
Dewi pun membuka mata. "Kamu mau gak jadi pacarku?"
Hening ... Hanya terdengar suara binatang malam, Dewi enggan untuk menjawab. Meski ia menyukai pria itu, tapi rasanya sakit jika teringat akan penghinaannya. Ia jadi bingung sendiri, antara menerimanya atau tidak.
Tapi rasanya keenakan jika ia menerimanya begitu saja, bukankah apa yang dilakukan pria itu harus setimpal? Dewi pun akhirnya memiliki ide untuk mengerjainya.
Baru saja Dewi akan membuka mulut untuk menjawab, di luar terdengar bunyi klakson yang cukup ramai. Sepertinya kedatangan tamu, dan bunyi itu terdengar beberapa kali.
Dewi langsung mendorong tubuh yang sedari tadi menempel padanya. Untung, handuk yang melilit di tubuh Nathan tidak merosot. Bisa gawat kalau sampai itu terjadi. Dewi mengintip dari jendela, ia melihat mobil itu, mobil yang sudah biasa ia lihat selama di kota.
"Siapa?" tanya Nathan sembari berjalan dan membetulkan handuknya.
"Aunty, sama kak Akhsa deh kayaknya. Aku keluar dulu." Dewi segera keluar dari kamar.
"Jawabannya bagaimana?" teriak Nathan.
"Aku pikir-pikir dulu." Jawab Dewi sambil menoleh.
* * *
Dewi berlari ke depan rumah menyambut kedatangan Nindya serta yang lainnya. Di sana sudah ada Rahayu dan yang lain menyambut kedatangan mereka.
"Kenapa tidak beri kabar kalau kalian mau ke sini?" tanya Rahayu kepada anaknya.
"Iya, Bu. Ini juga dadakan, niat kami mau menyusul Nathan, kami takut dia kembali sakit," jawab Andra.
"Wi, kamu ada di sini? Mommy kira kamu ikut sama papamu?" ucap Nindya pada Dewi.
Dewi hanya tersenyum menanggapi. Lalu, Akhsa pun menghampiri.
"Wi, apa kabar?" tanya Akhsa.
"Kabar aku baik, Kak. Ayo masuk?" ajak Dewi. Saat mereka akan masuk ke dalam, Nathan berdiri di ambang pintu. Melihat kedatangan Akhsa membuatnya terganggu. Persaingan itu semakin memanas saja baginya, apa lagi akan kedekatan Dewi dengan Akhsa. Itu membuatnya sangat cemburu, kalau mereka dekat itu bisa mengubah perasaan Dewi. Menurutnya.
"Than? Katanya kamu sakit?" tanya Akhsa, "bagaimana keadaanmu sekarang?"
"Seperti yang kamu liat," jawabnya.
"Baguslah, sepertinya sudah sembuh. Kita lanjutkan persaingan kita," bisiknya di telinga Nathan.
Nathan mendengus kesal, bisa kacau kalau pria itu ada di sini. Itu bisa membuatnya jauh dengan Dewi. Dan gadis itu terheran-heran saat melihat kedua lelaki itu.
"Hai, Kak?" Tiba-tiba saja suara itu terdengar. Dewi pun menoleh ke arah sumber suara. Seorang gadis cantik memanggil kakak, dan ia rasa panggilan itu tertuju pada Nathan. Ia baru kali ini melihat gadis itu, dan sepertinya seumuran dengannya.
__ADS_1
"Nadien, kapan pulang dari Surabaya?" tanya Nathan.
"Baru kemarin," jawab Nadien.
Dewi melihat mereka dengan tidak suka, Nathan terlihat dekat dengan gadis itu.
"Oh iya, Wi. Kenalin, ini Nadien. Adikku," kenal Akhsa pada Dewi. Kedua gadis itu pun saling berjabat tangan.
"Dewi."
"Nadien," ucap mereka bersamaan.
"Ayo-ayo, masuk," ajak Halim.
* * *
"Kalian datang kebetulan sekali, kita baru mau makan malam. Sekarang kita makan sama-sama," ajak Rahayu, "Wi, ambil piring lagi," titahnya kemudian.
"Aku bantu," timpal Nadien.
Dewi dan Nadien pun akhirnya pergi ke dapur berdua. Tak lama mereka kembali. Nadien dengan sigap menawari Nathan.
"Kakak mau makan sama apa? Biar aku ambilkan," tanya Nadien.
"Wi, mau makan sama apa? Biar aku ambilkan untukmu," kata Akhsa.
Untuk para orang tua, mereka melihat itu sedikit aneh. Seperti ada persaingan diantara mereka, tapi mereka tidak ikut campur untuk itu. Terlebih pada Nindya, ia malah ingin tahu akan sikap anaknya setelah Dewi ada yang mendekati. Ada rasa kesal dengan anak lelaki sulungnya itu.
