Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 156 Cemburu Tak Beralasan


__ADS_3

Brakkk ...


Nathan menutup pintu kamar dengan cara membantingnya. Ia uring-uringan sampai ke rumah. Sang mommy yang mendengar pun terkejut, Nindya sampai bingung kenapa anaknya pulang cepat? Tadinya ia ingin menemui anaknya tapi ia urungkan, ia tahu kalau seperti ini itu artinya anaknya sedang ada masalah.


"Apa pekerjaan hari ini cukup melelahkan, atau ada hal lain?" gumam Nindya.


Tak lama dari situ, ia mendengar suara mobil masuk ke pekalangan rumah. Penasaran siapa yang datang, ia pun mengintip dari jendela. Terlihat, di sana Dewi baru saja turun dari mobil. Ia juga hapal betul mobil siapa yang terparkir di sana. Ia pun menemuinya langsung karena memang sudah lama tidak bertemu dengan Akhsa.


* * *


"Siang, Aunty?" sapa Akhsa saat Nindya muncul dari dalam. Akhsa dan Dewi mencium punggung tangan wanita itu secara bergantian.


"Kalian kok bisa barengan?" tanya Nindya.


"Iya, aku memang sengaja menjemputnya," jawab Akhsa apa adanya, ia tak ingin berbasa-basi soal ini.


"Oh ... Kalian pasti cape, ayok masuk, kalian bisa istirahat di dalam." Saat Nindya memutarkan tubuhnya, tak sengaja ia melihat anaknya berada di dekat jendela kamarnya. Nathan tengah melihat ke arahnya, lalu melihat ke arah Dewi dan Akhsa. Mereka terdengar selalu tertawa, entah apa yang dibicarakan mereka sampai Dewi terlihat begitu senang.


Kini ia bisa menyimpulkan apa yang terjadi dengan putranya, sepertinya ada perasaan di balik kebenciannya. Dan ini harus ia selidiki kenapa anaknya sampai membenci Dewi.


Di dalam, Dewi langsung menawarkan minum untuk Akhsa dan dengan cepat membuatkannya untuk pria hangat itu. Dewi sedikit terhibur akan adanya Akhsa di sini. Dewi sibuk di dapur, tak lama dari situ muncul sosok pria yang selalu membuatnya sedih.


"Kak, mau sekalian aku buatkan minum?" tawar Dewi.


"Tidak! Buatkan saja untuk tamumu itu!' Setelah mengatakan itu, Nathan menutup pintu kulkas dengan sangat kencang setelah mengambil minuman dingin.

__ADS_1


Dewi sampai terkejut dibuatnya, lagi-lagi Dewi tersentil. Hatinya kembali sakit dengan sikap Nathan yang tidak baik padanya. Ia buru-buru menyelesaikan minuman yang ia buat untuk Akhsa, sebuah minuman dengan rasa jeruk yang segar.


Ia juga baru ingat, sejak kapan Nathan minum minuman dingin? Ada apa dengan pria itu? Dan anehnya, semakin hari pria itu semakin jutek. Bukan dingin yang ditunjukkan, melainkan omongan pedasnya.


"Than, sini gabung," ajak Akhsa saat Nathan melintas hendak menaiki tangga.


"Tidak, aku tidak mau mengganggu kalian." Jawab Nathan sambil melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga.


Dan itu terjadi tepat di depan Dewi. Mengganggu? Apa yang dimaksud mengganggu? Bukankah selama ini mereka berteman baik? Kenapa Kak Nathan malah cuek? Padahal ia tahu kalau Akhsa baru balik dari luar kota seharusnya mereka bersama-sama melepas rindu karena ia tahu sedekat apa Nathan dan Akhsa.


"Ini, Kak. Silakan diminum." Ucap Dewi sambil meletakan nampan yang berisikan minuman dingin.


"Nathan kenapa? Apa sikapnya selalu buruk terhadapmu?"


Dewi melihat ke arah Akhsa dengan alis mengerut, apa maksud dari pertanyaannya? Apa pria ini tahu tentang sikap Nathan yang selalu menilainya wanita hina?


Dewi menggelengkan kepala, karena Nathan memang tidak pernah kasar secara pisik. Hanya kata-katanya saja yang selalu menyindir akan dirinya yang sama seperti ibunya.


