
Di kantor.
Andra dan kedua anak buahnya yang sangat dipercayanya yang tak lain adalah Roy, dan Adam, mereka tengah mengerjakan proyek bersama. Tapi entah kenapa, Adam tidak bisa fokus dengan pekerjaannya. Beberapa kali saat ditanya oleh bos-nya, ia kerap tak merespons. Pikirannya selalu pada Akhsa, ini pertama kali dirinya meninggalkan anaknya.
"Santai saja, jangan terlalu memikirkan Nana. Dia bisa dipercaya," ujar Andra saat melihat Adam tengah gelisah.
Adam meneguk air putih hingga tandas, mencoba menenangkan pikirannya. Bagaimana pun, ia belum tahu seperti apa gadis itu. Baik, lembut, atau malah kasar, sama sekali tidak mengenal Nana, dan ia harus meninggalkan putra-nya dengan gadis itu.
"Apartemen 'kan ada CCTV-nya, coba saja lihat dari sana. Bahkan kamu bisa memantau Nana, bukan?" kata Roy.
Saking paniknya, Adam sampai lupa akan hal itu.
"Kalau begitu, aku permisi sebentar." Adam langsung pamit karena ingin melihat Nana, apa saja yang dilakukannya bersama anaknya.
Adam mulai menyalakan laptop yang tersambung dengan CCTV di apartemen. Pertama yang dilihatnya adalah ruang tamu, terlihat kosong. Lalu berpindah ke tempat lain, terus dan terus berpindah. Hasilnya nihil, Adam semakin panik.
"Kemana dia?" tanya-nya sendiri.
Hingga CCTV menangkap suara di sana, tapi orangnya tidak terlihat. Terdengar sebuah nyanyian 'Nina bobo' mungkin itu suara Nana yang mencoba menidurkan Akhsa. Hingga akhirnya, sosok Nana tertangkap camera CCTV. Gadis itu tengah menimang-nimang Akhsa, menggendongnya sambil memberikan susu formula.
Seketika, Adam tersenyum karena merasa lega. CCTV terus terarah kepadanya, sampai gadis itu akhirnya pergi ke kamar untuk menidurkan Akhsa, tidak ada kamar khusus untuk anaknya itu, jadi Nana membawanya ke kamar yang di tempati oleh Adam.
Gadis itu begitu sangat hati-hati, seolah sudah tahu jika Akhsa akan terbangun saat direbahkan di tempat tidur. Perlahan, Adam mulai suka dengan cara Nana mengasuh anaknya.
"Dia lumayan berpengalaman sepertinya, bahkan dia sangat hati-hati sekali saat menidurkan Akhsa," gumam Adam. Terkadang ia sendiri kesusahan saat menidurkan anaknya itu.
"Sudah ... Jangan lama-lama memperhatikannya, lama-lama bukan Akhsa yang kamu lihat. Tapi, Nana."
Adam langsung menoleh ke belakang setelah seseorang berkata demikian, siapa lagi kalau bukan Roy. Pria yang selalu usil, bahkan selalu menyarankannya agar melupakan Aileen yang jelas sudah tidak ada lagi. Wanita itu benar-benar seperti ditelan bumi.
"Jangan asal bicara, aku punya istri!" cetus Adam.
"Tapi di mana istrimu? Kamu sendiri saja tidak tahu di mana dia, Akhsa butuh ibu, Adam!" celetuk Roy.
__ADS_1
"Terserah kamu!" Adam langsung pergi meninggalkan Roy yang masih berdiri di sana.
"Gitu aja ngambek, apa ucapanku ada yang salah?" gumam Roy. Lantas, ia pun menyusul Adam.
* * *
Waktu begitu cepat berlalu, tak terasa jam kantor telah usai. Andra dan yang lainnya tengah siap-siap untuk pulang ke rumah masing-masing.
"Dam, Roy, aku duluan," pamit Andra.
Mereka berdua mengangguk. Meski mereka berdua anak buahnya, Andra sama sekali tidak menganggap mereka seperti itu, ia sudah menganggap mereka seperti saudara sendiri. Setelah kepergian Andra, kini tinggal menyisakan Roy, dan Adam.
"Langsung pulang?" tanya Roy pada Adam.
"Iya, memangnya kenapa?" Adam bertanya balik.
"Gak apa-apa sih," kata Roy.
