Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 129 Kena Bogeman Mentah


__ADS_3

Nana hari ini sudah sibuk dengan aktivitasnya, ia mulai lelah. Kucuran keringat mulai membanjiri area kening. Sejenak, ia beristirahat. Karena ini hari libur, membuat tamu sedikit ramai di restoran ia bekerja. Cucian piring dan gelas begitu menumpuk. Bekerja dengan posisi berdiri membuat kaki dan pinggangnya terasa pegal.


"Aduh, enak sekali ngadem di sini. Cucian banyak, semua orang sibuk. Kamu malah enak-enakan di sini!" cetus pelayan yang tengah meletakan cucian piring di pencucian.


Nana tengah duduk sebentar sambil mengipas-ngipas wajahnya menggunakan tangannya. Ia juga sangat haus, saking sibuknya ia tak sempat mengambil minum ke dapur. Piring datang silih berganti.


"Maaf, Mbak. Aku hanya istirahat sebentar, pinggangku pegal."


"Alasan, kayak orang hamil aja kamu," cetusnya. Yang orang tahu, Nana belum menikah begitu pun dengan sang bos karena dilihat dari tanda pengenal statusnya masih single.


Tak lama, atasannya datang karena mendengar suara keributan. "Ada apa ini? Kamu cepat kembali ke depan, banyak tamu," titah si bos pada wanita yang tadi memarahi Nana.


Nana langsung berdiri dan kembali bekerja, dan si bos sudah kembali ke depan karena harus menjamu pada pelanggannya. Nana sangat lelah, bahkan tubuhnya terasa sangat lemas. Gelas yang dicucinya terjatuh karena licin, dan itu mengenai kaki-nya. Sontak, kaki-nya berdarah akibat benturan terlalu keras dan kena pecahan dari gelas itu.


"Lihat, ceroboh dan pemalas. Jelas kerjanya jadi musibah bagi dirinya sendiri," cetus orang tadi saat melihatnya. Tidak ada yang menolong Nana, semua karyawan tidak menyukainya karena Nana terlihat lebih cantik dari karyawan yang lain. Ditambah, si bos tidak pernah menegur Nana saat terlihat seperti tadi sekali pun.


Nana berjongkok sambil memegang kaki-nya yang berdarah. Ia menggunakan kanebo untuk menutup lukanya, niat hati ingin menahan darah supaya tidak terlalu banyak keluar. tapi sayang, itu tidak berhasil. Nana maringis kesakitan.


Mendengar kericuhan di tempat pencucian, ada salah satu tamu yang mengetahui hal itu. Tempat Nana mencuci piring tak jauh dari toilet. Orang itu mengintip, saat melihat siapa yang sedang berjongkok, ia langsung menemuinya.


"Nana ...," panggil orang itu.


"Mas Roy." Nana menoleh dengan mata yang sudah menganak sungai.


Roy langsung datang menghampiri Nana, melihat kaki-nya terluka lebih dekat. Roy langsung membawanya dengan cara menggendongnya. Tak ada yang berani bersuara, di kota Sukabumi Roy terbilang cukup terkenal di sana. Karena ia sering ke perusahaan cabang di kota itu, perusahaan yang mini sedang maju pesat setelah Halim yang mengelolanya.

__ADS_1


"Nathan, Nala," panggil Roy, "ayok kita harus segera membawa Aunty Nana," ajaknya pada si kembar. Roy baru sampai di kota Sukabumi, karena lapar, si kembar meminta berhenti di sebuah restoran yang kebenaran tempat Nana bekerja.


Nana jatuh pingsan saat berada di gendongan Roy. Tak banyak berkata, ia langsung membawanya ke rumah sakit.


"Nathan, hubungi Uncle Adam, sekarang," pinta Roy, ia tengah fokus pada kendaraannya. Nathan mengangguk dan langsung menghubungi Adam. Nala sangat khawatir melihat wajah Nana yang pucat.


"Uncle, kenapa Mama Akhsa ada di sini? Terus dia kenapa?" tanya Nala.


"Uncle tidak tahu, tadi Uncle tidak sengaja melihat Aunty Nana sedang berjongkok dengan kaki berdarah," terangnya, "bagaimana? Uncle Adam bisa dihubungi?" tanyanya pada Nahtan.


"Tidak diangkat," jawab Nathan.


