Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 99


__ADS_3

Dua bulan kemudian.


Hari ini, di mana Adam memeriksa putranya yang kini berusia 2 bulan, jika tidak lahir secara prematur mungkin baru genap 1 bulan usianya. Saat ia berada di rumah sakit, di sana sedikit ricuh karena ada pasien baru datang. Ia mengenali pasien itu.


"Tuan," panggil Adam. Ya, pasien itu yang tak lain adalah Nindya. Kini ia tengah merasakan sakit yang amat luar biasa, wanita itu akan segera melahirkan. Suster mendorong brankar yang dikenakan oleh bumil itu. Mereka langsung membawanya ke ruang operasi, karena hamil kembar, Andra langsung menyarankan untuk memakai jalan pintas. Ia tak tega melihat istrinya yang sudah kesakitan.


"Adam, maaf, aku harus menemani istriku." Jawabnya tanpa berhenti, ia ikut mendorong brankar.


Adam mengangguk, ia menggendong bayinya yang akan diperiksa. Adam belum memiliki baby siter untuk bayinya, ia belum setengahnya percaya pada jasa baby siter. Bahkan ia sudah 1 bulan tidak bekerja ke kantor, ia bekerja melalui online. Beruntung, Andra dapat memahami kondisi karyawannya.


Sebenarnya, Adam tak enak hati pada bos-nya itu. Andra begitu baik padanya. Sudah sering kali, Roy menyarankan dirinya untuk mencari baby siter. Adam tetap kekeh ingin merawat putranya sendiri.


* * *


"Sakit ..." Nindya terus meringis merasakan sakit di perut, bukan hanya dirinya yang sakit. Sang suami pun ikut merasakan sakit, karena Nindya sampai menggigit tangan suaminya bahkan menjambak rambutnya. Demi sang istri, Andra rela.


Operasi belum dilakukan karena menunggu waktu yang tepat. Nindya terus meringis.


"Apa pun yang kamu lakukan, aku terima. Jika kamu sakit, aku pun rela kesakitan," ujar Andra tak berdaya.


Hingga beberapa saat, dokter dan suster datang untuk memeriksa terlebih dulu. Tak hanya satu dokter di sana. Bahkan jika dibolehkan, Andra menyuruh semua dokter ikut membantu persalinan istrinya. Dengan syarat, dokter itu harus perempuan.


Elena yang tengah hamil 3 bulan pun ikut serta, tadinya ia tak bisa ikut membantu karena kondisinya yang tidak stabil, tapi Nindya ingin ditemani oleh dokter Elena. Mau tak mau, Elena ikut menemani, dan membantu seadanya karena ia bukan dokter bedah.


Semua alat sudah dipasang, bahkan Nindya pun sudah menerima suntikkan di bagian punggung. Setelah itu, separuh tubuhnya mulai tidak merasakan apa-apa. Tidak lama lagi, operasi dimulai.


Andra terus mengajak istrinya berkomunikasi, mengalihkan segala pikiran buruk tentangnya. Nindya takut akan kematian menghampiri, karena melahirkan taruhannya itu adalah nyawa.


Dokter terus berusaha semaksimal mungkin, tak lama dari situ, terdengarlah suara tangisan bayi. Bayi yang pertama keluar itu berjenis kel*min laki-laki. Andra dan Nindya memang sengaja tak ingin tahu soal kelamin anaknya itu. Biar menajdi kejutan.


"Sayang, anak pertama kita," ucap Andra. Ia mengecup kening istrinya, dan sang bayi diletakan di dada sang ibu.


Tak lama dari situ, terdengar lagi suara tangisan bayi. Dan ternyata, anak mereka satu pasang. Andra dan Nindya begitu bahagia saat mendengar kedua anaknya menangis. Kebahagiaan mereka lengkap sudah.


Nindya menangis, menangis karena bahagia. Umurnya yang masih terbilang muda kini sudah mempunyai anak kembar yang sangat lucu dan menggemaskan. Kedua bayi itu sudah dibersihkan

__ADS_1


Suster pun kembali meletakkan bayinya di samping bayi yang satunya.


"Mas, anak kita." Nindya semakin menangis, lalu ia mengecup kepala anak-anaknya secara bergantian.


Sedangkan dokter masih bergelut dengan pekerjaannya.


"Biar kami bersihkan dulu bayinya," kata suster. Suster pun mengambil bayinya untuk dibersihkan. Setelah semua itu selesai, suster mengembalikan sang bayi kepada ibunya. Meletakkannya di samping Nindya.


Tak lama, dokter pun sudah selesai dari tugasnya. Perut Nindya kembali rapat, karena sudah dijahit kembali. Tinggal menunggu bagian tubuhnya untuk normal kembali setelah dibius.


Anggota keluarga sudah tidak sabar, mereka semua sudah menunggu. Bahkan Rahayu dan sang suami sudah berada di sana setelah diiberi kabar oleh besannya.


"Wil, kenapa lama sekali?" tanya Anye soal operasi yang dilakukan Nindya.


"Kamu sabar saja, bukannya kamu pernah merasakan ini sebelumnya?" Anye pun sama, saat melahirkan Andra melalui sesar.


"Sabar, yang lahirkan anak kembar, suster pasti sedikit kewalahan," tutur Rahayu. Yang ia ingat saat melahirkan Panji dan Nisa, suster sangat kerepotan karena hanya ada suster. Beda dengan Nindya yang difasilitasi banyak suster dan dokter. Sebegitu polosnya ibu Rahayu.


Saat mereka saling mengobrol, dokter pun keluar dari ruang operasi. Dengan antusias, Anye menghampiri dokter itu.


"Operasi berjalan lancar, bayi dan ibunya sehat. Sebentar lagi suster akan memindahkan pasein ke ruang rawat," jelas dokter.


"Syukur." Rahayu pun lega dengan kabar bahagia itu.


Dan benar saja, Nindya langsung dipindahkan ke ruang VVIP. Kamar yang digunakan Nindya tentu bukan kamar biasa, fasilitas sudah sangat lengkap. