
"Siapa pagi-pagi begini yang datang?" Aileen mendengar suara deruman mobil masuk ke pekalangan rumah.
Mona pun mengintip dari jendela.
"Dokter Zack. Nyonya manggil Dokter Zack kemari?" tanya Mona pada Aileen.
"Siapa Dokter Zack?" Aileen tidak tahu siapa dokter Zack.
"Dokter pribadi keluarga Wiliam, biasanya kalau ada yang sakit suka memanggilnya," jelas Mona. "Apa Tuan yang sakit?" duga Mona lagi.
Deg.
Aileen berpikir, apa mungkin suaminya yang memang menyuruhnya datang kemari untuk memeriksanya? Bagaimana kalau dokter Zack tahu akan kondisinya? Ini tidak boleh terjadi, ia harus terlihat sehat meski ia sedang pusing dan mual.
"Aku harus keluar dari rumah, semua ini gara-gara Adam!" batin Aileen sambil mengepalkan tangan.
Aileen ada komitmen dengan Adam, selama ia bercinta, pria itu harus menggunakan pengaman. Tapi waktu itu Adam memang sengaja tidak memakainya. Pria itu takut kehilangan sang kekasih, ia juga menyadari kalau Aileen hanya memanfaatkannya kala sedang kesepian. Hanya dengan begini wanita itu tak bisa lepas darinya. Adam berhasil menanamkan benih di rahim kekasihnya itu.
Mona melihat Aileen memakai bajunya, ia hendak pergi karena tak ingin ketahuan oleh dokter Zack bahwa ia tengah mengandung anak yang bukan dari suaminya.
"Nyonya mau ke mana? Nyonya 'kan lagi sakit?"
Aileen tak menggubrisnya, wanita itu keluar dari kamarnya.
* * *
"Itu pasti Dokter Zack," kata Roy yang mendengar suara mobil di depan rumah. "Saya pamit keluar dulu, Tuan." Roy undur diri dari hadapana tuannya dan menemui dokter Zack.
"Pagi, Dok?" sapa Roy pada dokter Zack yang baru saja turun dari mobil.
Belum dokter Zack menjawab, sebuah mobil masuk kepekalangan rumah. Dan Roy tahu siapa pemilik mobil tersebut, siapa lagi kalau bukan mobil nyonya Anye. Wanita itu datang karena mendengar menantunya tengah sakit, ia memang diperintahkan oleh suaminya untuk menemui Aileen. Karena orang tua Aileen berada di luar negri jadi Anye sendiri yang akan mengurus menantunya itu..
"Pagi, Nyonya?" Sapa Roy sembari membungkukkan tubuhnya.
"Pagi juga, Roy. Saya kira kalian belum sampai, Andra di mana?" tanya Anye kemudian.
__ADS_1
"Ada di dalam, Nyonya."
Anye pun masuk ke dalam rumah.
"Andra sakit?" tanya dokter Zack. Zack bukan hanya sekedar dokter pribadi keluarga Wiliam, pria itu masih sahabat Andra sewaktu kuliah dulu.
"Bukan Tuan Andra, tapi istrinya," jawab Roy. "Ayo, kita masuk?" ajaknya kemudian.
Di dalam rumah, Aileen sudah tidak karuan. Ia seperti cacing kepanasan, apa pun caranya ia harus keluar dari sana sebelum semua orang tahu bahwa ia tengah hamil tanpa tidur bersama suaminya. Tapi sayang, Anye lebih dulu masuk sebelum menantunya pergi. Padahal ia sudah siap-siap untuk berangkat.
"Ndra, kamu sarapan sendiri? Kenapa gak di kamar sama istrimu?" tanya Anye yang melihat putranya duduk di ruang makan.
'Mommy? Mommy ngapain ke sini?"
"Kok ngapain sih, ya jenguk istrimu." Anye berpikir, sepertinya anaknya itu tidak peduli pada istrinya, bahkan Aileen sedang sakit pun Andra santai-santai saja sarapan. Pasti ada yang tidak beres. "Di mana istrimu? Apa dia sudah makan?"
Andra menggelengkan kepalanya, mau makan atau tidak itu bukan urusannya. Ia tak peduli pada wanita pembohong itu.
Anye pun geleng-geleng kepala dengan tingkah anaknya itu. "Dia istrimu loh, Ndra. Masa kamu tidak peduli padanya," celetuk Anye.
"Bukan tidak peduli, Mom. Aku tidak mau mengganggu istirahatnya," kilah Andra.
"Emang gak peduli, bodo amat dia kenapa-kenapa juga." Sayangnya itu hanya terlontar dalam hatinya. Andai Anye tidak memiliki penyakit jantung, Andra pasti menceritakan semuanya. Begitu pun dengan pernikahannya dengan Nindya. Tapi ia rasa butuh waktu secara perlahan untuk membuktikan kebusukan Aileen.