Mau tak mau, Roy sendiri yang menghubungi Adam. Ia memasang earphone di telinga, lalu mulai mencari kontak Adam menggunakan satu tangan. "Ayolah, angkat!" gerutunya.


"Ya, ada apa? Aku lagi di jalan menuju kota Sukabumi," jawab Adam. Setelah mendapat kejelasan dari Aileen, ia langsung berangkat ke Sukabumi bersama Akhsa karena anaknya itu bersi kukuh ingin bertemu dengan Nana.


"Siapa yang sakit? Nona Nindya?" duganya. Setahunya Nindya yang sakit karena kemarin wanita itu sempat pingsan.


"Nanti juga tahu." Roy langsung menutup sambungan itu, ia sengaja tak memberitahukan soal Nana. Roy takut, Adam malah tidak konsen yang sedang mengendarai mobilnya.


Akhirnya Roy tiba di rumah sakit, Nana langsung ditangani karena uang cukup menguasai rumah sakit tersebut. Apa lagi Roy datang. Nana dibawa ke UGD, Roy dan si kembar tengah menunggu. Saat duduk, ponsel Roy berdering.


"Iya, Tuan?" jawab Roy pada panggilan itu.


"Masih di mana? Seharusnya kalian sudah sampai dua jam yang lalu di sini," Andra sedikit khawatir karena kedua anaknya belum sampai.

__ADS_1


"Di rumah sakit, aku sedang-." Roy belum selesai bicara, Andra sudah memotongnya.


"Sedang apa? Kalian kenapa? Apa terjadi sesuatu pada anak-anakku?" tanya Andra tanpa jeda.


"Bukan mereka, tapi Nana."


"Nana kenapa?" Saat Andra mengucapkan nama Nana, Nindya langsung menoleh. Mereka tengah duduk santai menanti kedatangan putra dan putrinya.


"Kalau mau, Tuan kesini saja sekalian jemput Nathan dan Nala."


"Iya, aku kesana sekarang juga." Percakapan selesai, karena Andra langsung menutup ponselnya. Ia segera ke rumah sakit untuk melihat keadaan Nana.


* * *


Andra lebih dulu sampai di rumah sakit ketimbang Adam. Nindya langsung menemui Nana di ruangan, karena wanita hamil itu baru saja sadar setelah kaki-nya dijahit beberapa jahitan. Lukanya cukup dalam karena tertancap pecahan gelas.


"Na, apa yang terjadi padamu?" tanya Nindya sambil memeluk Nana.


Nana langsung menangis karena sedih, hamil dalam keadaan seperti ini membuatnya rapuh. Nana tak sekuat yang ia pikirkan, bohong jika ia bilang tidak apa-apa. Cinta kepada suaminya begitu besar, keadaan yang membuatnya harus berpisah.


"Sudah, jangan menangis. Ada aku di sini." Nindya mengusap lembut punggung Nana, perlahan wanita hamil itu pun tenang. Nana dan Nindya memicingkan pendengaran mereka, mereka mendengar keributan di luar ruangan. "Aku coba lihat dulu, ada keributan apa di sana." Nindya oun meninggalkan Nana.


"Mas, sudah hentikan!" Nindya melerai perkelahian suaminya dengan Adam. Andra kesal karena pria itu sudah mengabaikan Nana. Roy menjelaskan tentang kejadian Nana di restoran. Dalam sekejap, Roy mendapatkan informasi mengenai Nana di sana.


"Sejak kapan kamu seberengs*k ini, hah! Dasar laki-laki tidak bertanggung jawab! Kamu membiarkan Nana jadi seorang tukang cuci piring di sana, hah!" Andra begitu murka. Saking hilang kendali, ia memukul Adam tanpa melihat situasi.

__ADS_1


Nathan, Nala, dan Akhsa ketakutan. Mereka baru melihat Andra nampak murka. Yang diketahui Nathan dan Nala, sang daddy adalah pria hangat dan tidak pernah kasar. Adam babak belur karena tidak melawan, ia mengakui ini kesalahan terbesar dalam hidupnya. Seharusnya ia tak membiarkan istrinya hidup seorang diri di sini.


Adam mengusap sudut bibir yang berdarah akibat kena bogeman mentah dari tuannya, ia meringis kesakitan. Tapi rasa sakitnya tak sebanding dengan rasa sakit yang dirasakan oleh Nana.


__ADS_2