
Anye menghampiri suaminya, ia melingkarkan tangan di tubuh suaminya dari samping dan menyandarkan kepala di bahunya. Wiliam memberikan kecupan di pucuk rambut istrinya, tak ada kebahagiaan lain selain melihat keluarganya utuh. Kini ia menyadari bahwa harta tak menjamin hidup bahagia.
"Lihatlah, melihat tawanya saja aku sudah bahagia, Wil. Apa kamu tak suka melihat putramu bahagia seperti sekarang?" tanya Anye. Posisi Anye masih seperti itu, mereka berdua mengukir senyum.
Namun Wiliam tak menjawab, ia mengakui kebahagiaannya dalam hati. Tapi Anye menyadari bahwa suaminya bahagia, karena pria itu tak memberikan reaksi apa pun selain membalas pelukkannya.
Dari kejauhan, Andra melihat kedua orang tuanya yang nampak bahagia. Lalu ia menghampiri orang tuanya itu. Setelah ada di hadapannya, Andra menghamburkan sebuah pelukkan, dan pelukkan itu dibalas oleh Wiliam.
"Maafkan Daddy karena sudah egois," ucap Wiliam. Wiliam menjodohkan Andra karena putranya itu tak menunjukkan bahwa anaknya itu memiliki kekasih, itulah alasannya menikahkannya dengan wanita pilihannya.
Karena Andra terlalu takut kehilangan Nindya, ia hanya menyimpan perasaannya seorang diri. Tapi Tuhan berkehendak lain, mereka malah dipersatukan namun harus ada cerita dan perjuangan yang harus mereka perjuangkan. Perjuangan sebenarnya akan segera dimulai.
Andra belum resmi bercerai dari Aileen, apakah wanita itu akan terima bahwa ternyata ia bersaing dengan seorang pembantu, dan ia kalah saing dengan gadis sederhana yang jika dibandingkan dengannya wanita itu telak jauh darinya.
"Beginikan enak, Mommy bahagia melihat kalian berdua akur," ucap Anye.
Nindya pun ikut tersenyum. Kini, laki-laki yang selalu ia segani ternyata tak sejahat yang ia kira. Wiliam memang selalu bersikap dingin kepada para pembantunyaa, tapi kini ia tahu bahwa sikap dinginnya hanya sekedar untuk mengajarkan pada bawahannya akan perbedaan.
Andra melepaskan pelukkannya, lalu berucap. "Sebentar lagi Daddy akan punya cucu dari wanita yang aku cintai, apa Daddy akan menerima kehadirannya dalam hidupku?" ucapnya tentang Ayunindya.
"Tentu," jawab Wiliam. "Selesaikan dulu urusanmu dengan Aileen, maafkan Daddy-ya?"
"Iya, Dad. Aku akan menemui Aileen dan menyelesaikan urusanku dengannya."
Kehamilan Nindya membuat Wiliam dan Andra berbaikan, dan ia mulai menerima anggota baru dalam keluarganya. Akhirnya, Wiliam mendekat ke arah menantunya.
__ADS_1
"Maafkan Daddy ya, Nindya. Terima kasih sudah mau mengandung cucuku." Ucap Wiliam sambil menarik tubuh Nindya ke dalam pelukkannya. Dan mereka berakhir dengan bahagia.
* * *
Di rumah sakit.
Morano dan Lidia kembali menjenguk putrinya, salah satu anak buahnya mengabarkan bahwa anaknya sudah sadar.
"Sayang, kamu sudah sadar," ucap Morano setibamya di ruang rawat putrinya.
Aileen yang sedang makan dan disuapi oleh Adam pun menoleh ke sumber suara dari arah pintu.
"Pa," ucap Aileen.
Hamil, tapi bukan suaminya yang menghamilinya.
Niat Morano datang, ia ingin memberikan ponsel milik putrinya. Ia ingin putrinya sendiri yang tahu dan membaca pesan dari Lee.
"Ini ponselmu, Papa rasa kamu membutuhkannya." Kata Morano sambil memberikan ponsel itu.
Aileen menerimanya, dan ia langsung menyalakam ponselnya. Hanya sekedar melihat, lalu menutupnya kembali. Morano sedikit heran saat melihat putrinya bersikap biasa saja seolah tak ada apa-apa di dalamnya. Apa anaknya sudah tahu akan pernikahan suaminya dengan pembantu itu, pikirnya.
