
Keesokan paginya.
Roy sudah mandi, begitu pun dengan Elena. Pria itu terus bersiul, seolah menunjukkan apa yang ia rasa. Rasa bahagia karena semalam sang istri telah memuaskannya. Kini mereka tengah berada di ruang makan.
"Tuan, tamunya gak disuruh makan?" tanya bi Asih.
"Dia tamu tak diundang, Bi. Gak usah disuruh, lapar juga nanti mereka turun," jawab Roy.
"Jangan begitu, Aileen mantan bosmu juga 'kan?" ujar Elena.
"Lihat." Tunjuk Roy ke arah Adam dan Aileen, "apa kataku, mereka pasti turun 'kan?" sambung Roy.
Elena tersenyum ke arah bumil itu, lalu menyuruh mereka untuk sarapan bersama.
"Terima kasih," kata Aileen saat Elena mempersilahkannya duduk.
"Makan yang banyak biar bayi yang ada dalam kandunganmu sehat," ucap Elena. Melihat Aileen dalam keadaan perut buncit, ia pun rasanya ingin segera hamil. Ia tersenyum tipis saat melihatnya.
Roy menyentuh tangan istrinya, ia menyadari pandangan Elena tertuju pada perut wanita itu. Elena melirik ke arah tangan setelah itu tertuju pada wajah suaminya.
"Gak lama lagi kamu pasti nyusul," kata Roy.
"Pasti 'lah, semalam juga sepertinya permainan kalian dahsyat sekali," timpal Adam yang mendengar pembicaraan mereka.
"Ish ... Apaan sih kamu ini, gak sopan," protes Aileen. Sikap Aileen kembali seperti dulu, jadi wanita kalem dan tak ikut campur urusan orang.
"Maaf," sesal Adam.
Mereka berempat mulai sarapan.
__ADS_1
"Kapan rencana kalian menikah?" tanya Roy disela-sela kunyahannya.
Bi Asih yang sedang mengisi air minum ke dalam gelas pun terhenti, karena ia kira pasangan itu sudah menikah. Tapi ia tetap menjalankan tugasnya tanpa mencela.
"Maunya sih hari ini, Roy. Tapi, aku rasa anak buah papanya Aileen pasti sedang mencari kami," jawab Adam. Terpaksa, mereka menunda pernikahannya hingga beberapa hari ke depan.
"Ijab qobul di sini saja, Dam," tawar Elena, "nanti kami bantu, om Bagas pasti membantu kalian juga."
"Siapa om Bagas?" Adam tidak mengenalnya.
"Om-nya Elena, dalam sehari bisa beres, Dam. Pernikahanku juga ditangani om Bagas, dia punya kenal penghulu, aku yakin disuruh kesini pasti mau," terang Roy.
"Tidak usah, kami bisa mengurus sendiri," timpal Aileen.
"Tapi, kalian tidak bisa gerak bebas. Pria berkepala botak itu pasti mencari keberadaanmu." Ingat kejadian semalam, Elena jadi takut sendiri. Dia 'kan terlibat dengan kepergian Aileen, pasti ia juga jadi sasaran.
"Kamu kenapa, sayang?" tanya Roy saat menyadari mimik wajah Elena.
"Maaf ya, El. Kamu jadi terlibat," ucap Adam.
"Semua sudah terlanjur, Dam," kata Roy, "kamu jangan ke rumah sakit dulu hari ini, aku khawatir," sambungnya pada Elena.
"Iya, kamu di sini saja sama Aileen. Aku akan ke kantor jadi mata-mata suamimu," kata Adam.
"Apa maksudmu bicara seperti itu? Jangan buat aku bertengkar dengan istriku! Dasar pengacau!" seru Roy pada Adam.
"Ada benarnya juga apa katamu, Dam. Suamiku perlu pengawal biar dia tidak bisa macam-macam di belakangku." Elena setuju dengan ide Adam.
Roy mendelikkan mata ke arah Adam, pria itu benar-benar membuatnya kesal. Senang sekali kalau ia kena omel dari istrinya. Sementara, Adam. Pria itu malah cengengesan tidak jelas, merasa puas karena sudah membuat Roy kalah telak dari istrinya.
__ADS_1
"Kamu susis juga ya, Roy. Masa seorang mafia takut sama istri," ledeknya kemudian.
Bagi Roy, Elena lebih menyeramkan dari hantu jika sedang marah. Bisa-bisa ia tak dapat jatah dari istrinya kalau ia berani pada istrinya itu.
"Nanti, kalau sudah menikah kamu tahu rasanya dianggurin istri. Itu lebih sakit dari gak dapat uang bulanan dari bos," celetuk Roy.
Hingga akhirnya, percekcokkan itu pun selesai karena Roy dan Adam harus segera ke kantor. Rencananya, Andra akan kembali ke tanah air hari lusa. Dan mereka tak mau mengecewakan bos besar.
.
.
.
"Kapan tuan Andra balik?" tanya Adam pada Roy yang kini sedang dalam perjalanan menuju kantor.
"Besok lusa, aku pengen cepat mereka balik," kata Roy.
"Kenapa?" tanya Adam penasaran, "apa soal Laura? Sebaiknya kamu jelaskan pada wanita itu kalau kamu sudah menikah, menurutku, dari tatapannya sepertinya dia masih menyukaimu."
Saat sedang mengobrol, tiba-tiba Adam mengerem mendadak karena ada seseorang yang menyebrang dengan asal.
Decitan ban mobil dengan jalan aspal sampai terdengar.
Ciiiitttt .... Mobil langsung terhenti seketika.
"Kamu menabraknya?" tanya Roy.
Adam gemetar, ia tidak begitu yakin antara menabraknya atau tidak.
__ADS_1
"Roy, coba kamu turun. Dan lihat orang itu," suruh Adam.