Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 178 Ini Tidak Boleh Terjadi


__ADS_3

Tubuh Dewi nyelonong masuk begitu saja, bahkan tak lagi mempedulikan Akhsa yang sedari tadi bersamanya. Pria itu menatap punggung Dewi yang kian menjauh dan perlahan menghilang dari pandangan. Nathan melihat Akhsa yang dari tadi melihat ke arah gadis itu pergi. Ia tak suka dengan kedekatan mereka, rasanya ingin memaki. Tapi ia juga harus mematuhi perjanjian mereka.


Bisa dibilang, Nathan yang sudah curang. Ia sudah mengungkapkan perasaannya lebih dulu, bahkan sudah meminta wanita itu menjadi pacarnya. Tapi tidak ada salahnya, karena Nathan sudah tau siapa yang dia sukai. Tidak merasa berkhianat karena perjanjian itu tidak boleh mengungkapkan perasaannya sebelum tau siapa yang akan dipilih Dewi.


Dengan percaya diri, Nathan yakin bahwa ia-lah yang akan dipilih oleh gadis itu. Tak memungkiri, bibirnya mengulum senyum kala teringat, tak ada penolakan dari gadis itu saat ia menciumnya. Percaya dirinya semakin tinggi, dan berpikir Dewi pergi bersama Akhsa hanya ingin membuatnya cemburu.


Nathan tidak mempermasalahkan kepergian Dewi dengan sahabatnya. Ia yakin dirinya yang akan dipilih nanti. Tanpa pamit, ia pergi masuk ke dalam dan meninggalkan Akhsa seorang diri. Pria itu tersenyum getir, tak ada spesial dari Dewi malam ini. Gadis itu terus mengoceh tentang Nathan yang kian hari semakin berubah.


"Kak Nathan sudah berubah, dia sudah baik padaku," kata Dewi, "semoga akan seperti itu terus."


"Aku ikut senang mendengarnya." Akhsa berkesimpulan bahwa Dewi sudah mulai menaruh hati pada sahabatnya. Di sini, ia akan mundur secara perlahan. Tidak akan memperlihatkan kekecewaannya, sudah sepakat, siapa pun yang dipilih Dewi nanti mereka harus saling berlapang dada.


Akhsa menyusul masuk kedalam setelah mengingat saat hatinya terluka oleh Dewi untuk yang pertama kalinya. Luka yang tak pernah dilakukannya tapi cukup mampu membuat hatinya hancur berkeping-keping.


* * *


Nathan gelisah, ia tak bisa tidur malam ini sebelum tau apa saja yang dilakukan Dewi tadi bersama Akhsa. Meski ia percaya pada temannya itu, tetap saja belum yakin jika belum mendengarnya langsung dari Dewi. Ia butuh penjelasan malam ini juga. Kalau tidak, dirinya tidak akan bisa tidur semalaman.


"Kamu kenapa? Sepertinya gelisah sekali?" tanya Akhsa yang tidur bersamanya dalam satu kamar. Tak hanya mereka berdua, Panji pun ikut serta. Pria itu tidur di bawah sana, menggelar kasur lantai untuk dijadikan alasnya tidur. Terasa sempit jika tidur bertiga dalam satu ranjang.


"Aku tidak bisa tidur," jawabnya. Nathan akhirnya bangkit dari tempatnya. Duduk di tepi ranjang dengan kaki menjuntai, "aku mau ambil minum dulu." Ucapnya seraya beranjak dan mulai berjalan ke arah pintu.


"Aku tau kamu pasti gelisah karena Dewi bersikap tidak baik padamu," gumam Akhsa lalu kembali tidur karena malam ini sudah cukup larut.


* * *


Nathan mengambil minum di dapur, duduk sambil memegang gelas lalu kembali meneguknya. Bukan haus, melainkan melampiaskan yang menjadi beban dalam pikirannya. Menatap pintu yang tak jauh dari sana, yang di mana, ada gadis tertidur di dalam sana. Gadis yang selama ini sudah mengobrak-abrik perasaannya.


Seolah hilang kendali, Nathan meletakkan gelas di atas meja, lalu menghampiri pintu kamar si bibi yang kini di tempati oleh Dewi. Gadis itu memilih tidur sendiri di sana ketibang bergabung dengan Nadien, gadis itu selalu memuja Nathan. Seakan dirinya yang lebih dekat. Ia merasa muak saat mendengarnya.

__ADS_1


Sendiri adalah pilihan yang tepat. Dewi tidur dengan nyenyak, ia tak mau memikirkan pria itu. Dengkuran halus terdengar di pendengaran Nathan. Ya, pria itu akhirnya masuk tanpa permisi. Berjongkok di sisi ranjang berukuran hanya cukup untuk satu orang. Merapikan helaian rambut berwarna hitam pekat dan menyelipkannya di daun telinga gadis itu.


mengusap pipi dengan ibu jari. Menatapnya begitu lama, sehingga si pemilik raga membuka mata. Dewi terbelalak saat melihatnya, hampir mengeluarkan suara jika Nathan tidak buru-buru membekapnya dengan tangannya.


