
Resepsi pernikahan Roy dan Elena pun selesai, semua para tamu yang hadir undur diri mulai satu persatu. Termasuk Adam dan Nana, bahkan mereka berdua pamit lebih dulu karena tak bisa pulang larut malam karena mengajak Akhsa.
"Akhsa tidur?" tanya Adam yang sedang dalam perjalanan pulang.
"Iya, Mas," jawab Nana singkat.
"Kamu lelah?"
"Biasa saja sih, kenapa memangnya?"
"Aku perhatikan kamu diam saja."
Nana tak lagi menjawab, ia hanya tersenyum tipis.
"Oh iya, lusa aku dan Roy akan pergi ke luar kota. Selama aku tidak ada, kamu baik-baik ya sama Akhsa."
"Berapa hari perginya, Mas?"
"Gak lama, mungkin sekitar 2 sampai 3 hari saja. Kalau bosan kamu bisa temui nona Nindya, dan mengajak Akhsa main ke sana."
"Iya, nanti aku bisa pikirkan itu."
Beberapa saat kemudian, mereka sampai di apartemen.
"Kamu kenapa?" tanya Adam saat Nana berjalan dengan pelan.
"Mas, kamu saja yang gendong Akhsa, bagaimana? Kaki-ku kok pegal ya?" Nana tak terbiasa menggunakan hak tinggi, itu pun tidak terlalu tinggi hanya 3 cm. Karena ia biasa menggunakan sepatu flathsoes.
"Sini." Adam mengambil alih Akhsa dari pangkuan Nana, "kamu itu kayaknya gak biasa pake alas kaki yang ada hak-nya?"
"Iya," jawab Nana.
"Kenapa dipaksa pakai kalau tidak terbiasa?"
"Kita itu harus menghargai pemberian orang, Mas. Nindya sudah membelikannya untukku," terang Nana.
"Kapan dia membelikannya untukmu?" tanya Adam, karena ia tidak tahu sama sekali.
"Dua hari lalu, saat Mas di kantor." Mereka berbincang sambil berjalan menuju lift.
"Pak Adam," sapa seorang wanita saat akan masuk ke dalam lift.
__ADS_1
"Mbak Susi," ucap Adam.
Wanita itu melihat ke arah Nana dari ujung kaki sampai ujung kepala. Susi dan Adam apartemennya saling berhadapan, dan ia baru kali ini melihat Nana terlihat rapi.
"Abis dari mana? kalian terlihat rapi?" tanya Susi.
"Habis dari resepsi pernikahan teman," jawab Adam.
Tak lama pintu lift terbuka mereka berjalan berbarengan. Hingga akhirnya mereka berpisah karena sudah sampai di depan pintu masing-masing. Nana dan Adam pun sudah masuk.
"Kamu istirahat aja, Na," saran Adam, "malam ini Akhsa tidur bersamaku."
"Ah, iya."
Setibanya di kamar, Nana melepas sepatunya. Jari kaki-nya memerah dan lecet. Nana mengelus-ngelus-nya sebentar, lalu duduk di sandaran kasur dengan kaki terselonjor.
"Kapok deh, gak pake lagi itu sepatu. Semahal apa pun sepatunya kalau tidak terbiasa pasti merah begini," keluh Nana, "lebih enak pakai sandal jepit."
Nana terus mendumel, omelannya sendiri terhenti saat mengingat kejadian tadi. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Tidak, kenapa wajahnya muncul dalam pikiranku? Fokus, Na. Tujuanmu ke sini itu untuk kerja, bukan jatuh cinta." Nana melepas kedua tangannya dari wajah, lalu ia memukul kepalanya sendiri. Mencoba melepaskan bayangan wajah itu yang hadir dalam benaknya.
Lalu ia menekuk kedua kaki dan melihat kaki-nya yang merah. Memijat buah betisnya karena pegal. Pijatan itu terhenti kala pintu kamarnya diketuk.
Bagaimana ini? Ngapain dia mau ke sini?
"Na? Kamu sudah tidur ya?" tanya Adam lagi, padahal ia mau memberikan krim untuk kaki-nya mungkin itu bisa membantu meredakan rasa pegalnya.
Nana tetap tidak menjawab.
