
Jarak ke kampus tidak begitu jauh sehingga Dewi memilih berjalan kaki, karena tadi pagi ia tak melihat kendaraan umum yang lewat. Sudah terbiasa saat tinggal bersama Rahayu, ia memang gadis yang sangat mandiri, meski berkecukupan Rahayu mendidik anak-anaknya menjadi anak yang sangat kuat dan juga mandiri.
Pukul 6 pagi ia sudah sampai di kampus, pagi-pagi sudah bercucuran keringat. Dan ia menganggap itu olahraga. Saat tiba di sana, Sisil pun sampai. Ia menepuk bahu Dewi dari arah belakang.
"Sisil, aku sampai kaget," ucap Dewi.
Sisil hanya nyengir kuda tanpa rasa bersalah, lalu ia mengerutkan kening saat melihat wajah Dewi yang penuh dengan keringat.
"Kamu abis ngapain? Kok basah begitu, punggungmu juga basah. Kamu jalan kaki ke kampus?" tanya Sisil.
"Iya, anggap saja aku olahraga," jawab Dewi. Ia pun menarik tangan Sisil mengajaknya masuk kelas. Tapi Sisil tak melangkah begitu saja, saat melihat kedatangan Dewa.
"Itu Dewa yang satu rumah denganmu 'kan? Kenapa kamu tidak bareng dengan dia? Dia diantar tuh, dia kakaknya ya?" tanya Sisil tanpa jeda, "aku temui Dewa, aku mau buat perhitungan sama dia, dia tega banget ngebiarin kamu berangkat sendiri jalan kaki pula." Sisil berjalan dengan tergesa, ia menemui kadua pria itu.
"Heh, jadi laki tega bener! Kamu ngebiarin Dewi jalan kaki ke kampus, jaraknya 'kan lumayan jauh kalau ditempuh jalan kaki," cerocos Sisil.
"Apa? Dewi jalan kaki?" Dewa tak percaya, tanpa mendengar ocehan Sisil, Dewa segera berlari untuk menemui Dewi.
Sepeninggalnya Dewa, Sisil memarahi Nathan.
"Kakak tega sekali membiarkan Dewi jalan kaki, kalau aku jadi Kakak, rasanya malu. Kalian naik mobil mewah, sedangkan Dewi ... Aku tahu Dewi bukan bagian keluarga kalian, tapi setidaknya jangan seperti ini!"
__ADS_1
Ucapan Sisil membuat Nathan tersentil, meski ia dingin tapi ia tak sekejam itu sampai membuat Dewi jalan kaki. Ia tidak tahu kalau Dewi jalan kaki menuju kampus, ia malah menduga yang tidak-tidak. Tak lama, ia mengedarkan pandangannya ke dalam kampus, ia melihat beberapa lelaki berkerumun. Tak disangka, ternyata lelaki itu tengah bersama Dewi. Dewi menjadi siswa baru yang dikenal primadona di kampus.
Nathan melihatnya, ia semakin tidak suka saat melihat Dewi dikerebuni para lelaki di sana. Bukan ini yang diharapkannya. Tanpa berlama-lama lagi ia langsung pergi meninggalkan kampus dengan sejuta kesal dan sesak di dada.
* * *
"Arggghhh ...." Nathan kesal sendiri, ia kira membenci Dewi adalah pilihan yang tepat untuk tidak menjadi korban berikutnya, ia menjauhi Dewi dan bersikap dingin agar tidak masuk ke dalam perangkap gadis itu. Ia tetap berpikir kalau Dewi seorang gadis yang sama seperti ibunya. Buktinya, ia selalu didekati banyak pria. Tidak di rumah tidak juga di kampus, semua lelaki nemplok padanya.
Belum lagi Akhsa, pria itu selalu menanyakan Dewi bila saat menghubunginya. Akhsa sendiri belum bertemu dengan Dewi secara langsung, ia selalu melihat postingan Dewa distatus media sosialnya. Ia selalu penasaran akan sosok Dewi yang cantik pari purna.
Dan hari ini, Nathan kedatangan tamu di kantornya. Tamu itu adalah Akhsa, pria tampan itu baru pulang dari luar kota, dan langsung menemui sahabatnya yaitu Nathan.
