Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 122 Pergi Pilihan Yang Tepat


__ADS_3

Satu Minggu kemudian.


Adam mengajak Aileen ke apartemen, ia mencoba merawatnya di sana. Semoga dengan begini ingatan Aileen kembali dengan sendirinya. Adam berpikir semuanya baik-baik saja karena sikap Nana pun seperti biasa.


Padahal, Nana sudah tahu semuanya. Tapi Adam tak kunjung jujur padanya. Mencoba untuk sabar tapi lambat laun rasa sabar itu sudah mencapai batas. Apa yang diinginkan suaminya? Apa pria itu ingin memiliki keduanya? Pikir Nana.


Bahkan Adam juga tidak mempertemukan Akhsa pada Aileen, bahkan saat Aileen meminta untuk bertemu dengan anaknya Adam terus memberikan alasan. Adam takut kalau Akhsa memilih Aileen untuk menjadi ibunya dan Nana tersisihkan. Ia tak ingin membuat Nana sedih akan hal itu. Tanpa berpikir, itu malah menjerumuskannya dengan perpisahan.


Hari ini, Nana tidak seperti biasanya. Wajahnya sedikit pucat saat ia akan mengantarkan Akhsa ke sekolah pun langsung dilarang oleh Adam


"Kamu terlihat pucat, apa kamu sakit? Kamu istirahat saja, biar aku yang mengantar Akhsa," ucap Adam.


Nana tak merespons, ia pucat karena memang ada sesuatu yang tengah ia tutupi. Jika Adam memiliki rahasia, ia pun akan merahasiakan ini darinya.


"Tidak apa-apa, Mas. Biar aku saja yang mengantar Akhsa." Mungkin ini yang terakhir baginya mengantar Akhsa ke sekolah.


"Bener tidak apa-apa? Apa perlu aku antar ke rumah sakit setelah mengantar Akhsa?"


"Tidak usah, aku baik-baik saja."


Dan Akhirnya, mereka pun berangkat.


* * *


Di apartemen.


Aileen mencoba menahan diri, menunggu kejujuran suaminya perihal pernikahannya dengan wanita lain. Ia juga menyadari bahwa sikap Adam memang sudah dingin padanya, satu minggu di apartemen tak pernah Adam bermalam di sana.


Bahkan beberapa hari ia tak menemuinya karena beralasan pergi ke luar kota. Dokter Zack yang selalu meluangkan waktu untuknya juga Marsya, anak gadis itu membuat Aileen menjadi lebih tenang karena rasa rindu kepada anaknya terobati.


Dan hari ini, Adam menemui Aileen. Membawakan kebutuhan untuk istrinya itu. Dan Aileen mulai menuntut ingin bertemu dengan anaknya. Hanya sebuah foto yang diperlihatkan kepada Aileen.


"Aku ingin bertemu Akhsa, kenapa kamu tidak mempertemukanku dengan anakku? Mungkin bila aku bertemu dengannya ingatanku akan kembali," tutur Aileen. Padahal ingatannya sudah sangat pulih.

__ADS_1


"Iya, aku janji akan mempertemukanmu dengan Akhsa." Jawab Adam sambil memasukkan bahan makanan ke dalam kulkas.


Tak lama dari situ, apartemen kedatangan tamu. Adam mengerutkan kening, siapa yang memencet bel? Apa selalu ada yang datang kemari pikirnya? Saat ia membuka pintu, betapa terkejutnya Adam saat melihatnya. Seorang anak kecil berdiri dan memakai seragam sekolah. Ya, Aksha lah yang datang.


Aileen yang melihat langsung senang, tanpa menunggu lama lagi, ia menggendong Akhsa.


"Anakku!" Aileen menciumi wajah Akhsa. Bocah itu kebingungan saat ada orang asing menciuminya bahkan mengatakan bahwa ia adalah anaknya.


"Ini Mama, ini Mama ..." Aileen begitu antusias memperkenalkan diri.


Sedangkan Adam, ia kebingungan. Dengan siapa Akhsa kemari? Bahkan Akhsa terlihat sendiri.


"Akhsa sama siapa ke sini? Apa sama Mama Nana?" tanyanya.


"Siapa Mama Nana?" tanya Aileen pura-pura tidak tahu.


"Mama Nana itu Mamaku, Mama yang salalu mengurusku," jelas Akhsa.


"Akhsa kesini sama siapa?" tanya Adam lagi.


Adam langsung teringat pada Nana, bahkan belum sempat ia menjelaskan kepada Aileen ia langsung menghubungi Nana lewat telepon. Dan bersyukur Nana menjawab panggilan itu.


