
"Rencana kita awalnya dari mana, Tuan? Saya masih belum paham," kata Roy yang sudah berada di ruang kerja tuannya.
Ruangan kedap suara membuat Andra dan Roy bebas bicara di sana. Andra tak takut jika Aileen mendengarkan pembicaraannya, ia hanya butuh Roy untuk menjaga rahasianya. Tak ada yang ditutupi oleh Andra pada Roy.
"Aku akan menikahi Nindya."
Roy kembali terkejut, ia pikir apa yang dibisikkan tempo lalu itu hanya gurauan. Tapi nyatanya itu benar, lalu bagaimana dengan Aileen? Setahu Roy tuannya tak pernah memiliki perasaan pada gadis itu, ia juga tahu tentang Nindya. Gadis yang bekerja sebagai pembantu di rumah utama sang bos.
"Apa yang membuat Tuan ingin menikahinya?"
"Aku sudah tidur bersamanya, dia yang seharusnya menjadi istriku, bukan Aileen." Andra mulai menceritakan semuanya pada Roy. Di mana ia mencintai Nindya sejak dulu, dan mengapa ia menikahi Aileen, Andra pun cerita termasuk istrinya yang tak suci lagi.
"Bagaimana menurutmu? Apa tindakanku sudah benar?"
"Tapi bagaimana kalau Tuan Wiliam tahu? Beliau tidak mungkin menyetujuinya."
"Itu yang menjadi masalahku sekarang, setelah aku menikahi Nindya, dia tetap akan bekerja di rumah utama seperti biasa. Pernikahanku tidak boleh ada yang tahu selain kita, tapi itu hanya sementara sebelum aku bercerai dengan Aileen"
"Lalu rencananya kapan Tuan menikahi gadis itu? Ah, siapa namanya?"
"Nindya."
"Ya, itu. Lalu bagaimana Nona Aileen?"
"Aku akan menceraikannya, tapi menunggu waktu yang tepat. Dan aku ada tugas untukmu, awasi Aileen. Apa dia masih menjalin hubungan dengan kekasihnya atau tidak?"
"Baik, Tuan."
"Untuk rencana pernikahan, tunggu Nindya pulang ke rumahnya. Biasanya dia pulang dua bulan sekali, aku ingin keluarganya menjadi saksi dipernikahanku nanti."
__ADS_1
Semua pembicaraan malam ini sudah jelas, karena malam semakin larut Roy pun undur diri. Ia harus menyiapkan semua apa yang diinginkan tuannya. Ia akan mengerahkan beberapa orangnya untuk mengawasi Aileen juga persiapan pernikahan bosnya nanti.
Semua harus perfack, pernikahan adalah sesuatu yang sakral. Meski acaranya sederhana tapi semuanya harus sempurna.
* * *
Andra masuk ke dalam kamar, ia melihat istrinya sudah tidur pulas di tempat tidur. Wanita itu tak mencurigai akan kedatangan Roy, ia mengira semua hanyalah urusan pekerjaan. Sehingga ia bisa tidur dengan nyenyak malam ini.
Akhirnya, Andra pun bisa tidur dengan tenang malam ini. Aileen sudah tidur, wanita itu tak mungkin macam-macam padanya. Andra merebahkan tubuhnya di sebrang Aileen, guling ia jadikan sebagai pembatas.
Pikiran Andra melayang kala ia teringat akan kejadian bersama Nindya. Ia tak menyangka semua akan berakhir seperti ini, perasaan yang selama ini ia pendam dengan terpaksa ia lontarkan. Dibalik pernikahannya yang berantakan membuat Andra mengambil sisi baiknya, dengan keadaan seperti ini membuatnya harus menikah dengan Nindya meski dengan cara yang salah.
Tapi tak mengapa, karena ini memang cinta. Mungkin ini takdir yang sudah digariskan untuknya. Menyatukan kedua insan yang memang saling mencintai. Perbedaan tak membuat mereka berpisah, Tuhan menyatukan cinta mereka dengan cerita lain dari pada yang lain.
Andra mulai terlelap dengan sendirinya tanpa ada gangguan dari istrinya itu.
* * *
Nindya tengah mengemas barang miliknya, rencana yang seharusnya ia pulang kampung minggu depan. Tapi ia memajukan jadwal kepulangannya, ia butuh waktu untuk sendiri. Kejadian yang menimpanya beberapa hari lalu membuatnya banyak pikiran. Tidur tak nyenyak, makan terasa hambar. Masalah ini bukanlah masalah sepele, ia takut akan tuan Wiliam.
