
Di rumah sakit.
Dokter Elena sedang berada di ruangannya, ia sedang mengecek jadwal pasiennya yang akan melahirkan dalam waktu dekat ini. Tak lama dari situ, seseorang masuk ke ruangannya. Ketika ia tahu siapa yang datang, ia melipat agenda kerjanya dan menyimpannya di lemari bukunya.
"Sibuk gak?" tanya orang itu yang tak lain adalah dokter Alan.
"Tidak, emangnya kenapa?"
"Makan siang yuk?" ajak dokter Alan.
"Tidak laper." Sebisa mungkin ia mencoba untuk menghindar dari pria itu, ia takut tak bisa melupakannya jika selalu bersama.
"Tumben, biasanya juga kalau aku ajak selalu mau," kata dokter Alan lagi.
"Itu dulu sebelum kamu punya pacar," batin Elena.
"Bener gak laper? Apa mau aku bawakan sesuatu?" tawarnya.
"Tidak usah, sebentar lagi aku pulang."
"Baiklah." Dokter Alan pun pamit dan langsung keluar dari ruangannya.
Setelah kepergian dokter Alan, Elena pun siap-siap. Pasalnya, ia belum menampakkan batang hidungnya pada om dan tante-nya. Selama ini, ia hidup bersama om dan tante-nya. Orang tua Elena sudah meninggal sejak umurnya 5 tahun, mereka meninggal karena sebuah kecelakaan tunggal. Dan Elena selamat dari kecelakaan itu.
Kini ia sudah siap untuk pulang, ia meraih kunci mobilnya yang terletak di atas meja. Elena sudah ada di parkiran, saat ia akan menaiki mobilnya, ia melihat ban mobilnya.
"Ya, kok bocor sih." Raut wajahnya nampak kecewa, padahal ia sudah sangat lelah hari ini. Ditambah lagi semalam ia kurang tidur, kepalanya juga sudah mulai terasa berat.
Mau tak mau ia pun harus memesan taksi online. Sayang, pas ia melihat ponselnya ternyata mati, ia lupa tidak mencharger-nya. Tidak ada pilihan lain selain menaiki angkutan umum.
"Aku cegat mini bus saja, biasanya jam segini suka lewat," ucapnya sendiri. Ia berjalan ke sebrang rumah sakit, dan benar saja, tak lama dari situ mini bus datang. Ia segera naik.
Sungguh sial, mini bus penuh dengan penumpang. Tidak ada bangku yang kosong, alhasil ia harus berdiri. Kepalanya semakin pusing, ditambah lagi dengan bau yang tidak sedap. Rasanya ia ingin muntah, tapi ia coba untuk menahannya.
__ADS_1
* * *
"Ayo dong, Roy ... Cepat sedikit," gerutu ibu Rahma pada anaknya. Laju mobilnya sangat lamban, ibu Rahma tidak sabaran karena sikapnya memang seperti itu. Karena ia terus mengomel, anaknya pun langsung menuruti keinginannya.
Sampailah mereka di rumah sakit.
Ibu Rahma cepat-cepat turun dari mobil, ia tak sabar ingin melihat dokter Elena.
Roy melihat mobil dokter itu masih terparkir, tapi ia tak melihat ban mobilnya yang bocor.
"Pelan-pelan, Bu," kata Roy. "Nanti jatuh bagaimana?"
"Kamu mendoakan Ibu celaka?"
"Bukan begitu, mak-," ucap Roy terputus karena ibu Rahma lebih dulu memotongnya.
"Sudahlah, mending kamu tanyakan pada staff resepsionis, apa ... Siapa namanya, Ibu lupa?"
"Dokter Elena," kata Roy.
Roy menghampiri meja resepsionis.
"Maaf, sus. Dokter Elena-Nya ada?" tanya Roy.
"Maaf, Dokter Elena baru saja pulang," jawab suster.
"Tapi di depan mobilnya masih ada." Roy seolah tak percaya apa yang dikatakan suster itu.
"Kalau itu saya kurang tahu, soalnya sudah tidak ada pasien lagi," jelas suster.
Ibu Rahma mendengar percakapan mereka, dan ia langsung menghampiri. Ia harus bertemu dengan gadis itu hari ini juga.
"Sus, bisa minta alamat rumah dokter Elena? Kami harus bertemu dengannya sekarang juga," kata ibu Rahma pada suster.
__ADS_1
Sedangkan Roy, ia menggelengkan kepalanya ke arah sustur. Memberi isyarat agar suster itu tak memberikan alamat gadis itu pada ibunya. Suster yang tak mengerti apa maksudnya malah kembali bercakap.
"Kepala Tuan bermasalah? Terus minta alamat dokter Elena mau berobat gitu? 'Kan dokter Elena dokter kandungan," kata suster.
Ibu Rahma langsung menoleh ke belakang, ia mengerti apa maksud anaknya yang menggerak-gerakkan kepalanya pada suster itu.
"Kami masih kerabatnya, sus. Kami cuma tahu alamat tempat kerjanya," jelas ibu Rahma.
"Apa benar, Ibu masih keluarganya?" Suster itu takut mereka berbohong.
"Iya, sus. Suster kenapa tidak percaya? Apa kami tampang penjahat. Suster pun memberikan alamat dokter Elena. Ibu Rahma tersenyum sumringah ketika mendapatkan alamat dokter itu.
"Ayo, kita segera ke sana," ajak ibu Rahma.
Roy melihat mobil Elena sebelum ia pergi, lalu melihat ban mobilnya yang bocor. Kemungkinan wanita itu pulang naik taksi.
* * *
Elena baru saja kebagian duduk setelah beberapa menit berada di dalam mini bus.
"Akhirnya, aku duduk juga." Ucapnya seraya menyandarkan kepala di jendela bus itu, ia menguap karena mengantuk. Tak terasa, ia malah tertidur. Sampai mini bus melewati jalur rumahnya.
Bahkan Roy sudah lebih dulu sampai di rumah Elena.
"Kamu yakin ini rumahnya?" tanyanya.
"Alamatnya sih emang bener inii, Bu."
"Cari siapa ya?" tanya seorang security.
Ibu Rahma mengambil kertas yang ada di genggaman anaknya lalu menunjukkannya pada satpam itu. "Mau tanya alamat ini."
"Oh, ini emang alamat rumah ini," terang satpam.
__ADS_1
Ibu Rahma tersenyum lega karena sudah berhasil menemukan rumah gadis itu. Sedangkan Roy, ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi nanti.