
Sesekali, Zack menoleh ke belakang. Ia merasa kasihan pada Aileen, pasti rasa nyeri itu diakibatkan dari obat yang selalu dikonsumsi-nya Ini efek samping obat yang diminumnya tanpa dosis.
Perjalanan ke kota terasa lama, padahal jalan keadaan sepi karena waktu menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Aileen terus mengaduh, Marsya pun merasa kasihan sehingga gadis kecil itu meminta pindah duduk ke belakang.
"Daddy, kasian Aunty itu. Aku pindah ya?"
"Iya, kamu temani dia di belakang."
Marsya pun pindah ke belakang lewat jalan tengah kursi. Gadis kecil itu menopang kepala Aileen menggunakan paha sebagai sandarannya, ia juga mengelus-elus kepala itu dengan sayang, ini rasanya membelai seorang ibu. Pikirnya.
"Daddy, lebih cepat!" pinta Marsya.
"Kamu pegangan ya, Daddy mau ngebut."
Jiuusss ... Mobil langsung melesat karena jalan tengah sepi tanpa hambatan. Setibanya di sana, Aileen langsung dibawa ke IGD. Rumah sakit tempat di mana Zack bekerja, bukan hanya bekerja, ia sendiri pemilik rumah sakit itu. Rumah sakit yang baru ia rintih sejak 4 tahun lalu, di mana ia tengah ditinggalkan istri tercintanya saat melahirkan Marsya.
Aileen langsung ditangani segera, wanita itu sampai pingsan karena menahan sakit yang amat luar biasa. Zack ikut bergabung dengan dokter yang menangani Aileen.
Banyak alat yang dipasangkan di tubuh wanita itu. terlebih di dekat pelipis. Bagian kepala langsung terdeteksi oleh layar komputer. Masih tak sadarkan diri, Zack meminta dokter lain untuk memeriksa dan mengambil test darah untuk ditindak-lanjuti.
Setelah sekian lama, semua selesai. Tinggal menunggu hasil test laboraturium, dan hasilnya besok. Zack minta dipercepat karena ia rasa pasien ini gawat darurat.
* * *
Pagi menjelang.
Nana mengerjapkan matanya, ia melihat ke sisi samping. Tak ada suaminya di sana, pikirnya suaminya itu di kamar mandi. Tapi tak ada tanda-tanda ada orang di sana, keadaan nampak sunyi. Masih berpikir bahwa suaminya itu ada di rumah, dengan santai ia terbangun dan mengikat rambutnya dengan menggulungnya secara asal.
Nana keluar dari kamar, menuruni anak tangga. Melihat jam di dinding waktu menunjukkan pukul 05.30. Saat menuruni anak tangga, ia melihat asisten baru sampai. Pekerja itu bekerja paruh waktu.
"Pagi, Bu?" sapa seorang wanita paruh baya bernama Minah, "Bapak sudah berangkat ya, Bu? Saya tidak melihat mobil Bapak di depan," ucapnya.
__ADS_1
Nana mengerutkan keningnya, "berangkat?" pikir Nana.
"Saya masuk dulu, Bu," pamit Minah.
Nana masih terdiam di anak tangga sambil berpikir, tidak biasanya suaminya berangkat sepagi ini, apa lagi sampai tidak pamit padanya. Apa ini ada hubungannya dengan diam-nya?
Nana kembali ke kamar, siapa tahu suaminya memberi pesan lewat surat atau semacam yang lainnya seperti pesan di ponselnya, mungkin. Baru sampai pintu, ia mendengar sebuah notif masuk ke dalam ponselnya. Buru-buru ia mengambil ponsel itu, dan melihatnya karena penasaran.
Sayang, maafkan Mas. Mas tidak pamit, tadi Mas ada kabar kalau pagi ini ada meeting penting sama Tuan Andra. Mas juga berangkat bersamanya.
Nana bernapas lega, lalu ia menghubungi Nindya karena masih belum percaya, karena tidak biasanya seperti ini meski ada meeting di luar kota sekali pun.
"Hallo, apa suamimu sudah berangkat?" tanya Nana pada Nindya lewat panggilan via telepon.
"Iya, katanya ada meeting penting pagi ini jam 7. kenapa memangnya?"
"Tidak apa-apa, Mas Adam pergi saat aku masih tidur."
"Masih pagi udah ngeres aja pikiranmu! Ya sudah kalau gitu, bye." Nana menutup ponselnya. Ia meletakkan ponselnya, dan setelah itu pergi ke kamar Akhsa untuk membangunkan bocah itu karena akan sekolah pagi ini.