Apa lagi tentang tuannya yang begitu mendesak akan menikahinya. Nindya hanya merasa tak pantas menjadi pendamping tuannya itu. Semua orang akan mencemo'oh-nya, apa lagi tahu pernikahannya hanya sekedar rasa tanggung jawab padanya.
Ia tak sepenuhnya percaya pada laki-laki itu, meski Andra sudah berkata jujur padanya. Tapi Nindya merasa itu hanya rasa empati dari tuannya karena merasa bersalah, karena sudah mengambil mahkotanya.
Seusai mengemas barang-barangnya, Nindya menemui nyonya Anye.
"Nyonya?" panggil Nindya, gadis itu membawa tas besar miliknya.
Anye sedang menikmati teh hangat sambil membaca majalah. Wanita paruh baya itu melepaskan kacamatanya dan menutup buku majalah, lalu meletakknya di atas meja.
__ADS_1
"Kamu mau kemana, Nindya?"Anye melihat gadis itu membawa tas besar di hadapannya.
Nindya meletakkan tas besar itu di lantai, lalu berucap. "Saya pulang kampung sekarang saja, Nyonya. Saya dapat kabar katanya harus pulang hari ini, jadi saya harus pulang hari ini juga." Terpaksa Nindya berbohong.
"Oh, begitu ya. Ya sudah, kamu hati-hati di jalan. Kalau sudah sampai hubungi saya, dan salam untuk keluargamu." Anye memang baik padanya, tapi kebaikannya hanya berlaku jika suaminya tidak ada di rumah.
Percakapan Nindya dan Anye di dengar oleh kepala asisten, mungkin ini kabar baik baginya. Bukan hanya menjadi kepala asisten, Lee juga seorang mata-mata yang disuruh Aileen. Sejak pertama melihat Nindya, ia sudah mulai curiga. Apa lagi melihat cantiknya pembantu itu, ia mengira bahwa suaminya menaruh hati pada Nindya. Dan sepertinya dugaannya memang benar.
Lee mulai menghubungi Aileen.
* * *
"Ada informasi apa?" jawab Aileen. Tahu Lee yang menghubunginya, ia sedikit celingak celinguk karena takut suaminya tahu tentang Lee yang sebagai mata-matanya di rumah utama.
"Hari ini Nindya pulang kampung."
"Baguslah kalau gadis kampung itu pulang ke rumahnya, saya tidak perlu khawatir karena suami saya aman di sini bersama saya. Ok, baiklah. Terima kasih infonya."
Aileen menutup ponselnya, wajahnya langsung ceria ketika ia tahu gadis kampung itu tidak ada di rumah utama. Sayang, perbincangannya ternyata di dengar oleh Andra.
"Bicara dengan siapa dia? Siapa yang pulang kampung?" Andra jadi berpikir, apa jangan-jangan Nindya? Ia langsung gerak cepat. Andra pun keluar rumah, ia menghubungi Roy, ia memintanya untuk segera ke rumah utama untuk mengecek di sana. Apa benar Nindya pulang kampung hari ini, bahkan jadwal yang seharunya itu minggu depan.
Kalau pun benar, ia harus segera merencanakan semuanya dari sekarang. Mumpung Nindya pulang, ia mengerahkan beberapa orang untuk lebih dulu sampai di kampung halaman Nindya.
Karena ada pertemuan di kantor dan harus meeting, sebelum pergi ia akan mengurus kantornya lebih dulu untuk memastikan semuanya baik-baik saja. Sekalian ia akan bilang pada Aileen bahwa ia akan pergi ke luar kota untuk menangani cabang perusahaan yaitu perusahaan garment yang terletak di kota Sukabumi, yang tak lain adalah kampung halaman Nindya.
Andra kembali masuk ke dalam rumah seusai berbincang dengan Roy. Pagi ini ia harus segera ka kantor. Tanpa sarapan ia langsung ingin pergi.
"Tidak sarapan dulu?" tanya Aileen.
__ADS_1
"Aku harus segera ke kantor, ada tamu hari ini."
Dengan perasaan kecewa Aileen pun pasrah yang harus ditinggal oleh suaminya. Setidaknya ia merasa aman karena gadis yang menjadi penghalangnya tidak ada di rumah utama. Akhirnya, ia pun sarapan pagi ini sendiri karena Andra sudah berangkat.