
Setelah Nindya menutup ponselnya, ia membalikkan tubuhnya karena Andra datang menemuinya. Suaminya langsung duduk di sampingnya. Pria itu seolah tak mendengar apa-apa, ia ingin istrinya sendiri yang mengatakannya.
"Masih marah?" tanya Andra basa-basi.
Nindya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Andra pun akhirnya menarik tubuh istrinya, ia mendekap seolah memberi kekuatan.
Nindya mendongakkan wajahnya, sebenarnya ia ingin cerita. Tapi ia ragu, akhirnya ia memilih untuk memendam rasa kecewanya pada orang itu. Orang itu yang tak lain adalah ayah kandungnya. Ya, si penjual arum manis itu adalah ayahnya. Pria yang sudah meninggalkannya selama 5 tahun, tanpa kabar dan tanpa kejelasan pria setengah abad itu pergi meninggalkannya.
Dan hari ini, Nindya melihat sosok ayah yang ia rindu namun sangat ia benci. Kepergian laki-laki itu membuat kehidupannya berubah 80 derajat. Dihina, dicaci, bahkan diusir dari rumahnya sendiri oleh tante-nya yang tak lain adalah adik dari ayahnya.
Nindya hapal betuh sosok ayahnya, namun disaat ia melihatnya, sosok itu berubah. Pria itu sedikit kurus, ingin ia menghampirinya. Tapi rasa kecewa dan sakit hati membuatnya mengurungkannya. Tante-nya pernah berkata bahwa sang ayah pergi bersama wanita lain, lebih memilih hidup sendiri dan meninggalkannya serta adiknya yang masih balita.
"Kamu kenapa? Coba cerita padaku," kata Andra. Andra ingin istrinya jujur dan terbuka akan kehidupannya dimasa lalu.
"Apa aku egois jika tidak bisa memaafkan seseorang?" tanya Nindya.
"Maksudmu?" Andra seolah tidak tahu, padahal ia mendengar percakapan tadi dan membuatnya cukup mengerti.
"Tadi aku melihat ayah."
"Ayah?"
"Iya, si penjual arum manis tadi ayahku. Dia pergi meninggalkanku, ibu, juga kedua adikku sejak masih bayi," terang Nindya.
"Apa kamu marah padanya karena dia meninggalkanmu? Tanpa tahu yang sebenarnya kamu membencinya?"
"Dia pergi tanpa kabar, bahkan dia tak mencari keberadaan kami setelah kami diusir dari rumah. Aku dan ibu berjuang bersama, bertahan untuk hidup."
Ibu Rahayu harus bekerja banting tulang demi menghidupi ketiga anaknya, dari buruh cuci sampai menjadi pengepul bawang. Nindya sendiri menghabiskan masa remajanya di rumah, menjaga kedua adiknya sepulang sekolah. Setelah lulus sekolah, ia nekat merantau ke kota untuk membantu perekonomian keluarganya. Hingga ia beruntung bertemu dengan keluarga Wiliam.
Banyak yang Nindya lalui tanpa sosok ayah, wajar ia sedikit membenci ayahnya. Apa lagi sang tante mengatakan yang katanya ayahnya pergi bersama wanita lain.
__ADS_1
"Lalu, setelah kamu tahu keberadaannya, kamu tidak berniat berkumpul kembali? Setiap orang punya kesalahan, sayang. Mungkin ayahmu sudah mencari keberadaanmu, bukankah kamu diusir oleh tante-mu? Kenapa tante-mu bisa mengusirmu? Apa kamu tidak curiga?"
"Maksudmu?" Nindya tak mengerti.
"Kalau ayahmu pergi bersama wanita lain, menurutku itu tidak mungkin." Andra pun bisa menilai ayah Nindya dari penampilannya. Pria itu nampak lusuh, bahkan berjenggot seperti tidak terurus. Ditambah lagi tante-nya malah mengusirnya setelah kepergian ayahnya.
"Menurutmu dia kemana selama 5 tahun menghilang?" tanya Nindya.
