
Setelah kepergian Aileen, semua berubah. Terlebih dengan dokter Zack. Hidupnya terasa hampa, bahkan ia jarang berkunjung ke rumah sakit karena harus selalu menemani Marsya, anak gadis itu menjadi lebih diam dari sebelumnya.
"Marsya, ayok makan dulu. Dari kemarin kamu belum makan loh, jangan buat Daddy khawatir," bujuk Zack pada putrinya.
"Aku mau aunty, aku mau aunty!" Marsya mogok makan, ia merasa sudah dibohongi oleh daddy-Nya.
Zack menghela napas panjang, ia tak tahu bagaimana caranya membujuk anaknya untuk makan. Aileen sudah tidak ada, siapa yang akan membantunya untuk membujuk Marsya kala sedang mogok makan seperti ini?
* * *
Di kantor.
"Roy, kamu cari info mengenai orang yang bernama Doni," suruh Andra.
"Doni? Siapa Doni?" tanya Roy.
"Dia suami dari Hanum, wanita yang menjual rujak di dekat rumah mertuaku. Kasian dia, Doni itu suaminya yang tega meninggalkannya," jelas Andra.
"Baik, itu sangat mudah bagiku. Aku akan mengerahkan beberapa anak buahku, beri tahu saja titik di mana lelaki itu berada."
"Kata istriku, Hanum bertemu di club, aku rasa tidak jauh dari sekitaran dunia hiburan hidupnya."
"Ok, malam ini aku mulai pencarian. Setelah mendapatkan info tentangnya bagaimana?"
"Itu urusanku nanti, kamu lakukan saja tugas itu."
"Ok!" Roy pergi dari hadapan Andra, dan ia langsung menghubungi anak buahnya untuk dikerahkan.
Karena jam kantor sudah usai, Andra putuskan untuk pulang. Ia tinggal menunggu info dari anak buahnya mengenai Doni. Ia juga merasa kasihan pada Hanum, hamil dalam keadaan sendiri tanpa ada suami di sampingnya. Nindya manja saat hamil, dan itu pasti dirasakan oleh Hanum. Tidak ada tempat untuk berkeluh kesah, bahkan harus mencari uang untuk hidupnya sendiri.
* * *
"Aku pulang," kata Andra setibanya di rumah. Rumah nampak sepi, kemana si kembar? Pikirnya.
"Bi, kemana anak-anak? Rumah sepi sekali, istriku juga kemana?" tanya Andra pada pembantunya.
"Si kembar dijemput tuan Wiliam, kalau Nyonya, mungkin di kamar," jawab bibi.
__ADS_1
"Ya sudah, Bi. Aku ke kamar dulu kalau begitu," pamit Andra. Andra berjalan menaiki tangga sedikit berlari kecil, setibanya di sana, sang istri tengah menonton tv. Semua fasilitas sudah disiapkan di kamar. Andra melarang istrinya naik turun tangga, karena kehamilannya yang sekarang tak seperti yang pertama. Jika kecapean sedikit saja langsung flek, dari pada ambil resiko mending semua ia siapkan di kamarnya.
Terkadang Nindya juga bosan terus menurus di kamar, karena ada film kesukaannya saat ini, ia betah di kamar karena sedang menontonnya.
"Mas," kata Nindya saat suaminya baru tiba di kamar, "anak-anak tadi dijemput daddy, katanya akan menginap mumpung besok hari libur," jelas Nindya.
"Iya, Mas sudah tahu dari bibi." Andra mencium kening istrinya dan ikut duduk di sofa, ia juga mengambil makanan dari toples yang ada di pangkuan istrinya.
"Mandi dulu," kata Nindya pada suaminya.
"Bentar, aku masih lelah." Jawabnya sambil meregangkan otot-ototnya.
"Sini, aku pijat biar sedikit rilex." Andra pun merubahkan posisinya, ia membelakangi istrinya karena akan dipijat bagian pundak. Andra mulai merasakan sedikit rilex dari pijatan istrinya.
"Enak gak?" tanya Nindya. Andra mengangguk. "Oh iya, bagaimana soal suami, Hanum. Apa sudah mencari info tentangnya?"
"Belum, baru akan dilakukan. Nanti malam, anak buah Roy akan dikerahkan. Semoga info-nya akurat dan Hanum bisa kembali berkumpul dengan suaminya."
"Kasian Hanum, Mas. Suaminya tega meninggalkannya begitu saja, kalau Doni itu ternyata orangnya berengs*k bagaimana? Aku takut Hanum semakin terluka."
"Tunggu kabar dari Roy saja, kalau dia berengs*k mending tidak usah dipertemukan. Kita bantu Hanum saja," jawab Andra.
"Aku mau mandi dulu kalau begitu." Andra beranjak dari tempatnya dan pergi ke kamar mandi sesudah mencium bibir istrinya sekilas.
Malam pun tiba, ponsel milik Andra berdering. Dan itu panggilan dari Roy.
"Ada apa, Roy," tanya Andra sambil tiduran, karena Roy menghubungi jam 00.05 dini hari.
"Laki-laki yang bernama Doni itu sebenarnya sudah menikah, istrinya hanya bukan satu. Aku rasa, Hanum istri ketiganya. Apa pencarian terus dilanjutkan sampai pria itu kembali pada Hanum?" jelas Roy.
Andra langsung membulatkan matanya, sampai ia langsung beranjak dari tempatnya. Nindya pun sampai terbangun.
"Ada apa, Mas? Siapa yang meneleponmu?" tanya Nindya.
Andra belum menjawab ia masih bicara dengan Roy di sebrang sana. "Tidak usah, aku rasa dia lelaki yang tak patut untuk diperjuangkan," jawab Andra lalu mematikan sambungannya.
"Siapa?" tanya Nindya lagi.
__ADS_1
"Roy, dia sudah mendapatkan info tentang Doni," jawab Andra.
"Terus? Apa katanya?" Nindya tidak sabar dan ingin segera tahu tentang pria itu.
"Kata Roy, dia sudah beristri. Bahkan istrinya bukan hanya 1, kemungkinan Hanum istri ketiga." Nindya membulatkan mata tak terpercaya, saking tak percayanya ia langsung melek dari rasa kantuknya. Lalu memikirkan tentang nasib Hanum.
"Kasian Hanum, Mas. Kita harus menolongnya, apa kita katakan tentang suaminya?" tanya Nindya.
"Kalau mau nolong jangan setengah-setengah, berikan dia fasilitas dan jauhkan Hanum dari lelaki seperti Doni, habis manis sepah dibuang begitu saja." Andra pun ikut marah dengan perlakuan Doni pada Hanum, tidak ada rasa peduli bahkan sudah jelas kalau Hanum itu istrinya. Istri yang harus dipertanggungjawabkan.
"Suruh dia tinggal bersama ibu di sana, jangan biarkan Hanum hidup sendirian. Kasian dia sedang hamil," kata Andra.
"Iya, Mas. Aku akan menghubungi ibu besok, biar Hanum tinggal bersamanya."
"Masih malam, sebaiknya kita tidur," ajak Andra. Mereka pun kembali tidur, dan malam itu pun berubah.
Bangun tidur, yang dilakukan Nindya adalah menghubungi ibunya.
"Hallo, Bu," kata Nindya setelah sambungannya terhubung dan diangkat oleh Rahayu.
"Iya, ada apa pagi-pagi sudah nelepon?"
"Bagaimana kabar Hanum?"
"Hanum baik, tapi-," ucap Rahayu menggantung.
"Tapi apa?" pungkas Nindya.
"Warga tahu Hanum hamil, dia diusir dari sini. Tapi untung Ibu bisa mencegah kepergiannya dan meyakinkan warga kalau Hanum tidak akan merugikan orang lain."
"Lalu, Hanum-Nya bagaimana?"
"Hanum di sini, sekarang dia tinggal bersama Ibu. Itu juga Ibu yang paksa."
Nindya bernapas lega. "Syukurlah, sebaiknya Hanum memang tinggal bersama Ibu di sana. Aku titip Hanum ya, Bu. Jangan biarkan dia sendirian, aku sudah tahu siapa suaminya. Lebih baik, Hanum jangan bertemu lagi dengan pria itu, Doni sudah beristri, dia lelaki yang sudah punya istri bahkan lebih dari satu, Bu. Ibu rahasiakan ini darinya jangan sampai dia tahu."
"Iya, Ibu akan menjaga rahasia ini."
__ADS_1
Panggilan itu pun akhirnya terputus, karena memang sudah jelas bahwa Hanum sudah tinggal bersama ibu Rahayu.