
Hari ini Andra dan keluarganya pulang dari berlibur, mereka sudah mendarat di Bandara. Semakin hari, Andra dan Nindya terlihat harmonis. Rumah tangganya adem ayem setelah melewati banyak masalah waktu kemarin.
"Daddy mau ke kantor dulu, kalian pulanglah duluan," ujar Wiliam pada keluarganya.
"Aku ikut Daddy kalau begitu," sahut Andra, "gak apa-apakan aku langsung ke kantor?" tanyanya pada sang istri.
Nindya hanya tersenyum manis, karena ia tak akan melarang selagi suaminya tidak berbuat macam-macam. Ini masalah pekerjaan, semua ini untuk masa depannya juga anak-anaknya kelak.
Mereka pun berpisah, menggunakan kendaraan yang berbeda. Nindya dan yang lainnya langsung pulang ke rumah.
Sementara Andra dan Wiliam segera ke kantor. Ini pertama kali Wiliam dan anaknya pergi lama-lama. Tibalah mereka di kantor. Wiliam hendak menemui Laura, gadis yang ia perintah membantu Roy di sana.
"Tuan," ucap Roy saat melihat Wiliam masuk ke ruangannya.
"Mana Laura? Suruh dia ke ruanganku jika dia ada," titah Wiliam pada Roy.
"La-laura tidak masuk," jawab Roy.
Wiliam menoleh ke arah Roy, "kenapa?" tanyanya.
"Kemarin, kami tak sengaja bertemu dengannya. Keadaannya sangat kacau," terang Adam.
Tak lama, ponsel milik Wiliam berdering, dan ia langsung mengangkatnya karena yang menghubunginya adalah papa tiri Laura. Pria paruh baya itu minta uang kompensasi padanya. Karena Laura adalah karyawannya.
__ADS_1
"Apa maksudmu minta uang kompensasi?" tanya Wiliam pada panggilan itu.
Roy dan Adam pun menoleh karena gurat wajah bosnya nampak marah. Papa tiri Laura memang mata duitan, dia mengerjakan Laura di sana karena keinginannya. Laura benar-benar ada dalam kendali papa tirinya itu.
"Untuk apa uang itu?" tanya Wiliam lagi.
Hingga akhirnya, panggilan itu berakhir. Ponsel Wiliam menandakan sebuah pesan masuk, betapa terkejutnya ia saat melihat gambar yang dikirimkan oleh orang itu.
"Ada apa, Dad?" tanya Andra yang baru saja tiba di hadapan sang daddy.
"Ini benar Laura 'kan?" Wiliam menunjukkan layar ponselnya ke arah Andra, dan ia pun mengambilnya lalu menajamkan penglihatannya.
Andra menutup mulutnya sendiri menggunakan tangannya, ia pun ikut terkejut.
"Siapa yang mengirimkan poto ini?" tanya Andra.
"Ada apa ini?" tanya Roy, ia merasa khawatir akan wanita itu. Apa lagi dengan kejadian kemarin.
"Kamu di sini saja, Roy. Aku dan Daddy akan ke rumah sakit," jelas Andra.
Mau tak mau, Roy berdiam diri di perusahaan. Tapi hatinya sangat gelisah. "Dam, apa terjadi sesuatu pada Laura?" tanyanya pada Adam.
"Aku harus ke sana, Dam. Pirasatku tidak enak." Akhirnya, Roy menyusul ke rumah sakit.
__ADS_1
.
.
.
Wiliam dan Andra sudah berada di rumah sakit, keadaan di sana nampak ricuh. Bahkan beberapa polisi berada di sana. Rasa tanggung jawab akan karyawannya, Wiliam menemui polisi yang tengah berkerumun di sana.
Wiliam tahu akan hidup Laura seperti apa, karena ia sudah mengenalnya sejak lama. Laura sendiri adalah anak dari sahabatnya sewaktu dulu. Awalnya ia tak percaya kalau papa tiri Laura sangat jahat, dan terbukti. Saat keadaan Laura seperti ini pun lelaki itu hanya mementingkan uang.
Laura terkapar dengan tubuh yang bersimbah darah, wanita itu melakukan bunuh diri. Terjun dari ketinggian beberapa meter dari atas gedung rumah sakit. Bahkan Elena pun berada di sana.
Saat Elena mengedarkan pandangannya, ia melihat suaminya berdiri tak jauh dari korban. Wajahnya terlihat sangat kacau, bagaimana pun, Laura adalah kenangan termanis Roy. Ada gurat kehilangan dari wajahnya.
"Mungkin kamu masih mencintainya, Roy," gumam Elena.
Tak lama, polisi dan para petugas kesehatan pun membawa Laura ke ruang jenazah. Andra melihat keberadaan Roy di sana, padahal ia sudah menyuruhnya untuk tetap di kantor.
Roy menghampiri Andra.
"Maaf, Tuan. Aku ikut menyusul kemari," terang Roy.
"Kasihan ya, Laura? Mati dengan cara mengenaskan," kata Andra.
__ADS_1
Roy menitikkan air mata, dan Andra melihatnya.
"Kamu menangisinya?" Andra sedikit curiga, apa ia mengenal dekat wanita itu? Pikirnya.