"Hai, bro," sapa Akhsa pas membuka pintu. Nathan tak menjawab, ia masih kesal soal kejadian pagi tadi di kampus. "Kamu kenapa? Kok mukanya ditekuk begitu." Akhsa mendudukkqn diri di kursi depan meja Nathan.
"Tadinya mau ke rumahmu langsung, tapi ingat kalau Dewi pasti sedang kuliah. Aku jadi tidak sabar ingin segera bertemu dengannya, dia masih ingat tidak ya sama aku? Terakhir ketemu 'kan dia masih SD kelas 5."
"Mungkin sudah lupa, siapa kamu harus diingat Dewi," cetusnya.
"Galak bener, lagi ada masalah?" tanya Akhsa.
"Kenapa semua orang menanyakan Dewi? Kamu tidak ingat soal dia? Apa kamu sudah kepincut sama wanita itu? Jangan bilang kalau suka sama dia?"
__ADS_1
"Sepertinya tebakanmu benar, dia gadis cantik juga baik. Apa salahnya menaruh hati padanya?"
"Yang kamu kira baik belum tentu benar adanya, apa lagi sekarang, dia makin betah saja tinggal di sini karena banyak pria incarannya."
"Maksudmu? Kamu masih membahas soal ibunya? Terus menurutmu jika ibunya seperti itu Dewi juga begitu? Jangan asal menduga kamu, Than. Nanti kemakan omonganmu sendiri tahu rasa!"
"Kayaknya kamu sudah masuk perangkap wanita itu, tadi di kampus saja dia banyak yang deketin."
"Aku suka yang begini, jadi butuh perjuangan untuk mendapatkannya. Itu artinya dia baik juga cantik, makanya banyak yang ngejar. Kalau kamu tidak suka jangan menjelekan dia di hadapanku, karena semua orang punya penilaian sendiri. Penilaianmu buruk kepada Dewi karena hanya dia terlahir tanpa seorang ayah, iyakan?"
"Sepertinya aku salah orang kalau mau bahas soal Dewi sama kamu, kamu pasti terus menjelekan Dewi padaku. Aku cabutlah kalau begitu." Akhsa pun beranjak dan langsung pergi meninggalkan Nathan.
"Sial! Kenapa dia jadi spesial di mata banyak pria," sungut Nathan sendiri. Hari ini, ia uring-uringan tidak jelas. Lain di bibir tapi lain di hati, semakin membenci, wajah Dewi semakin muncul dalam bayangnya. Nathan benar-benar tidak konsen.
Andai ia tak merutuknya sendiri akan perasaannya, sayang, rasa cinta ia torehkan benci pada Dewi. Dulu, ia begitu memuja Dewi saat gadis itu masih SMP. Sebelum akhirnya ia memutuskan untuk kuliah di luar negri dan melupakan Dewi.
Ia ingat betul kapan terakhir ia melihat Dewi bersama seorang pria di tepi danau. Nathan meminta untuk bertemu dengan gadis polos itu, saat itu juga hatinya hancur saat melihat Dewi bersama seorang yang tengah menyatakan cinta pada gadis yang ia taksir.
Dewi yang sampai saat ini tidak tahu kenapa Nathan berubah sepulang kuliah dari luar negri, ia merasa asing saat Nathan bersikap dingin terlebih dengan lontaran yang membuatnya teringat akan mendiang ibunya. Nathan tidak tahu bagaimana sakitnya Dewi saat ini.
Kesal karena tidak konsen, yang muncul malah wajah polos Dewi benaknya. Akhirnya ia putuskan pergi di mana ia bisa melihat Dewi dari kejauhan. Nathan pergi ke kampus hanya untuk memantau gadis itu. Sayang, lagi-lagi ia melihat Dewi bersama seorang pria.
__ADS_1
Dan ia semakin kesal karena ia keduluan oleh Akhsa. Pria itu pergi dari kantornya ternyata malah menemui Dewi di kampus. Mereka terlihat begitu akrab, sesekali Dewi tertawa bersama Akhsa. Ia memukul stir kemudi dan kesalnya pada Dewi semakin menjadi.
"Dasar wanita murahan!" Nathan langsung pergi dengan rasa kesal yang semakin menjadi.