Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 55


__ADS_3

Keesokkan harinya.


Dokter Elena sudah lebih dulu terbangun, ia baru menyadari akan penampilannya yang tak terlihat seperti dokter sedikit pun. Bahkan ia menggunakan pakaian seorang laki-laki.


"Ya, ampun. Kok, aku sampai tidak sadar begini sih. Jangan-jangan tuan Andra menyadari dengan baju yang aku pakai," gumamnya. Ia melihat pantulannya di cermin.


Tidak ingin terjadi salah paham dengan kondisinya, ia buru-buru keluar dan villa itu dan langsung menuju mobilnya. Mengambil bajunya yang semalam, berharap baju itu sudah kering.


"Syukurlah." Ucapnya seraya mengecek baju itu. Setelah itu, ia kembali masuk ke dalam. Sayang, langkahnya terhenti karena ia berpapasan dengan Roy di ambang pintu. Dan malah berakhir drama, Roy ke kiri, Elena pun ikut ke kiri. Begitu pun seterusnya, hingga keduanya malah menjadi salah tingkah.


"Ekhem ..." Suara deheman membuat mereka berdua menoleh. Dilihatnya, Andra yang sedang berada di anak tangga. Pria berdiri sambil melihat kearahnya.


Roy pun akhirnya menggeserkan tubuhnya, memberi jalan untuk Elena. Gadis itu melewati tubuh Roy sambil menyelipkan rambut ke telinganya. Tanpa sadar, anting yang di gunakannya terjatuh tepat di samping kaki Roy.


Setelah kepergian Elana, Andra mendekati Roy. Bahkan Roy menyadari akan tatapan aneh tuannya padanya.


Jangan-jangan, dia curiga lagi.


"Abis dari mana?" tanya Andra.


Roy mengerutkan keningnya.


Dari mana? Maksudnya? Roy malah sibuk dengan pemikirannya sendiri.


"Eh, ditanya malah melamun. Dari mana, kalian?" tanya Andra lagi.


"Gak dari mana-mana," jawab Roy apa adanya.


"Itu, dokter Elena habis dari luar. Apa kalian tidak tidur di villa?" duga Andra.


Ya, Tuhan ... Berpikir apa lagi pria ini? Kenapa selalu menuduhku yang tidak-tidak?

__ADS_1


"Kalau memang sudah siap menikah, kenapa harus sembunyi-sembunyi, hah? Aku akan membantu untuk mengatakan masalah ini pada ibumu."


Deg, jantung Roy hampir saja copot ketika mendengar penuturan tuannya. Ia tak merasa melakukan apa-apa, kenapa harus berujung menikah dengan gadis itu?


"Sudalah, tidak usah gugup begitu. Tidak usah takut, sebagai pria sejati tanggung jawablah." Andra menepuk bahu Roy, lalu setelah itu ia pergi meninggalkan laki-laki itu yang seperti terkena serangan jantung secara tiba-tiba.


Karena tuannya sudah pergi, Roy pun melanjutkan perjalanannya yang hendak ke mobil. Ada sesuatu yang ingin ia ambil di sana. Tapi, Roy merasa menginjak sesuatu. Ia mengangkat kakinya untuk memastikan. Roy pun mengambil barang tersebut.


"Anting, punya siapa ini?" Roy memperhatikan dengan seksama. "Apa milik dokter Elena?" Roy memasukan anting itu ke dalam saku kemejanya, kalau ini benar milik gadis itu, ia akan memberikannya nanti.


***


Di kamar.


Nindya baru saja selesai membersihkan diri, ia keluar dari kamar mandi dan masih memakai jubah handuk sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Lalu berjalan menuju meja rias, dan duduk di sana.


Andra yang sedang memainkan ponselnya pun terhenti kala melihat istrinya yang baru saja keluar dari kamar mandi. Ia beranjak dari tempatnya lalu menghampiri istrinya. Merangkul bagian pundak ke leher dari arah belakang, mengecup pucuk kepala wanita itu sambil menghirup aroma segar dari aroma shampo yang digunakannya.


"Hmm," jawab singkat Nindya.


"Segera pakai bajumu, setelah itu kita sarapan," ajaknya.


"Baiklah."


Andra kembali mengecup pucuk kepalanya, lalu setelah itu ia ke ruang makan lebih dulu untuk memastikan apa makanan yang ia pesan sudah siap dan terhidang di meja makan atau belum.


Karena semua makanan sudah terhidang, ia menyuruh Roy untuk memanggil dokter Elena. Menyuruh wanita itu untuk sarapan bersama-sama.


***


Elena baru saja selesai mandi, bahkan ia belum sempat memakai bajunya. Ia baru tersadar akan antingnya yang hilang, ia sudah mencarinya di setiap sudut. Bahkan mencari di tempat tidur, tempat tidur itu seperti kapal pecah.

__ADS_1


"Duh ... Di mana sih antingnya?"


Anting itu sangat berharga baginya karena peninggalan orang tuanya. Itu adalah kenang-kenangan sebagai hadiah ulang tahunnya, ia selalu memakainya jika sedang ada acara-acara tertentu.


Pencariannya harus terhenti kala ia mendengar pintu kamarnya ada yang mengetuknya. Posisinya sedang mencari anting di bawah tempat tidur, karena ingin beranjak, ia sampai terjeduk kena sudut nakas.


"Aduh ...," Elena memekik kesakitan. Ia menyentuh keningnya yang sedikit memerah.


Mendengar suara di dalam sana, tanpa permisi Roy langsung saja masuk ke dalam kamar itu. Reflek, ia langsung mendekat ke arah Elena. Memastikan apa sesuatu sudah terjadi padanya.


Setibanya di dalam, ia malah melihat penampilan Elena yang terlihat segar. Hanya menggunakan handuk yang melilit tubuhnya. Roy mengerjap-ngerjapkan matanya, sambil menyentuh dadanya untuk menetralkan detak jantungnya.


"Ada apa Dokter, Elena? keningnya kenapa?" tanya Roy.


"Tidak apa-apa," jawabnya.


"Apa sedang mencari sesuatu?"


"Iya, aku mencari antingku yang hilang."


"Apa ini anting-nya?" Roy memperlihatkan anting itu pada Elena.


Sementara Andra, ia sudah lama menunggu kedatangan dokter Elena. Bahkan Nindya pun sudah berada di ruang makan bersamanya.


"Aku susul saja." Andra beranjak dari tempatnya hendak menyusul Roy.


Setibanya di sana, betapa terkejutnya ia melihat Roy dan dokter Elena sedang berhadapan. Bahkan posisi mereka begitu sangat dekat, dilihat dari belakang seperti sedang berciuman.


...----------------...


Apa yang sedang Roy lakukan bersama dokter Elena?

__ADS_1


Ayo, beri othor dukungan. Dengan cara like komen juga hadiah, atau bisa vote setiap minggunya. Terima kasih.😘😘😘


__ADS_2