
Hampir setengah hari mereka tertidur. Andra terbangun dari tidurnya lebih dulu.
"Maafkan aku, Nindya. Aku hanya ingin kamu yang aku sentuh." Andra mencium kening gadis itu.
Sampai Nindya merasakan sesuatu di keningnya. Gadis itu membuka mata. Andra yang baru saja melepaskan bibirnya dari kening itu, kini tatapan mereka saling beradu.
Nindya memalingkan wajahnya, bahkan ia merubahkan posisinya. Ia membelakangi tuannya, dan selimut yang ia gunakan ia pegang dengan erat. Tubuh polos itu kini sudah ternoda untuk yang kedua kalinya.
Nindya kembali menangis.
Andra menarik bahu gadis itu.
"Lihat saya, Nindya."
"Kenapa Tuan melakukan ini?" Tangis Nindya pecah.
"Hey, dengarkan dulu. Saya akan bertanggung jawab, Nindya. Kau tidak sendirian."
"Bukan itu yang aku maksud, Tuan 'kan punya istri. Kenapa tidak melakukan ini dengannya, kanapa harus aku?"
Nindya kini mendudukkan diri di sandaran ranjang sambil terus menarik selimut.
"Apa aku harus jujur?" batinnya.
"Semua orang akan membenciku, Tuan. Mungkin mereka yang tidak tahu akan berpikir kalau aku yang merayu, Tuan."
"Tidak, Nindya. Aku mencintaimu."
Deg
Pernyataan Andra membuat Nindya menatapnya. Ia mencari keseriusan dari ucapannya itu. Kenapa? Kenapa ia nyatakan perasaannya? Mendengarnya secara langsung membuatnya semakin tak bisa melupakannya. Tapi pada kenyataannya, ini salah. Seharusnya ini tidak terjadi. Laki-laki ini sudah menikah.
"Tidak! Ini tidak boleh terjadi." Nindya menggelengkan kepalanya cepat.
"Tapi saya serius, Nindya."
"Lalu pernikahan itu?"
"Pernikahan yang seharusnya tidak terjadi, andai saya tahu dari awal, saya akan menolak perjodohan itu."
"Lalu?"
"Niat awal saya menikah karena kamu, Nindya."
Nindya mengerutkan keningnya, bingung dengan lontaran majikannya itu. Kenapa karena dirinya?
__ADS_1
"Saya kira pernikahan ini akan membuatku lupa padamu, tapi nyatanya tidak. Saya malah kecewa, istri yang saya kira polos dan pendiam itu ternyata salah. Bahkan dia sudah tidak suci lagi."
"Dan kesucian itu saya dapatkan darimu, itu yang membuatku harus bertanggung jawab. Ini bukan karena terpaksa, dari pertama melihatmu saya sudah jatuh cinta."
"Apa kamu masih ingat dengan pertemuan kita?"
Dua tahun lalu Nindya datang ke kota, gadis yang baru saja berumur sembilan belas tahun memberanikan diri datang ke kota untuk mencari pekerjaan. Tak sengaja, ia bertemu dengan nyonya Anye.
Nyonya Anye yang waktu itu hendak naik ke dalam mobil miliknya, tapi seseorang merampas tas miliknya. Seorang jambret berhasil membawa dompet tersebut. Nindya yang melihat mengejarnya.
Gadis kampung yang lincah mampu mengejar jambret tersebut. Lalu, seorang pria berlari ke arahnya. Anak si pemilik dompet itu menghajar jambret itu hingga babak belur.
Si jambret pun berhasil melarikan diri. Kini tinggal mereka berdua. Nindya memberikan dompet itu pada Anye, karena wanita paruh baya itu menghampirinya.
"Ini, Nyonya." Ujar Nindya seraya memberikan dompet tersebut. "Diperiksa dulu, takutnya ada yang hilang."
Anye memeriksa dompet itu, setelahnya ia bertanya.
"Siapa namamu?"
"Ayunindya, tapi panggil saja Nindya."
Anye melihat gadis itu dari ujung kaki sampai ujung kepala, penampilannya sedikit lusuh. Namun masih terlihat cantik, ia juga melihat tas yang dibawanya.
"Kau mau kemana? Kami bisa mengantarmu kalau kau mau," kata Anye.
"Lalu, kau mau kemana?" tanya Anye lagi. "Apa tujuanmu ke kota? Kalau saya lihat, kau bukan berasal dari sini."