"Hallo, kamu yang mengantar Akhsa ke apartemen?" tanya Adam.


"Iya, bukankah kamu bilang akan ke apartemen hari ini?" jawab Nana. Karena semalam, Adam memang berkata akan ke apartemen lama kepada Nana, tanpa Nana bertanya mau apa suaminya ke sana? Bertanya pun percuma lelaki itu tidak akan jujur tentang Aileen yang sudah kembali.


"Siapa, Nana?" tanya Aileen, "Akhsa menyebutnya Mama, siapa dia!" sentak Aileen.


Adam meredam emosi istrinya dengan memeluknya, sedangkan Akhsa terlihat semakin bingung. Kenapa papanya malah memeluk wanita lain? "Papa ..." Akhsa menarik baju Adam agar terlepas dari wanita yang tidak dikenalnya.


"Ini Mama, sayang. Mama yang sudah melahirkanmu," kata Aileen.


"Benar ini Mama Akhsa?" tanya anak itu.

__ADS_1


"Iya, ini Mama, sayang. Apa kamu tidak merindukan, Mama?" Akhsa pun menghamburkan diri kepelukan Aileen, ia tahu tentangnya.


"Mama, kenapa Mama pergi lama sekali? Apa kerjaan Mama sudah selesai? Mama tidak akan pergi lagi meninggalkan aku 'kan?" Akhsa menangis, dan ia bahagia dapat bertemu dengan mama kandungnya.


"Aku ingin bicara padamu tentang wanita yang bernama Nana, siapa dia? Apa dia istrimu? Wanita yang menggantikan peranku untuk Akhsa? Jawab!"


Tubuh Adam gemetar, ia terdiam sejenak. Kalau wanita ini tahu semuanya apa dia akan pergi meninggalkannya dan membawa Akhsa darinya?


"Jawab!!" sentak Aileen.


"Dia istriku." Jawab Adam sambil tertunduk.


"Apa kamu mencintainya? Lalu, aku? Apa kamu masih menganggapku istrimu? Kalau sudah beristri lagi kenapa tidak bilang dari awal? Kenapa tidak bersikap adil? Satu Minggu aku di sini, setiap malam aku tanpamu."


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud membohongimu."


"Apa namanya kalau bukan membohongiku, apa dengan cara membohongiku semuanya akan baik-baik saja? Tidak ada yang mau dimadu, kamu pilih aku atau dia? Apa pun pilihanmu aku siap menerimanya, aku rasa cintamu memang sudah berpaling." Aileen mengucapkan itu dengan rasa sesak di dada. Satu minggu dirinya menahan sabar, kini ia luapkan apa yang selama ini ditahannya.


"Sekarang kamu pikir, kalau bukan istrimu yang mengantarkan Akhsa kemari lalu siapa?" tanya Aileen lagi, " mending kamu sekarang pulang, pastikan kalau istrimu ada di rumah. Biarkan Akhsa bersamaku di sini. Cepat! Tunggu apa lagi?" ucapnya karena Adam diam terus.


"Papa, aku mau Mama Nana ada di sini juga," pinta Akhsa.


"Iya, Papa temui Mama Nana dulu."


Adam langsung pergi dari apartemen, ia tak ingin Nana tahu sebelum ia menceritakan semuanya. Ia berniat untuk mengakui semua segala yang sudah ia tutupi selama ini. Jujur, ia tak ingin kehilangan Nana. Wanita itu yang sudah menemaninya selama selama ini, ia tak akan bisa menemukan wanita seperti istrinya.


Nana menyayangi Akhsa seperti anaknya sendiri, dan itu yang membuat Adam tak akan bisa menemukan wanita yang penuh dengan kasih sayang. Adam pun tiba di rumah, ia langsung mencari keberadaan Nana di dalam sana.


"Sayang, aku sudah pulang," teriak Adam. Tak ada sahutan sama sekali, ia terus mencari dan hasilnya nihil.


* * *


Di sebuah bus, seorang wanita tengah duduk sambil menatap ke arah luar lewat jendela. Kini ia pasrah dengan hidupnya, ia sadar akan kehadirannya. Ia tak ingin menjadi orang ketiga di sini. Ya, Nana 'lah yang pergi. Mungkin, pergi pilihan yang tepat untuknya.

__ADS_1


"Maafkan aku, Mas. Kami pergi tanpa pamit padamu." Tanpa terasa, air mata jatuh begitu saja dari pelupuk matanya. "Semoga kamu bahagia sudah berkumpul kembali bersama istri juga anakmu."


__ADS_2