"Kalian mau makan aja ribet, kalau mau ya langsung ambil saja. Tidak usah tawar-tawaran, sudah besar juga 'kan? Bisa ambil sendiri!" celetuk Dewa. Pria itu akhirnya makan lebih dulu.
Nindya dan Andra hanya geleng-geleng kepala saat melihat tingkah anak bontotnya itu.
_
Dan akhirnya, makan malam selesai dengan penuh drama di dalamnya. Sekarang, mereka berada di ruang tamu. Berbincang-bincang hangat. Hanya Nala yang tidak bersuara di sana, ia malah sibuk dengan layar laptop-nya.
Nadien yang sedari tadi terus nemplok sama Nathan. Gadis itu memang sudah dekat sejak Nadien masih kecil, dan Nathan terlihat sangat risih sekali. Nadien tidak seperti biasanya, gadis itu seolah sengaja untuk memisahkannya dengan Dewi. Dan sekarang, ia tidak tahu di mana gadis itu.
Sejak selesai makan, Dewi sudah menghilang. Begitu juga dengan Akhsa. Nathan jadi berpikir bahwa mereka memang sedang berduan. Sial, sial, sial ..., gerutunya
"Kakak cari siapa sih?" tanya Nadien, karena ia melihat Nathan seperti sedang mencari seseorang.
"Dewi, kamu liat tidak?"
__ADS_1
"Oh, gadis itu. Memang Kakak tidak liat? Tadi 'kan pergi sama Kak Akhsa."
"Pergi ke mana?"
"Gak tahu, pake mobil perginya juga."
Nathan langsung beranjak, dan pergi ke depan rumah. Berniat melihat mobil Akhsa, dan benar saja, mobil itu tidak terparkir di depan rumah.
"Kemana mereka pergi? Bisa-bisanya Akhsa ngambil star duluan!" Nathan jadi uring-uringan tidak jelas. Akhirnya ia kembali masuk ke dalam, dan menghempaskan tubuhnya di samping Nala. Gadis itu sampai terkejut, laptop-nya pun hampir terjatuh.
"Hati-hati, ganggu saja!" cetusnya jutek. Tahu ia sedang pusing dengan clien-nya.
"Laptop mulu yang diurusin, semua lagi kumpul juga. Kamu sibuk sendiri, kerjaan nanti saja!" Ucapnya seraya menutup laptop milik Nala.
"Aku belum selesai, jangan menggangguku! Sana pergi!" usirnya.
Bingung mau ngapain, Dewi tidak ada, Nadien sedang ngobrol sama Dewa. Tidak ada pilihan selain menunggu sang pujaan hati kembali. Nathan kembali ke luar, duduk di kursi depan sambil menatap ke arah langit yang diterangi sang rembulan. Lama ia berada di sana, sampai penghuni di dalam sudah mengistirahatkan tubuh mereka masing-masing di dalam kamar.
Dan Nathan masih betah di luar sana, ia terpaksa masih di sana karena memang menunggu Dewi kembali bersama Akhsa.
Akhirnya, yang ditunggu-tunggu kembali.
"Dari mana kalian? Kenapa pergi tidak bilang-bilang?" tanya Nathan dengan nada kesal.
"Apa urusannya dengan, Kakak? Mau pergi kemana pun bukan urusanmu!" Dewi tak kalah dengan nada kesalnya. Siapa suruh dekat-dekat terus dengan gadis itu? Pikirnya.Dia juga 'kan yang rugi!
...----------------...
Mampir lagi kuy di sini.
Cuplikan bab.
"Aku apa? ngomong yang jelas !" bentak Ali karena Ara justru diam.
"Aku mencintai Kamu.!" jawab Ara dengan lantang.
"Ha-ha-ha, lelucon macam apa itu? Jelas saja banyak wanita yang mencintai aku. Aku tampan, gagah dan juga berkarisma," Ali menjawab serta menertawakan gadis culun yang mengaku mencintai nya.
"sedangkan, Kau? Aku yakin, tidak ada yang sudi dengan gadis culun sepertimu. Seharusnya kau berkaca dulu, Nona Gunawan !" lanjut Ali semakin menghina Ara. ucapannya sangat menusuk hati Ara.
"Sial, kenapa rasanya sakit sekali. Ketika kau dihina, oleh orang yang kau cintai Ara ! Luka ini bahkan lebih menyakitkan, dari pada Lukamu yang biasa kau dapatkan," batin Ara menahan sakit yang Ali berikan di hati nya.
__ADS_1