Ia juga tidak ingin orang tuanya beranggapan bahwa ini karena Nindya. Kalau orang tuanya tahu dengan rumah tangganya yang kacau ini pasti Nindya yang disalahkan, dan Andra tidak ingin itu terjadi. Lebih baik ia ikuti permainan istrinya, sampai kapan wanita itu akan bertahan dengan kebohongannya.
* * *
"Ai, kamu mau ke mana?" tanya Anye pada Aileen. Anye melihat menantunya sudah terlihat rapi.
"Mom." Aileen nampak terkejut mendapati ibu mertuanya, apa yang harus ia lakukan jika sudah berkumpul begini? Hatinya semakin deg-degan, keringat dingin mulai bermunculan di area kening. Tubuhnya pun bergetar.
"Ai, kamu gak apa-apa?" tanya Anye yang khawatir akan menantunya itu. "Duduklah, kamu harus istirahat. Jika suamimu tidak mengurusmu biar Mommy yang merawatmu," sambungnya lagi.
"A-aku gak apa-apa, Mom. Aku baik-baik saja, iyakan, Mona?"
__ADS_1
"Tapi, wajah Nyonya sangat pucat. Sebaiknya Nyonya turuti apa kata Nyonya besar," kata Mona.
Aileen semakin geram dengan keadaan, kenapa disaat begini gak ada yang membantunya? Bahkan Mona malah ikut-ikutan memberinya saran yang baginya itu bisa mematikannya dalam sekejap. Mau tidak mau, Aileen pun kembali duduk di tepi ranjang. Ia tak bisa membohongi diri sendiri, tubuhnya memang sedikit oleng. Sedari tadi ia menahan rasa mualnya.
Hingga pada akhirnya, dokter Zack datang bersama Andra juga Roy.
Aileen semakin berkeringat dingin, inikah akhir dari semuanya? Tidak, ini tidak boleh terjadi! Ia tak ingin berpisah dengan suaminya.
Zack melihat ke arah Aileen, wajah itu merasa tidak asing baginya. Tapi ia lupa di mana ia pernah bertemu dengan wanita itu?
"Dokter Zack, Dokter bisa memeriksanya sekarang. Apa Nona Aileen butuh perawatan khusus?" kata Roy.
Aileen yang mendengar penuturan Roy langsung menoleh ke arahnya, wajahnya merah karena menahan amarah. Aileen sendiri tidak mengenal Zack karena dihari pernikahannya Zack tidak hadir karena berada di luar negri.
"Periksa sekarang, Zack. Sepertinya istriku memang benar sakit, lihatlah keringatnya sampai bercucuran begitu." Kata Andra yang ikut duduk di samping Aileen.
Andra berakting seolah ia peduli karena ada Anye di sini. Ia tak ingin sang ibu menyalahkannya karena sudah melalaikan istrinya. Dan Anye pun bernapas lega ketika melihat anaknya masih peduli pada istrinya itu. Anye memang sedikit curiga dengan pernikahan anaknnya. Andra jarang berduaan dengan istrinya itu, ia terlihat lebih cuek.
Andra pun beranjak dari tempatnya, ia memberi ruang pada Aileen agar wanita itu merebahkan tubuhnya di kasur. Dan Zack mulai memeriksa keadaan pasiennya.
"Apa saja keluhan, Anda Nona?" tanya Zack.
"Pusing dan mual," jawab Mona apa adanya.
Mata Aileen meletot tajam pada Mona, dan wanita itu langsung menunduk karena takut.
"Emang gitukan, kemarin juga mau pingsan," batin Mona.
"Rileks aja, Nona. Jangan tegang begitu," tutur dokter Zack. Dokter Zack memeriksanya, dan tak lama pemeriksaannya pun selesai.
Semua masih berada di tempat.
"Kalau dari keluhannya sepertinya istrimu sedang hamil, Ndra" jelas dokter Zack.
Roy sudah menyangka ini, bahkan ia tahu soal perselingkuhan wanita itu dari tuannya. Awalnya Andra sedikit terkejut, tapi ia tak ingin menunjukkan itu di hadapan Anye. Andra tidak ingin karena masalah ini membuat ibunya drof.
__ADS_1
"Kamu kenapa tegang, Ai. Anak yang kamu kandung memiliki papa 'kan?" tanya Andra seolah mengejek. "Jadi santai saja, kamu sudah menikah wajar jika kamu hamil." Tapi perkataan itu membuat Aileen tidak lagi bisa berkutik, ia tahu arah pembicaraan suaminya.
Lain halnya dengan Anye, ibu paruh baya itu merasa aneh dengan ucapan anaknya yang sepertinya sedang menyindir. Sebenarnya ada apa dengan mereka? Pikir Anye.