Sementara Roy, ia akan menjemput istrinya terlebih dulu ke rumah sakit.
💞
Adam sampai di apartemen, setibanya di sana ia mencium aroma masakan. Dari baunya sungguh menggugah selera, tanpa disadari, ia langsung pergi ke dapur dan meletakkan tas kerja di atas sofa dengan sembarang.
Di dapur tidak ada orang, lalu ia menatap ke arah meja makan. Di sana terhidang makanan yang sudah matang, sudah dipastikan bahwa itu adalah masakan Nana. Adam menghampiri meja, di atas meja terdapat goreng tempe dan itu adalah makanan kesukaannya. Ia jadi teringat pada mendiang ibunya, terlahir dari keluarga sederhana tentu itu makanan sehari-hari yang sering dimakannya.
Adam mulai mencicipi makanan itu, bahkan sampai merem melek karena rasanya sangat enak. Rasanya sama dengan buatan ibunya.
"Tuan sudah pulang?" tanya Nana.
Pertanyaan Nana mengejutkannya, sampai Adam tersedak. Buru-buru, Nana mengambilkannya minum dan langsung memberikannya pada Adam.
"Makanannya tidak enak ya? Apa Tuan tidak menyukainya?" tanya Nana setelah memberi Adam minum.
__ADS_1
"Bu-bukan, aku hanya terkejut," jawabnya, "jangan panggil, Tuan. Aku bukan orang kaya seperti tuan Andra, bahkan kedatanganmu beliau yang menyarankan. Kita sama-sama bekerja, jadi jangan panggil Tuan lagi," tutur Adam.
Tapi Nana merasa tidak enak, harus dengan sebutan apa memanggil pria ini? Pikirnya.
"Karena umurmu jauh denganku, kamu bisa memanggilku, Mas. Panggil saja, Mas. Aku rasa itu lebih cocok dari pada, Tuan," jelas Adam.
"Ba-baik, Mas." Nana mengangguk.
"Makananmu enak, aku permisi dulu," pamit Adam. Ia mencoba untuk menerima Nana sebagai pengasuh Akhsa, ia tak bisa bersikap dingin pada gadis itu. Bukannya apa-apa, ia harus tahu karakter Nana karena itu sangat penting baginya.
Ia mempercayakan Nana untuk menjaga Akhsa, karena Akhsa anak satu-satunya ia harus lebih mengenal Nana lebih jauh. Adam masuk ke dalam kamar, ia melihat anaknya sedang tertidur dengan pulas. Pakaian yang dikenakan Akhsa terlihat begitu rapi.
Beda dengan dirinya, pria dan wanita akan sangat berbeda dengan cara memperlakukan seorang anak dari segi apa pun. Adam mencium Akhsa.
"Wangi sekali," ucapnya setelah mencium putranya. Akhsa terganggu, bayi itu langsung terbangun. "Anak Papa sudah bangun, Papa ganggu ya?" Adam meraih anaknya dan menggendongnya.
Lupa kalau ia belum membersihkan diri, jadi ia mengembalikan Akhsa pada tempatnya. Dan Akhsa malah menangis.
"Nana ...," panggil Adam.
"Iya, Tuan. Eh, Ma-mas." Nana belum terbiasa dengan sebutan itu, jadi ia salah menjawab.
"Kamh jaga Akhsa dulu, aku mau mandi."
Nana mengangguk, dan langsung menggendong Akhsa. Dia membawa Akhsa ke kamarnya. Karena rewel Nana memberikannya susu, ia pikir pasti haus. Dalam sekejap, Akhsa terdiam dan kembali tertidur. Tanpa disadari, Nana ikut tertidur di samping bayi itu sambil memegang botol.
Dan Adam, pria itu baru selesai membersihkan diri. Karena rindu dengan anaknya ia langsung ke kamar Nana yang memang pintunya tidak tertutup. Ia mengintip sebelum masuk, namun tak ada suara sedikit pun. Dan itu mendorongnya untuk segera melihatnya.
Adam menghela napas.
"Masih cereboh," ucap Adam saat melihat pengasuh itu malah tertidur. Adam mengambil alih botol itu dan berniat untuk memindahkan Akhsa, bukannya botol yang ia pegang melainkan tangan Nana. Karena gadis itu merasakan bahwa botol yang ia pegang akan terjatuh.
Seketika pandangan mereka bertemu.
__ADS_1