"Suutthhh, jangan teriak. Nanti seisi rumah mendengarnya, mereka mengira aku ngapai-ngapain kamu," bisik Nathan.


Dewi meraih tangan pria itu agar terlepas, lalu berucap. "Kakak ngapain di sini? Kalau ada yang tau bagaimana? Mereka pasti mengira yang tidak-tidak, ku mohon keluar," pinta Dewi.


"Aku tidak bisa tidur, izinkan aku di sini," bisik Nathan.


Dewi membulatkan mata, mata yang tadi terasa sepat kini terbuka lebar dengan keinginan pria itu. Permintaan macam apa? Siapa dirinya bisa seenaknya dengan keinginannya yang pasti bisa membuat mereka menikah mendadak. Betada dalam satu ruangan dengan lawan jenis akan menimbulkan kabar yang tidak baik.


Dengan sigap, Dewi menolak itu. Ia tak mungkin membiarkan pria itu bersamanya semalaman di dalam kamar sempit ini. Tidak ada ruang lagi, bahkan tempat tidur hanya cukup untuk satu orang. Dewi akhirnya bangkit dan menyeret tangan pria itu agar keluar dari kamar.


Sayang, aksinya sepertinya tidak berhasil, kakinya malah tersandung. Mereka terjerembab dalam ranjang kecil itu. Tubuh Dewi akhirnya menindihnya. Bola mata mereka saling beradu. Jantung Dewi berdebar tak menentu. Tidak bisa dipungkiri, debaran itu semakin kuat kala hembusan mereka terasa di wajah masing-masing.


Tak ada suara dari keduanya. Mereka malah terbawa suasana. Lampu temaram membuat mereka saling terdiam, hanya menelan saliva yang bisa mereka lakukan. Nathan mengangkat kepala untuk menyatukan bibirnya, dalam satu gerakan, bibir mereka saling menempel. Bagai terhipnotis, Dewi tak berkutik. Bibir lembut yang tidak pernah menyesap roko itu tercium wangi mentol.


Sesaat, Nathan melepaskan tautannya. Mata hazelnya melihat wajah gadis itu. Wajah bersemu merah yang diterangi lampu tidur. Helaian rambut mulai terayun ke arah wajahnya. Lagi-lagi, dengan satu gerakan ia merubahkan posisi. Dewi sudah berada dalam kungkungannya.


Gadis itu secara perlahan memejamkan mata kala Nathan memajukan kembali wajahnya. Ciuman kembali terjadi. Dewi membalas ciuaman itu walau masih terasa kaku. Tapi Nathan meningkmatinya, ia pun sama seperti gadis itu. Sama-sama untuk yang pertama. Akan tetapi, Nathan cukup tau dalam hal seperti ini.


Kuliah di luar negri membuatnya tau meski tak harus melakukannya. Teman-temannya sering malakukan ciuman di depannya, dan hal itu dianggap wajar karena ia berada di lingkungan bebas.


Perlahan, tangannya mulai membuka kancing piama yang digunakan Dewi. Kancing pertama terlepas, kedua pun terlepas. Saat Nathan akan membuka kancing ketiga, Dewi langsung menahannya. Ia masih berada dalam sadar, ia tau ini salah. Ini tidak boleh terjadi. Nathan pun menghentikan ciumannya.


Melihat kepala Dewi menggeleng sebagai isyarat untuk menyudahinya. Ini sudah di luar batas. Dewi akhirnya bangkit.


"Aku minta Kakak keluar."

__ADS_1


___


Jangan lupa dukungan untuk author remahan ini, like, komen, dan vote!!!


...----------------...


Mampir di karya temanku yang mungkin kalian sudah pasti tau.



Cuplikan bab.


"Kalau bukan karena bakti ku pada kedua orang tua. Sudah dari dulu aku tinggalkan Hanna!" ujar Reza jujur.


Pria itu tak memiliki perasaan apapun pada Hanna. Tidak ada perasaan berdebar-debar dan gugup saat berdampingan dengan istrinya itu.


Rasanya hambar, bahkan ada dan tiada Hanna, dia merasa akan baik-baik saja.


Degg.


Hanna memeluk erat kotak bekal yang ia bawakan untuk Reza. Mata wanita itu menganak sungai, tak pernah ia sangka akan mendengar kata-kata menyakitkan dari lisan suaminya sendiri.


Ternyata selama ini dia tak lebih hina dari noda hitam yang menempel di pakaian suaminya.


Apa salahnya? Apa kekurangannya?


Sehingga, suaminya tega berkata seperti itu pada temannya sendiri.


"Baiklah, Mas. Cukup sampai detik ini aku berusaha menjadi istri yang baik untukmu. Percuma aku berusaha mendapatkan hatimu, kalau aku tak lebih dari noda hitam di matamu!"

__ADS_1


"Akan aku tunjukkan apa noda hitam itu sebenarnya! Jangan salahkan aku berubah. Karena kamu sendiri yang telah membuat aku berubah!" gumam Hanna seraya menghapus air matanya yang mengalir di pipi.


__ADS_2