"Apa lagi di kamar mandi ya?" pikir Adam, "Na, ini krim untuk kaki-mu biar tidak pegal lagi, aku taruh di bawah pintu." Setelah meletakkan krim pegal itu Adam langsung pergi.
Tak lama, pintu kamar Nana terbuka, dan gadis itu langsung mengambilnya. Sedangkan Adam, pria itu masih ada di ruang tamu sehingga ia dapat melihat Nana keluar.
"Na?" panggil Adam, "aku kira kamu tidak dengar, abisnya tidak menjawab panggilanku."
Suara Adam mengejutkan Nana, ia kira pria itu sudah berada di kamarnya. Nyatanya malah ada di ruang tamu dan duduk santai di sofa. Adam malah menghampiri gadis itu, karena ia ingin melihat kaki Nana yang katanya pegal.
"Kaki-nya masih sakit?" tanya Adam.
Nana menggelengkan kepala sebagai jawaban.
__ADS_1
Lalu Adam melihat ke arah kaki Nana, jari kaki-nya terlihat merah.
"Tapi itu merah loh, Na. Lecet?"
"Sedikit, tapi gak apa-apa. Aku masuk." Tanpa mendengar jawaban Adam, ia langsung masuk dan menutup pintu.
Adam menghela napas, "dia kenapa? Kok sikapnya sedikit aneh." Adam masuk ke kamarnya.
💞
Di kamar, Nana mengobati kaki-nya yang merah serta mengoleskan krim di buah betisnya. Merasa baikan, ia pun merebahkan tubuhnya di ranjang sambil menatap langit-langit. Tidak bisa tidur, meski ia terus membolak-balikkan tubuhnya mencari posisi yang benar-benar nyaman.
Seketika, Nana terbangun duduk. Mengacak rambutnya sendiri dengan kesal.
"Tidur, Na. Ini sudah malam, mau sampai kapan mikirin pria itu?" Nana kesal sendiri dengan pemikirannya.
Ia mengedarkan pandangannya, lalu tatapannya menangkap susu formula Akhsa yang berada di kamarnya.
"Itukan susu Akhsa, kenapa sampai lupa tidak memindahkannya ke dapur." Mau tak mau, Nana turun dari tempat tidurnya lekas menyimpan susu itu ke dapur.
Saat berada di dapur, ia melihat Adam. Dan pria itu pun melihat ke arahnya.
"Na, kamu letakkan di mana susu formulanya Akhsa?" Belum Nana menjawab, Adam lebih dulu melihat⁰ susu itu berada dalam dekapan Nana, "itu, Mas cari ini." Adam langsung mengambil susu formula itu.
"Biar aku yang membuatnya," kata Nana.
"Tidak usah, kamu istirahat saja. Besok hari libur, biar aku yang mengurus Akhsa. Sudah sana, jangan ngeyel."
Nana kembali ke kamar tanpa berucap dan membiarkan Adam membuat susu untuk Akhsa.
Keesokkan paginya.
Pagi ini, Nana kesiangan. Sudah pukul 7 pagi gadis itu masih belum terbangun. Sampai cahaya matahari masuk ke kamarnya gadis itu masih terjaga dari tidurnya, akibat semalaman tidak bisa tidur karena bayang-bayang wajah Adam selalu muncul dalam benaknya.
Sinar matahari semakin terasa panas dipermukaan wajah Nana, dan gadis itu mulai mengerjap-ngerjapkan matanya. Sinar itu semakin menyongsong, dengan seketika ia terbangun. Melihat jam sudah menunjukkan pukul 7 lebih.
"Ya ampun, aku kesiangan." Nana langsung beranjak dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah itu selesai ia langsung keluar dari kamarnya. Pergi ke dapur langsung membuatkan sarapan.
Semuanya selesai, ia pun berniat mengambil Akhsa karena ingin memandikannya. Tapi ia tak berani mengetuk pintu kamarnya, karena ia mengira pria itu pun belum terbangun. Akhirnya, ia memaksakan diri mengetuk pintu itu.
Setelah beberapa menit, pintu masih tertutup rapat dan tidak ada jawaban. Nana pun memutar handle pintu dan membukanya. Kamar terlihat kosong.
__ADS_1
"Kemana mereka?" kata Nana.