
"Dalam rangka apa tuan Andra memecatnya?" batin Adam. "Aduh, bisa gawat kalau Roy tidak kerja. Semua kerjaannya pasti aku yang mengerjakan." batinnya lagi. Padahal, ia sedang berjuang untuk mendapatkan hati Aileen kembali. Kalau begini caranya, ia akan susah menemui wanitanya karena waktunya habis di tempat kerja.
"Sudah pulang sana, jaga istrimu," kata Andra.
"Istri? Sejak kapan Roy punya istri?" tanya Adam.
Roy hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil nyengir kuda.
"Oh iya, aku lupa tidak memberitahukanmu, Dam. Makanya aku menyuruhmu untuk menggantikan pekerjaan Roy di sini," sahut Andra.
"Sialan kamu, Roy. Ada kabar gembira ini tidak memberitahukanku." Adam memukul bahu Roy.
"Semua dadakan, Dam. Aku juga tidak menyangka akan menikahinya, semua itu karena-," Roy tidak melanjutkan percakapannya, ia malah melirik ke arah tuannya. Dan Adam pun mengikuti ke mana mata Roy terarah.
"Kenapa menatapku seperti itu? Apa kamu menyesal?" kata Andra pada anak buahnya itu. "Harusnya kamu berterima kasih padaku, Roy. Kalau bukan karenaku mana mungkin terjadi sesuatu di kolam renang malam tadi, iya 'kan?" tanya Andra seraya menyenggol bahu Roy.
Roy membulatkan matanya, dari mana tuannya itu tahu soal kejadian semalam di kolam renang? Rupanya ada yang tidak beres di rumah itu, bos-nya pasti memasang cctv di setiap sudut ruangan. Bisa gawat kalau tuannya memiliki rekaman cctv di rumahnya, bisa-bisa pria itu tahu semua aktivitasnya tentangnya di sana termasuk soal ranjangnya.
Sedangkan Adam, pria itu semakin dibuat penasaran. Apa yang sudah terjadi di kolam renang? Apa Roy bercinta di sana? Astaga ..., pikir Adam.
"Apa? Apa yang kamu pikirkan tentangku, hah? Apa soal kolam renang, hah?" tanya Roy pada Adam.
"Apa kamu melakukannya di sana, hah? Bagaimana rasanya melakukan itu di tempat terbuka?" Adam tak menyangka bahwa Roy memiliki sisi liar dalam percintaannya.
__ADS_1
Pertanyaan Adam membuat wajah Roy memerah, bisa-bisanya bos dan temannya itu mengejeknya hari ini. Karena tidak ingin terus diejek, Roy memilih untuk segera pergi, bukankah tuannya sudah memecatnya? Roy masih belum sadar bahwa ia dipecat hanya selama dua hari.
"Roy, bagaimana ini? Beri tahu aku dulu soal mengerjakan pekerjaanmu," teriak Adam saat Roy sudah ada di ambang pintu
Roy mengibaskan tangan ke udara sambil berucap. "Pikir saja sendiri." Roy pun keluar dari ruangannya. "Siapa suruh mengejekku, ini balasan untukmu," rutuk Roy pada Adam.
* * *
"Benar, Roy sudah menikah? Dengan siapa?" tanya Adam pada Andra.
"Dokter Elena," jawab Andra.
"Dokter Elena? Kok bisa? Bagaimana ceritanya?" tanya Adam lagi.
Gara-gara semalam, ia sendiri sampai tak bisa menahan rasa keinginannya. Nindya yang sudah tidur terpaksa ia bangunkan. Menceritakan tentang Roy, ia jadi teringat soal semalam bersama istrinya. Jika Roy melakukannya di kolam renang, justru ia melakukannya di bath-up.
Andra malah senyum-senyum sendiri jadinya. Adam yang melihat sampai bergidik, pasti pria itu membayangkan sesuatu, pikirnya.
Adam lebih memilih untuk duduk sambil mempelajari materi yang harus ia kerjakan.
Sedangkan Andra, pria itu masih senyum-senyum sendiri. Beberapa detik kemudian, ia pun akhirnya keluar dari ruangan itu.
Tak terasa, waktu sudah menunjukkan jam makan siang. Siang ini, Nindya akan pergi ke kantor suaminya. Ia akan membawakan makan siang untuk Andra.
__ADS_1
Karena tidak ada Roy, Andra sedikit sibuk hari ini. Ia sampai tidak sempat ke luar untuk makan siang. Saat ia tengah menatap laptop, pintu ruangannya terbuka. Andra melihat siapa yang datang, ia tersenyum ketika tahu siapa orang itu. Tak berlama lagi, ia beranjak dari tempatnya.
"Kenapa tidak bilang mau ke sini, hmm?" tanya Andra pada orang itu yang tak lain adalah istrinya sendiri.
"Sengaja, aku tahu kamu pasti sibuk di kantor karena tidak ada Roy. Makanya aku datang membawakanmu makanan." Nindya memperlihatkan bawaannya.
"Tunggu di sini, aku ambil piring dulu." Andra mengambil piring yang terletak di ruangannya. Ruangannya cukup luas, bahkan sudah mirip seperti apartemen. Ada kamar juga dapur di ruangannya. Beberapa saat, Andra kembali, ia memindahkan makanan itu ke piring. Dan mereka makan siang bersama hari ini.
Nindya juga sudah mulai normal kembali, ia tak lagi merasakan mual yang berlebihan. Semakin hari, tubuhnya semakin berisi. Bahkan Andra semakin suka, karena kedua gunung kembar istrinya semakin padat, indah jika dipandang, dan Andra menyukai itu. Setelah melihat adegan Roy semalam, otak Andra jadi mesum ketika sedang bersama istrinya.
"Mau apa?" tanya Nindya saat Andra merapatkan tubuhnya padanya. "Ini kantor, loh!" tegas Nindya.
"Iya, aku tahu. Tapi di sini aman, boleh ya?" pinta Andra dengan wajah melasnya.
"Copot cctv yang ada di rumah, Roy. Jadi aku 'kan yang kena imbasnya." Nindya cemberut karena suaminya tidak memandang situasi. Tapi yang namanya istri, ia harus memberikan hak suaminya.
Andra menarik tubuh Nindya untuk duduk di pangkuannya, baru saja mereka akan melakukan adegan panas di siang bolong. Tiba-tiba saja, pintu ruangan itu terbuka lebar.
"Sial, kenapa aku harus menyaksikan itu," batin seseorang yang hendak masuk ke ruangan itu. Tapi ia kembali menutupnya.
Sedangkan yang terciduk belingsatan tak karuan, merasa malu. Nindya memukul tubuh suaminya.
"Katanya aman, buat malu saja!" kata Nindya
__ADS_1