Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 37


__ADS_3

Serasa mendengar petir disiang bolong. Saat itu juga Nindya melepaskan tubuh suaminya yang ada di peluknya, ia hapal betul suara itu. Setelah terlepas, Nindya mundur beberapa langkah. Banyak yang ingin ia tanyakan pada suaminya, kenapa baju yang dikenakannya berlumur darah?


Mata Wiliam menyalak marah, kurang ajar sekali wanita itu berani menyentuh anaknya, siapa dia? Wiliam pun berjalan menuju ke arah Nindya, pria itu berdiri tepat di hadapannya. Tidak tahu 'kah bahwa ia sedang berada dimode tidak mood. Kecewa pada menantu, ditambah lagi dengan sikap Nindya yang tak seharusnya dilakukannya.


Anye rasa bukan ini saatnya Wiliam tahu akan Nindya, lebih baik ia tak menceritakannya sekarang. Bisa murka suaminya itu jika ia tahu hari ini dengan berita pernikahan Andra.


"Berani kau melakukan itu lagi, akan ku pecat, kau!" murka Wiliam.


Nindya hanya menunduk karena takut, matanya sudah berkaca-kaca, begitu terasa sakit seperti disayat sembilu ketika mendapatkan bentakan itu. Ini pertama kali Wiliam marah padanya.


"Wil, Nindya hanya reflek melihat keadaan Andra seperti sekarang. Mungkin dia takut terjadi sesuatu pada Andra karena melihat bajunya berlumur darah," jelas Anye pada suaminya.


"Itu bukan alasan, Anye. Pembantu harus itu tahu sopan santun, bukan hanya asal rangkul!", kata Wiliam.


"Hancurnya rumah tangga anakku jangan kau jadikan kesempatan untuk mengambil hati anakku dengan sikapmu, jangan seperti wanita murahan," celetuk Wiliam pada Nindya. Sejak tahu seperti apa Aileen, ia jadi segan memandang seorang wanita, terlebih pada Nindya yang hanya orang biasa. Bisa jadi ia lebih murahan dari menantunya itu, pikirnya.


"Daddy, jangan keterlaluan pada Nindya," bela Andra. "Dia hanya memelukku, lagian dia berhak untuk itu, karena aku-," ucap Andra tertahan karena Anye.


Wanita itu menghentikan ucapan Andra dengan cara menyentuh bahunya, ia juga menggelengkan kepalanya sebagai isyarat pada anaknya bahwa ini bukan waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya. Suaminya benar-benar sedang murka hari ini.


"Tapi, Mom," protes Andra.


"Bersihkan saja tubuhmu. Nindya, bantu Andra siapkan baju untuknya," titah Anye.


"Ba-baik, Nyonya." Nindya tak berani mengangkat wajahnya, karena ia tengah menangis dalam diam. Buru-buru, ia pergi ke kamar untuk menyiapkan pakaian suaminya.


Disusul oleh Andra dari belakang, ia tahu kondisi istrinya saat ini. Pasti wanita itu sedang menangis, karena ia melihat Nindya selalu menyeka sudut matanya.


Setibanya di kamar dan menutup pintu, ia langsung menarik tubuh istrinya ke dalam pelukkannya.

__ADS_1


"Maafkan aku, Nindya. Aku belum bisa jujur pada Daddy, aku harap kamu mengerti." Andra mengecup pucuk kepala istrinya.


Nindya tak menjawab, ia sadar siapa dirinya. Wiliam pasti tidak akan merestui hubungannya, apa lagi dengan pernikahannya. Namun semua itu ia serahkan pada suaminya, dari awal ia tak banyak berharap. Bahkan menuntut pertanggungjawaban pun tidak, Andra yang memaksanya.


Ia sudah tahu akan begini jadinya. "Tidak perlu minta maaf, semua ini memang salahku. Aku yang salah karena sudah membiarkanmu menikahiku, harusnya aku sadar sebelum pernikahan ini terjadi. Upik abu tidak akan pernah jadi ratu."


"Suuttthhh ... Bicara apa kamu ini? Daddy begitu karena dia sedang marah, aku harap kamu mengerti. Dia begitu karena kecewa pada Aileen, daddy sudah tahu semua yang sebenarnya," jelas Andra pada istrinya, ia harap Nindya bisa memaklumi kondisi sang ayah.


"Bukankah kamu tahu sikap Daddy-ku? Dia marah hanya sesaat, nanti juga sikapnya akan seperti biasa padamu. Jangan diambil hati ya?"


