
Keduanya basah kuyup, Dewi lebih dulu masuk ke dalam rumah. Mereka pulang pada jam 10 malam, di mana orang rumah masih belum tertidur.
"Kenapa tidak berteduh?" tanya Nindya saat melihat putranya. Nindya tak melihat Dewi karena gadis itu lebih dulu masuk ke dalam kamarnya. Hujan semakin deras, Nindya khawatir karena setahunya Dewi belum pulang.
Kring ... Kring ... Kring ...
Telepon rumah berdering, Nindya pun berjalan menghampiri dan mengangkat telepon itu.
"Aunty tidak tahu, coba Aunty cek ke kamarnya." Nindya menutup telepon dan segera menemui Dewi ke kamar untuk memastikan bahwa gadis itu sudah pulang.
"Mom," panggil Nathan. Nindya menoleh. "Tolong ambilkan handuk dulu," pinta Nathan.
"Kamu panggil bibi saja, Mommy mau lihat Dewi apa dia sudah pulang atau belum?" Nindya tak menghiraukan permintaan anaknya, karena menurutnya Dewi lebih penting.
* * *
"Wi, kamu sudah pulang?" tanya Nindya sembari membuka kenop pintu, pintu tidak terkunci sehingga ia bisa melihat sosok yang dicarinya. Melihat keadaan Dewi yang basah kuyup membuatnya berpikir bahwa Dewi ternyata pulang bersama Nathan putranya. Dewi di jemput Nathan? Dugaannya memang benar bahwa putranya memang memiliki perasaan pada gadis ini.
"Aunty." Dewi memeluk Nindya sambil terisak, tangisnya pecah. Kini ia tak lagi bisa menyembunyikan rasa sakit yang ditorehkan oleh anaknya. Dewi menyerah, malam ini juga ia pamit. Jika diizinkan, ia akan pergi esok hari.
"Kamu kenapa? Kenapa menangis? Apa soal kejadian tadi? Akhsa barusan telepon dan dia minta maaf, katakan pada Mommy, apa ini karena Akhsa?" tanya Nindya.
Dewi menggelengkan kepala. "Bukan, tapi kak Nathan. Aku tidak sanggup bila harus seperti ini terus, aku mau pergi saja dari rumah ini. Tolong! Aunty izinkan aku pergi, aku bisa jaga diriku sendiri." Pintanya yang masih berada di pelukan Nindya bahkan masih dalam keadaan terisak.
"Apa yang dilakukan anak Mommy sampai kamu mau pergi dari rumah ini, hmm?" Nindya melepaskan pelukan Dewi, lalu meangkup kedua pipi dengan tangan. Melihat kesakitan di mata, menelisik wajah cantiknya. Apa yang dilakukan anaknya?
"Lahir tanpa sosok ayah membuatku tersiksa, aku tidak menyalahkan takdir, Aunty. Aku hanya ingin hidup bahagia walau dengan kesederhanaan. Mulai malam ini aku mau pergi, aku tidak akan membiarkan siapa pun menghinaku lagi. Maafkan aku sudah merepotkan," lirih Dewi.
__ADS_1
Setelah mendengar penuturan Dewi, kini ia tahu kalau anaknya pasti kembali berulah. Perlakuannya kini tak lagi bisa ditoleri, jika kepergian Dewi bisa membuat anaknya sadar, ia akan mengizinkan gadis ini pergi.
"Maafkan, Nathan. Mommy yang akan menegurnya. Jika pergi memang sudah menjadi keputusanmu, Mommy izinkan. Tapi kamu tinggal di apartemen Mommy, jaraknya tidak jauh dari kampus. Kamu tetap harus kuliah, Mommy menyayangimu, Dewi." Nindya kembali memeluk gadis itu. Mencium pucuk kepalanya beberapa kali.
"Sekarang istirahatlah, Mommy yang akan mengantarmu besok. Ganti bajumu, Mommy takut kamu sakit." Dewi mengangguk patuh, mungkin jika bukan kebaikan Nindya, mungkin Dewi sudah kabur. Pergi tanpa pesan.
* * *
Bugh
Nindya melepar handuk basah ke wajah Nathan, ia sangat kesal terhadap anaknya itu. Nathan yang terkejut langsung melepas handsfree yang terpasang di telinga. Berdiri lalu menatap ke arah ibunya. Pasang wajah tak berdosa seolah tidak terjadi apa-apa. Begitu menyebalkan.