* * *
Andra dan Adam sudah janjian, kali ini ia tak melibatkan Roy. Takut masalah ini diketahui oleh Elena dan malah menjadi repot karena Elena cukup dekat dengan Nana. Sering bertemu di sekolah membuatnya menjadi akrab.
Adam dan Andra sudah bertemu di tepi jalan. Adam sendiri belum tahu kalau Aileen sudah berada di kita yang sama. Ia langsung mengajak Andra untuk segera berangkat ke kota tujuan.
"Aileen sudah ada di sini, dia ada di rumah sakit. Sebaiknya kita segera ke sana dan temui dokter Zack," kata Andra.
"Kenapa tidak memberitahuku, kalau tahu sudah ada di sini aku tidak akan berangkat sepagi ini. Aku sampai tidak pamit pada Nana karena takut keburu siang." Adam sedikit kesal.
"Kamu yang minta segera berangkat, tidak baca pesanku lagi?" sungut Andra.
__ADS_1
Adam mengecek ponselnya, dan benar saja ia tak membaca pesan berikutnya dari Andra. Ia langsung terbangun saat tahu keadaan Aileen yang tidak sadarkan diri. Tak menunggu lama lagi, kedua pria itu masuk ke dalam mobil masing-masing dan langsung menuju rumah sakit.
Adam terlihat sangat panik sekali, setibanya di sana ia langsung teringat di mana Aileen dibawa kabur oleh mertuanya. Masih terbayang saat Aileen kesakitan karena akan melahirkan waktu itu. Berpisah di rumah sakit, dan kali ini dipertemukan lagi di rumah sakit.
Apa hanya ada kesakitan selama berada bersama istri pertamanya itu? Cobaan tiada henti saat bersamanya. Dan ia tak yakin, kalau pun ia bersatu kembali belum tentu kebahagiaan itu menerpanya. Terlebih dengan Morano yang entah kenapa begitu tidak menyukainya, dengan keadaannya yang sekarang, apa pria itu masih tak menyukainya? Keadaan sudah berubah, Adam bukan lagi pria miskin yang dikenal Morano.
Adam sudah sukses, bahkan semua orang hampir mengenal dirinya karena ia sering bepergian bersama Andra dan Roy. Siapa yang tak mengenal keluarga Wiliam? Banyak pembisnis yang ingin ikut bergabung dengan perusahaan itu. Terbukti, Adam yang tadinya bukan siapa-siapa kini banyak dikenal orang setelah ikut bekerja dengan Andra.
Pandangan Andra menjumpai dokter Zack saat pria baru saja keluar dari sebuah ruangan. Dan ia langsung menghampirinya, tak lupa Adam mengekor dari belakang.
"Zack?" panggil Andra.
Zack pun menoleh. "Ndra?" Lalu Zack melihat ke samping kiri Andra, terlihat Adam di sana. Zack mengerutkan keningnya saat melihat keberadaan Adam.
"Bagaimana istriku?" tanya Adam tiba-tiba.
"Istri?" Zack mengulangnya.
"Iya, ceritanya panjang, Zack. Adam dan Aileen sebenarnya sudah menikah, karena tidak mendapatkan restu membuat mereka berpisah selama 5 tahun," jelas Andra. Panjang lebar Andra menceritakan semuanya, dan itu membuat Zack mengerti kenapa orang tua Aileen berbuat demikian.
"Aileen di dalam, dia kesakitan dibagian kepala dan sampai sekarang belum sadar," terang Zack.
"Apa yang membuatnya kesakitan? Aku dengar dia juga kehilangan ingatannya, tolong bisa jelaskan?" kata Adam.
"Aileen terlalu banyak mengkonsumsi obat, dan saya belum tahu pasti obat apa itu. Yang jelas, obat itu membuatnya hilang ingatan, bahkan dia tak mengenali dirinya sendiri."
Adam begitu terkejut, jadi selama ini istrinya tak mengingatnya sama sekali, bagitu pun juga pada Akhsa. Tanpa izin, Adam menghampiri pintu dan langsung masuk ke dalam sana. Zack yang hendak melarangnya langsung dicegah oleh Andra.
"Biarkan dia masuk," kata Andra pada dokter Zack.
Adam tercengang melihat keadaan istrinya yang tubuhnya terpasang oleh alat.
__ADS_1
"Aileen," lirih Adam.