Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 64


__ADS_3

Di tengah kegelapan, Roy menelusuri ruangan demi ruangan. Ia bisa masuk ke dalam rumah karena satpam masih menjaga di luar sana. Rumah sudah nampak sepi, ia juga berharap kalau istrinya sudah tidur.


Sayang, ketika ia sampai di kamar. Tiba-tiba lampu kamar itu menyala, ia terkejut ketika melihat Elena berdiri di dekat saklar lampu. Gadis itu bersedekap tangan di dada, hidungnya kembang kempis.


Roy melihat wajah istrinya yang menurutnya itu sangat menyeramkan.


"Jam berapa ini?" tanya Elena.


"Apa di kamar ini tidak ada jam? Kenapa bertanya padaku?"


"Kamu itu sadar gak dengan statusmu sekarang?"


"Sadar."


"Lalu?"


"Lalu apa? Apa ada masalah dengan statusku?"


Lama-lama, Elena jadi geram sendiri. Kenapa pria itu tidak peka? Apa pantas jika seorang lelaki yang sudah beristri pulang selarut ini? Ditambah lagi, Elena mencium bau alkohol. Meski pernikahan ini bukan keinginannya, tapi pernikahan ini sah secara agama dan ia harus menghargai rumah tangganya sendiri.


"Kamu kenapa belum tidur?" Tanya Roy sambil meletakkan koper di sudut lemari.


Elena tak menjawab, ia malah menyuruh suaminya untuk membersihkan diri sebelum tidur.


"Bersihkan dirimu, aku tidak ingin satu kamar denganmu kalau belum mandi," kata Elena.


Roy nurut saja apa kata istrinya itu, ia juga merasa tubuhnya sangat lengket. Ia pergi ke kamar mandi. Sedangkan Elena, ia meraih koper milik Roy. Ia merapihkan baju-baju itu lalu menyusunnya dan memasukkan ke lemari kosong miliknya.


Beberapa menit kemudian, Roy keluar dari kamar mandi. Ia hanya menggunakan handuk untuk menutupi sebagian tubuhnya. Elena nampak terkejut ketika mendapati pemandangan itu, tapi ia tak ingin suaminya tahu dengan keadaan jantungnya yang dag dig dug saat melihatnya dalam keadaan seperti itu.

__ADS_1


"Bajumu sudah ku masukkan ke lemari," ucap Elena. Lalu ia naik ke atas tempat tidur. Ia merasa sudah baikkan setelah minum obat tadi.


"Nanti matikan lampunya," ucap Elena lagi, ia menarik selimut sampai batas dada.


Roy hanya menghembuskan napasnya, sikap Elena masih jutek seperti diawal bertemu. Karena Elena tidur, ia pun dengan cepat mengambil baju lalu memakainya. Roy pun naik ke atas ranjang, ia ikut bergelung ke dalam selimut yang digunakan istrinya.


Deg


Jantung Elena kembali berdegub, ini pertama kali baginya tidur bersama seorang laki-laki. Begitu pun dengan Roy, pria itu tak bisa memejamkan matanya. Padahal ini sudah sangat larut, ia tak bisa tidur karena ada Elena. Mereka sama-sama tidak ada pengalaman soal ranjang, bahkan Roy selalu bersikap dingin pada wanita.


Keduanya malah tak bisa tertidur, mereka terus membolak-balikan tubuhnya. Mencari posisi yang benar-benar nyaman, alhasil, mereka malah berebut selimut. Saling menarik satu sama lain.


"Jangan ditarik-tarik, aku tidak kebagian," kata Elena.


Karena mereka tertidur dalam kondisi saling menjauh. Roy di sisi, begitu pun dengan Elena. Masalah ini tidak akan kelar jika mereka masih berjauhan.


"Makanya, kamu jangan jauh-jauh," kata Roy.


Mereka tak menyadari diri sendiri.


"Huh." Elena beranjak dari posisinya, lalu duduk.


Roy pun sama, ia ikut mendudukkan diri. Dan mereka mulai berdiskusi.


"Oke, begini saja. Ini guling sebagai batas, kita tidur jangan sampai ada yang melewati batas ini, bagaimana?" kata Roy.


"Ok! Awas kalau kamu macam-macam, aku belum siap!" kata Elena.


"Siapa juga yang mau macam-macam? Kamu pikir, aku lelaki seperti apa?"

__ADS_1


"Sudah, jangan ribut. Gak enak kalau didengar om Bagas."


Elena lebih dulu membaringkan tubuhnya, disusul oleh Roy. Kali ini mereka tidur berdekatan, hanya saja ada guling yang menjadi pemisah di antara mereka. Dan mereka mulai tertidur.


Hingga keesokkan paginya.


Mentari mulai menyinari bumi, sinar matahari mulai menerobos masuk melalui cela jendela. Karena mekera tidur mendekati subuh, kini keduanya masih terlelap dalam tidur indahnya.


Guling yang menjadi pemisah pun hilang entah kemana. Mereka berdua mencari kehangatan di dalam selimut itu, tanpa sadar mereka malah tertidur dalam posisi saling berpelukkan. Mungkin mereka mengira itu adalah guling.


Elena semakin memeluknya dengan sangat erat, bagitu juga dengan Roy. Pria itu suka dengan aroma yang ia kira itu adalah guling. Elena menelusupkan wajahnya di dada bidang suaminya. Lambat laun, ia menghirup aroma yang berbeda. Parfum itu begitu menyeruak di indra penciumannya.


Dalam sekejap, Elena membuka matanya. Ia mengerutkan kedua alisnya karena bingung. Benda apa yang ia peluk? Elena mendadak amnesia, ia lupa bahwa ia sudah menikah kemarin sore.


Sadar dengan benda yang ia peluk karena bergerak, seketika ia mendorongnya sampai benda itu terjatuh ke lantai.


"Awww ...," Roy memekik.


Elena menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Dan Roy, pria itu bangkit dari posisinya. "Apa-apaan kamu ini? Kenapa mendorongku? Kamu pikir ini tidak sakit?"


"Ngapain kamu di kamarku, hah? Siapa yang mengizinkanmu tidur di sini?"


"Lupa kejadian kemarin?" tanya Roy.


Elena pun mencoba mengingatnya. "Ya, ampun. Kenapa aku bisa lupa? Diakan suamiku sekarang." Ia menepuk keningnya sendiri.


"Sudah ingat?"

__ADS_1


Elena mengangguk.


__ADS_2