"Saya dari kampung, Nyonya. Datang ke kota mau mencari pekerjaan," jawabnya menunduk.
Anye sedikit kasihan melihatnya, lalu ia mengajak Nindya dan membawanya ke rumah. Dari situlah, Nindya mengenal keluarga Wiliam. Dan sejak itu, Affandra Wiliam memiliki ketertarikan pada seorang gadis.
* * *
"Apa kamu percaya sejak itu saya memiliki perasaan padamu?" tanya Andra setelah mengingatkan peristiwa pertemuan mereka waktu lalu. Keberanian Nindya membuat Andra tertarik padanya.
"Tapi ini tidak boleh terjadi, Tuan. Anda sudah menikah dan memiliki kehidupan baru."
"Ini sudah terlanjur, Nindya. Saya sudah merenggut kesucianmu, dan saya tidak bisa menyentuh istriku."
"Semua orang punya masalalu, dan anggap saja ini sudah inpas."
"Apa mkasudmu bicara seperti itu? Saya bukan lelaki pengecut dengan mudahnya meninggalkan rasa tanggung jawab saya. Untuk Aileen, dia sudah membohongiku. Saya paling tidak suka dengan orang seperti itu."
"Aku mau pulang, Tuan. Aku tidak ingin ada masalah. Nyonya Anye sudah memberikan kepercayaannya padaku, dan aku tidak mau membuatnya kecewa karena masalah ini," kata Nindya sambil meraih bajunya yang tergeletak di bawah lantai.
__ADS_1
Nindya pergi ke kamar mandi hotel itu untuk membersihkan diri, ia sedikit merenung di dalam sana. Kenapa ia harus terlibat dengan masalah tuannya? Bukankah itu urusannya dengan istrinya?
Nindya buru-buru membersihkan diri, setelahnya ia memakai bajunya kembali dan bersiap untuk pulang. Nindya keluar dari kamar mandi.
"Tunggulah sebentar, saya mandi dulu. Saya yang akan mengantarmu pulang ke rumah."
* * *
Andra dan Nindya sudah berada di dalam mobil, dan mereka menuju pulang ke rumah utama.
Sedangkan di rumah utama nampak kacau karena mulut ember Loly menceritakan tentang kejadian tadi pagi bersama Nindya. Bahkan Aileen pun ikut serta, wanita itu sudah curiga akan pembantu itu. Apa lagi dengan apa yang sudah ia lakukan pada suaminya sendiri. Obat perangsang yang ia berikan pada suaminya kini malah menjadi malapetaka baginya.
Pikiran buruk pasti sudah terjadi pada suaminya dengan pembantu itu. Tidak mungkin tidak terjadi apa-apa di antara mereka, Aileen yakin betul. Kecemasannya sangat terlihat oleh ibu mertuanya.
"Tenanglah, Aileen. Mommy yakin tidak ada apa-apa di antara mereka. Mereka hanya sekedar atasan dan bawahan, Mommy percaya sama Andra."
"Ya, semoga saja begitu, Mom," lirih Aileen.
Bahkan nyonya Anye sedari tadi menunggu kedatangan Nindya.
"Habislah kamu, Nindya," gumam Loly. Loly sendiri sedang menguping di balik dinding yang bersebrangan dengan mereka.
Hingga waktu menunjukkan pukul lima sore.
"Loly ...," teriak Nyonya Anye.
"Iya, Nonya." Jawab Loly sembari berlari.
"Apa kamu benar tidak tahu mereka pergi kemana?"
"Tidak, Nyonya. Saya hanya melihat Tuan Andra marah-marah dan memaksa Nindya ikut dengannya."
"Apa yang sudah Nindya lakukan sampai Andra marah?" gumamnya nyonya Anye sendiri.
Tak lama dari situ, Andra dan Nindya sampai di rumah utama. Mereka masih berada di dalam mobil. Nindya enggan turun karena takut akan pertanyaan sang nyonya. Ia yakin kalau Loly sudah melaporkan kejadian tadi pagi.
"Ayok turun, jangan khawatir. Mereka tidak akan mengintrogasimu," ajak Andra.
"Ta-tapi ... Bagaimana kalau nyonya Anye marah karena aku tidak menemani Loly tadi?"
"Saya yang akan membicarakan masalah ini pada mommy."
...----------------...
Selagi nunggu ini up, kalian bisa mampir di sini di karya temanku.
__ADS_1