yang mengakibatkan temannya jadi pergi, "andai kamu katakan itu padaku, mungkin aku bisa memberitahukan masalah ini pada Nana. Nana pasti mengerti, untuk apa kalian membohonginya?"
"Bukan membohonginya, Adam terlalu takut kehilangan Nana," bela Andra.
__ADS_1
"Ujung-ujungnya sama juga 'kan? Nana tetap pergi. Mana lagi hamil," celetuknya.
"Apa? Hamil?" Andra terkejut.
"Iya, dia hamil. Tadinya dia mau bikin kejutan untuk Adam, tapi keburu Nana tahu ulah suaminya. Aku yakin kalau Adam pasti belum tahu soal kehamilan Nana "
"Kita cari dia kemana?" tanya Andra.
"Kita coba ke rumahnya, aku yakin dia pasti di sana. Suruh Adam pergi ke sana juga!" perintah Nindya. Andra pun memberi pesan kepada Adam, menyuruhnya untuk segera ke Sukabumi karena kampung halaman Nana berada di sana.
* * *
Nana sudah sampai di kota tujuan, ia pergi ke kampung halaman sejak pagi tadi setelah mengantar Akhsa sekolah. Kini ia sudah ada di rumah sederhana miliknya, rumah kosong tidak terawat itu kini menjadi tempat berlindungnya.
Karena lelah, ia pun kini duduk dikursi kayu yang berdebu. Hanya tas kecil miliknya yang menemani kepergiannya. Ia mengambil selembar poto dari dalam tasnya, poto hasil USG. Usia kandungannya baru 2 minggu. Nana terisak sambil menyentuh perutnya yang masih rata.
Tiba-tiba saja ia teringat mendiang ibunya, dan ia putuskan untuk pergi kepemakaman. Nana meletakkan poto USG itu di atas meja, menyeka air mata yang membasahi kulit pipinya lalu beranjak dari tempatnya. Ia menggunakan selendah agar warga sekitar tak mengetahui bahwa Nana sudah kembali.
Nana sudah sampai di pemakaman. Tubuhnya langsung merosot, ia mendekap batu nisan ibunya. Bahkan menangis sejadi-jadinya, ia tak menyangka bakal mengalami hal serupa dengan ibunya.
"Bu, aku rindu." Nana mengusap batu nisan itu, "apa aku akan seperti Ibu? Menjalani hidup tanpa seorang suami dan membesarkan anakku seorang diri? Aku rindu Ibu, aku ingin ikut dengan Ibu."
Rasanya ia tidak sanggup hidup seperti ini, terlebih dengan gosip yang sudah beredar tentangnya. Nana meringkuk di sisi makam ibunya sambil memeluk batu nisan itu.
* * *
Setelah beberapa jam, akhirnya Adam sampai lebih dulu dari pada Andra dan Nindya. Adam sendiri baru pertama kali ke kampung halaman istrinya, rumahnya saja ia tidak tahu. Akhirnya ia menanyakan kepada warga di mana rumah Nana.
__ADS_1
Para tetangga kembali bergosip dengan kedatangan Adam. Mereka berpikir bahwa Nana berulah di kota sampai ada yang mencarinya kemari. Sampailah Adam di rumah Nana. Tak ada siapa-siapa di sana, bahkan rumah itu terlihat berdebu.
Lalu, matanya menangkap sesuatu di atas meja. Penasaran, ia pun mengambilnya. Benda itu menjadi pusat perhatiannya, karena terlihat bersih. Ditambah lagi, kursi yang diduduki Nana tadi meninggalkan bekas.
Adam mengambilnya, dan menatapnya lekat-lekat. "Apa Nana yang kemari, lalu ini?" Kini Adam menyimpulkan, bahwa Nana tengah hamil. Tidak mungkin jika orang lain yang datang kemari, karena ini terlihat baru, dapat dilihat dari tanggal yang tertera dalam hasil USG tersebut.
Adam terjatuh, berlutut di lantai. Tubuhnya mendadak lemas, apa ia akan kehilangan anak dan istrinya. Tak lama kemudian, Andra dan Nindya pun sampai. Mereka melihat Adam tengah berlutut.
"Di mana, Nana?" tanya Nindya.
"Aku tidak tahu, di sini tidak ada siapa-siapa," jawab Adam. Bahkan ia masih menatap poto itu.
Baru saja Nindya akan keluar dari rumah Nana, disaat itu juga hujan turun dengan derasnya. Ditambah dengan petir yang menyambar, suara petir yang menggelegar membuat Nindya mengurungkan niatnya, apa lagi Andra menahan kepergiannya.
"Mas, di mana Nana?" Nindya terisak dalam pelukkan suaminya.
"Kita pasti menemukannya, tunggu sampai hujan reda."
Saat Adam akan pergi pun dicegah oleh Andra. "Jangan pergi, tunggu hujan reda. Kabut akan mengahalangi perjalanan," cegah Andra pada Adam.
Ya, kabut hitam mengahalangi pandangan. Dan itu bisa membahayakan saat mengemudi, Adam pun kembali duduk sambil menyaksikan air turun dari langit, dengan sebuah poto yang tak ia lepaskan sejak tadi.
"Kamu di mana?" ucap Adam. Dalam hati sudah bertekat, ia pulang harus membawa Nana kembali. Ia tak mungkin membiarkan Nana pergi meninggalkannya disaat tengah mengandung buah cintanya.
* * *
Nana tak mengidahkan hujan yang membasahi tubuhnya, ia tetap berada di pemakaman. Ia sudah lemas, untuk berdiri saja ia sudah tak mampu. Ia membiarkan air hujan mengguyur tubuhnya begitu saja.
__ADS_1
"Aku ingin ikut bersamamu, Bu."
Hujan seakan mewakili perasaan Nana, bumi ikut bersedih saat melihat seorang wanita tak berdaya tergeletak di sisi batu nisan mendiang ibunya. Lambat laun, hujan mulai reda. Nana mencoba bangkit dari sana dan setelah itu pergi tanpa haluan.