"Tapi aku bukan wanita murahan." Kata Nindya sembari melepaskan diri dari pelukan Andra. Rasanya begitu sakit, sampai-sampai ia kembali menangis.


"Air matamu terlalu berharga, sayang." Andra menghapus air mata yang membasahi pipi istrinya, mengusapnya dengan ibu jari. Lalu kembali menarik tubuh istrinya ke dalam pelukkannya.


"Lalu kenapa bajumu? Apa yang terjadi?" Tanyanya sambil menatap bola mata indah suaminya.


Andra pun menjelaskan semuanya secara rinci dengan apa yang terjadi di rumah sakit, termasuk perceraian yang sudah ia lontarkan pada Aileen. Nindya sangat terkejut mendengar musibah yang dialami wanita itu, bagaimana pun Aileen masih berstatus istri dari suaminya.


"Aku tidak bisa memiliki dua istri, Nindya. Bagaimana pun aku harus tetap memilih, kamu yang aku pilih. Kamu yang selama ini aku cintai, cinta tak bisa dipaksakan, apa lagi sampai menyakiti. Untuk cinta kita, kita berjuang sama-sama. Buktikan bahwa cinta kita begitu kuat tak ada yang bisa memisahkan kita."


Akhirnya, Nindya bisa memaklumi sikap dan ucapan mertuanya yang kasar padanya. Kini ia tak lagi menangis, penjelasan Andra membuatnya tenang. Ia pun menyiapkan pakaian untuk suaminya.


Sementara Andra, pria itu tengah membersihkan diri.


Diruang lain, Anye terus membujuk suaminya agar tenang. Pria itu tidak bisa terima akan kejadian tadi, itu sangat membahayakan. Hampir saja putranya celaka. Wiliam jadi kepikiran akan menantunya itu, meski kecewa, tapi ia melihat dengan kepala matanya sendiri saat Aileen menaruhkan nyawa untuk putranya.


Ada rasa kasihan, tapi ia juga sadar bahwa sikapnya begitu keterlaluan. Bisa-bisanya ia mengandung anak yang bukan darah daging dari suaminya. Hidung Wiliam nampak kembang kempis.


"Tenanglah, darah tinggimu bisa naik kalau begini," kata Anye. "Sebaiknya kita pulang, biarkan Andra di sini," ajaknya kemudian.

__ADS_1


"Tapi, Nindya? Kamu membiarkan pembantu itu bersama anak kita di sini?"


"Memangnya kenapa kalau dia di sini? Sudahlah jangan berpikir yang tidak-tidak terhadapnya. Aku sudah mengenalnya sejak lama, aku percaya padanya."


Dan akhirnya, Wiliam dan Anye pun pulang tanpa pamit kepada Andra terlebih dulu.


* * *


Di rumah sakit.


Adam dengan setia menunggu Aileen yang tengah berada di ruangan UGD, padahal ia sudah diusir oleh Morano. Tapi ia bersi kukuh karena ia merasa berhak berada di sana, bagaimana pun Aileen tengah mengandung buah cintanya.


Morano nampak kesal, ia malah terkena senjata makan tuan. Pria itu terus mondar-mandir tak karuan, sudah beberapa jam dokter belum menampakkan diri. Apa lagi, di luar sana banyak wartawan yang ingin meliput kejadian soal kecelakaan tadi.


Kabar itu langsung tersebar diberbagai chanel televisi, siapa yang tak mengenal Morano dan Wiliam. Pemberitaan hangat itu menjadi training topik. Beberapa saat kemudian, dokter keluar dari ruang UGD.


Morano dan Adam langsung menghampiri.


"Bagaimana putri saya, Dok?" tanya Morano.


"Keadaanya masih kritis," jawab dokter.


"Bagaimana kandungannya, Dok?" tanya Adam.


Sebelum dokter menjawab, Morano lebih dulu berucap. "Saya tidak peduli dengan kandungannya, yang penting anak saya selamat," terangnya.


Ucapan itu membuat hati Adam sakit, sebegitunya orang tua Aileen tak mengharapkannya. Padahal ia akan bertanggung jawab akan kandungan itu, terlebih ia sangat mencintai Aileen.


"Kandungannya tidak apa-apa, untung benda tajam itu tidak mengenai rahimnya," jelas dokter.

__ADS_1


Kabar itu membuat hati Adam lega, kini ia tinggal menunggu Aileen sadar dan melalui masa kritisnya.


__ADS_2