"Apa kamu tidak pernah menanyakan masalah ini pada ibu?" Nindya menggeleng, setelah kepergian ayahnya, Nindya tidak ingin lagi tahu dengan kehidupan pria itu. Tante-nya berhasil membuatnya membenci ayahnya.
"Temuilah dia, beri dia kesempatan untuk memperbaiki diri. Itu pun kalau ayahmu benar pergi bersama wanita lain, apa kamu tidak kasihan pada Nisa dan Panji? Mungkin dia sama sepertimu, ingin bertemu dengannya."
Nindya terdiam mendengar penuturan suaminya.
"Kamu sudah melihatnya, dan tahu keberadaannya. Apa dia tak melihatmu tadi?"
"Tidak, saat aku melihatnya aku langsung pergi."
"Kasihan ayahmu," kata Andra lagi.
* * *
Sementara ibu Rahayu, wanita paruh baya itu menangis setelah tahu kabar suaminya dari anaknya. Ia lebih menangis saat Nindya kecewa pada ayahnya sendiri.
"Mas, apa kamu tidak merindukanku juga anak-anakmu? Kenapa kamu pergi meninggalkan kami?" lirih Rahayu.
Saat Rahayu menangis, Panji datang menghampirinya. Bocah berusia 5 tahun lebih itu menghapus air mata ibunya.
"Kenapa Ibu nangis? Ibu kangen kakak, ya?" tanya Panji.
Rahayu tidak menjawab, karena ia menangis bukan karena itu. Panji dan Nisa tidak pernah menanyakan keberadaan ayahnya, karena Nindya akan marah jika mereka menanyakan ayahnya.
__ADS_1
Sedangkan Nisa, gadis kecil itu selalu melaporkan apa yang diketahuinya pada kakaknya. Termasuk kejadian ini, gadis kecil itu buru-buru mengambil ponsel yang diberikan oleh Wiliam padanya. Lalu ia menghubungi Nindya lewat vidio cal.
Nindya melihat ibunya menangis, ia tahu kalau ibunya menangis soal dirinya yang menceritakan soal ayahnya. Ia tak tega melihat ibunya seperti itu.
"Kak, cepatlah ke sini. Ibu terus menangis," kata Nisa setelah mengalihkan layar ponselnya.
"Iya, Kakak akan pulang sekarang," ucap Nindya di sebrang sana. Tak lama, sambungan vidio cal itu berakhir.
* * *
"Mas, antar aku kembali ke sana. Kamu mau'kan?" pinta Nindya pada suaminya.
"Tentu." Andra tersenyum karena sudah berhasil membuka hati istrinya. Ia ingin semua keluarganya dalam keadaan utuh, ia ingin semuanya bahagia. Dan ini saatnya semuanya berkumpul.
Andra dan Nindya segera berangkat, mereka akan menemui si penjual arum manis itu.
Setibanya di sana, mereka tak melihat keberadaan penjual arum manis itu.
"Mas, di mana ayah?" tanya Nindya pada suaminya.
"Mungkin berkeliling," duga Andra. "Kita cari disekitar sini."
Andra dan Nindya mulai mencari, hingga setengah jam kemudian. Nindya melihat sosok yang ia cari. Seorang pria tengah duduk sambil mengusap keningnya dengan kain, mengusap cucuran keringatnya.
Lalu pria itu mengambil sesuatu di saku celananya, ia menghitung pendapatan hari ini.
"Apa uang ini cukup untuk mencari keberadaan mereka?" ucap pria itu sendiri. Hari demi hari, ia menyisipkan uang untuk bekal pencarian keluarganya. Berpisah selama 5 tahun membuatnya kehilangan jejak.
"Nindya, pasti kamu sudah besar. Nisa dan Panji juga pasti sudah besar. Kalian di mana? Ayah merindukan kalian." Tak terasa, matanya mengeluarkan air mata. Betapa rindunya ia pada istri dan anaknya.
Sementara Nindya, tubuhnya bergetar ketika mendengar penuturan ayahnya. Selama ini ia sudah salah menyangka terhadap ayahnya, ia kira ayahnya benar-benar melupakannya.
__ADS_1
"Ayah ...," panggil Nindya.