"Apa yang kamu lalukan kepada Dewi? Mau sampai kapan menuduhnya? Masa-lalu yang buruk bukan berarti dijejaki olehnya!" sungut Nindya murka. Suara lantang yang memarahi anaknya terdengar oleh penghuni di sana. Tak pernah teriak dalam berucap membuat mereka langsung menemuinya.
"Ada apa, sayang? Kenapa teriak-teriak?" tanya Andra.
"Jaga bicaramu, dia putra kita," sahut Andra, "ada apa ini sebanarnya? Kamu terlihat marah sekali?" tanyanya.
"Sudah ku bilang berulang kali kalau Dewi bukan anak haram, Hanum juga bukan wanita hina. Dia punya suami, dan Dewi punya ayah, kamu tahu itu 'kan, Mas?"
"Maafkan aku, Mommy," sesal Nathan.
"Minta maaf sama Dewi sana! Jangan sama Mommy!" Nindya langsung pergi.
Nala dan Dewa pun menyaksikan kemarahan mommy-nya. Ini pertama kali mereka melihat sang mommy memarahi kakaknya. Orang diam bukan berarti tidak bisa marah, begitu pun dengan Dewi. Selama ini gadis itu cukup diam, tak pernah melawan saat hatinya tersakiti.
* * *
__ADS_1
Pagi ini, Nathan berniat untuk meminta maaf. Ia tengah berdiri di depan pintu kamar Dewi ragu mengetuk pintunya karena rasa bersalah begitu amat besar. Ia mengakui bahwa sikapnya mang sudah keterlaluan.
Ia menghirup napas dalam-dalam, mempersiapkan diri untuk bertemu Dewi dan meminta maaf. Satu kali pintu diketuk, tak ada jawaban. Dua kali, tiga kali. Tetap tak ada sahutan dari dalam, hingga akhirnya ia bertekat masuk tanpa permisi.
Kamar terlihat kosong, tidak ada Dewi di dalam sana. Terus mencari sampai ke kamar mandi pun tidak ada. Apa dia sudah berangkat kuliah? Terpikir bahwa kemarin pun Dewi berangkat pagi-pagi, dan hari ini ia berniat menemui gadis itu ke kampus.
* * *
"Nathan, sarapan dulu sini," ajak Andra.
"Tidak, Dad. Aku ada urusan." Nathan pergi begitu saja tanpa melihat ke arah meja makan. Bahkan ia tak menyadari bahwa sang mommy pun tidak ada di sana.
Sesuai janji, Nindya pergi mengantar Dewi ke apartemen miliknya. Di mana anak-anak mereka tidak ada yang tahu bahwa ia memiliki apartemen. Hanya Andra yang tahu tempat itu, Nindya pun sudah sepakat dengan suaminya. Ia akan menghukum anaknya dengan caranya.
Nindya mengatakan semua tentang yang diketahuinya, termasuk perasaan Nathan kepada Dewi. Andra setuju dengan keputusan istrinya, membawa Dewi pergi dari hadapan anaknya.
Hari ini, Dewi tak masuk kuliah karena harus membereskan apartemen yang akan di tempatinya. Sebuah apartemen yang terbilang cukup luas jika dihuni seorang diri. Nindya tak akan membiarkan Dewi hidup luntang-lantung, apa lagi membiarkannya susah.
Dan kini, kedua wanita itu sampai di apartemen. Dewi melihat ruangan sekitar, mulai hari ini ia tinggal seorang diri. Dan itu lebih baik baginya, belajar hidup mandiri tentu tidak akan susah baginya. Sudah terbiasa dengan semua pekerjaan rumah termasuk memasak.
"Ini, kamu gunakan ini untuk biaya hidupmu selama di sini." Nindya memberikan sebuah kartu untuk Dewi, kartu yang ia bisa gunakan untuk keperluan hidupnya.
"Tidak usah, Aunty. Aku akan mencari pekerjaan sambil kuliah, aku tidak mau merepotkan Aunty lagi. Aunty terlalu baik padaku, aku bisa menghidupi diriku sendiri. Aku tidak bisa menerimanya." Tolak Dewi sambil mendorong tangan Nindya yang terangsur memberikan kartu kepadanya.
"Mommy tidak menerima penolakan, kamu simpan ini dengan baik. Gunakan bila kamu membutuhkannya." Nindya tetap memberikan kartu itu.
* * *
__ADS_1
Nathan sudah berada di depan gerbang kampus Dewi, menunggu sampai jam pelajaran selesai.