Sedangkan Lidia, wanita itu tersenyum karena sudah berhasil menghapus pesan dari orang itu, entah siapa ia tak tahu. Yang jelas, kabar itu berpengaruh buruk untuk anak tirinya itu jika tahu apa isi pesan tersebut.
"Pa, biarkan Aileen istirahat," kata Lidia. "Sebaiknya kita keluar, biarkan Adam yang menjaga dan menemaninya." Karena Morano diam saja, Lidia pun akhirnya terpaksa menyeretnya keluar. "Ayok, kita cari makan," ajaknya kemudian.
__ADS_1
* * *
Aileen anteng bermain ponselnya, awalnya ia tak menggunakan sosial medianya. Tapi, lambat laun ia membuka sosial medianya itu. Di sana ada berita tentangnya juga suaminya, tapi dikabar itu malah berita suaminya yang sedang digosipkan selingkuh. Hingga rasa penasarannya semakin besar, ia mencari informasi itu.
Hingga sebuah poto muncul di layar ponselnya, Andra tengah bersama seorang wanita. Meski wajah wanita itu terhalang oleh tubuh Andra, tapi ia hapal betul siapa wanita itu. Ternyata dugaannya itu benar, ada hubungan di antara mereka. Tapi apa yang bisa ia lakukan? Jangankan untuk menemuinya, terbangun dari posisinya saja ia tak bisa.
Pasca kecelakaan itu membuatnya tak berdaya, luka di bagian perutnya masih terasa sakit. Ia hanya bisa meringis menahan rasa sakit itu, ditambah lagi dengan berita yang baru saja ia temukan. Aileen menitikkan air matanya. Ia begitu mencintai Andra, hanya saja caranya yang salah. Ia terlalu menghalalkan segala cara sehingga berbalik menjadi malapetaka.
"Aileen, apa kamu tidak bisa melupakannya dan kembali mencintaiku?"
Adam bisa menebak apa yang terjadi pada wanita itu, karena ia melihat air mata yang membasahi kulit pipinya yang mulus.
"Aku sangat mencintaimu, tapi jika kamu tak bisa menerimaku kembali, izinkan aku merawatmu sampai anak itu lahir. Aku akan pergi dari hidupmu dan membawa anakku," lirih Adam. Menurutnya, jika Aileen akan bahagia tanpanya, ia ikhlas melepasnya.
Aileen tak menjawab, ia malah semakin terisak ketika mendengar bahwa lelaki yang katanya mencintainya pun akan pergi meninggalkannya. Jangankan untuk berucap, rasanya untuk bernapas pun ia merasa kesusahan. Dadanya terasa terhimpit sampai merasa sesak.
Perlahan, Adam pergi untuk menenangkan diri. Kini hanya Aileen seorang diri di sana, hingga beberapa saat, seseorang datang menemuinya. Awalnya Aileen tak percaya akan keberadaannya di sana. Rasanya mustahil orang itu datang setelah ia membohonginya mentah-mentah.
Anak buah Morano yang ditugaskan menjaga putrinya di luar tapi entah kemana, tak ada satu orang pun yang berjaga di sana. Hingga orang itu bisa masuk dan menemuinya.
"Aileen," kata Andra. "Terima kasih sudah menyelamatkanku waktu itu, kedatanganku kemari ingin menyelesaikan urusan kita. Bagaimana pun kamu masih istriku, tapi saat ini juga aku mencaraikanmu. Mulai saat ini tak ada hubungan apa-apa di antara kita."
Mendengar perkataan itu seakan membuat detak jantungnya berhenti seketika. Ia sadar bahwa ini akan terjadi, ia pikir, Andra akan menunggunya sampai pulih untuk menyelesaikan ini. Tapi nyatanya tidak, bahkan ia mengucapkannya pun tanpa memikirkan perasaannya.
Aileen tak mampu menjawab, ia benar-benar seperti patung seperti jasad yang sudah tak bernyawa. Dan Andra tak bisa berlama-lama di sana, bahkan kedatangannya kemari pun secara diam-diam, karena ia menjadi sasaran wartawan.
__ADS_1