"Tidak, Kak Nathan baik. Mungkin dia sedang cape saja makanya sikapnya sedikit jutek." Dewi sengaja berbohong, ia tidak ingin Nathan semakin tidak menyukainya karena takut dibilang tukang ngadu. "Aku pamit sebentar ya," sambung Dewi.


"Ah iya, silakan."


* * *


Nathan meneguk air dingin itu sekali tandas, ia berharap dengan meminum minuman dingin hatinya akan ikut adem, nyatanya tidak. Ia malah bersin-bersin karena memang ada alergi air dingin. Hatinya tetap saja panas terbakar.

__ADS_1


Nathan bukan cuma bersin-bersin, ia langsung menggulung tubuhnya dengan selimut karena mendadak demam. Ia pikir semua akan baik-baik saja setelah menyiram tubuhnya dengan air es. Berharap jiwa yang terbakar akan terasa dingin.


Tubuhnya semakin menggigil, kenapa Nathan jadi sebodoh ini? Sudah tahu alergi minuman dingin, ia malah nekat meminumnya. Cinta memang membuat kehilangan akal sehatnya.


"Arrgghhh ..." Nathan menyikab selimut yang ia pakai, ia meloncat-loncat mengusir rasa demam itu. "Kuat Nathan, kuat!" Ia menyemangati diri sendiri. Melawan ego karena rasa suka yang tertanam pada Dewi kian menjadi, semakin membenci semakin ia menyukai.


Tapi sayang, sepertinya rasa itu akan malah berbalik bumerang baginya. Rasa sakit yang ia torehkan akan membuat Dewi kian menjauh. Buktinya, sudah 2 hari ini gadis itu tak memunculkan dirinya di hadapannya. Kalau bukan ia sendiri yang menemuinya di dapur, mungkin saat ini ia tak akan bertemu dengan gadis itu.


Makan malam, sarapan pagi. Ia sudah tidak lagi satu meja dengan gadis itu. Bahkan malam ini, malam di mana semua berkumpul di meja makan. Dengan sedikit flu, Nathan memaksakan diri hadir ikut makan malam bersama.


Berharap malam ini akan melihat Dewi, sikapnya bisa saja berbohong. Tapi ia tak bisa membohongi diri sendiri, ada rindu ingin melihat wajahnya. Lagi-lagi Dewi tidak hadir.


"Di mana Dewi? Sejak semalam dia tidak ikut makan malam bersama?" tanya Andra pada istrinya.


"Dewi pergi sama Akhsa, katanya mau makan malam di luar. Biarkan saja, ini 'kan malam minggu. Biarkan dia mengenal kota ini, aku senang ada yang mengajaknya jalan-jalan," jawab Nindya sambil melirik ke arah anaknya. Padahal, ia sendiri yang menyuruh Dewi pergi. Ia sengaja melakukan itu untuk memancing perasaan putranya.


"Aku sudah selesai," ucap Nathan. Mendadak hatinya kembali kesal saat mendengar bahwa Dewi pergi bersama Akhsa. Hatinya terbakar api cemburu.


Dan seperti dugaan, Nindya berhasil membuat putranya kesal. Ia hanya ingin anaknya mengakui soal perasaannya. Mungkin dengan seperti ini lambat laun ia akan menyadari akan perasaannya kepada Dewi.


* * *


"Dasar wanita gampangan," rutuk Nathan kepada Dewi, "kamu pasti senang sudah berhasil membuat semua lelaki suka padamu, aku tidak boleh kepancing. Aku harus mempertahankan perasaanku, aku tidak ingin menjadi korbannya."


Semakin merutuk, ia semakin gelisah. Apa yang dilakukan Dewi berduaan dengan Akhsa? Pegangan tangan, saling berpelukkan, kedua bibir bersentuhan. Tiba-tiba saja semua itu muncul.

__ADS_1


"Tidak, itu tidak boleh terjadi." Tapi ia tak bisa mencegah itu, siapa dirinya? Mungkin saja gadis itu sudah melakukannya dengan beberapa pria sebelumnya, belum lagi dengan lelaki yang pertama mengatakan cintanya. Ia yakin kalau Dewi pasti menerima cinta lelaki itu.


"Tahan, Nathan. Ingat, dia wanita bekas, dia tidak pantas untukmu." Tetap saja ia cemburu meski mencoba menepis perasaannya. Cemburu yang tak beralasan membuatnya gelisah sendiri.


__ADS_2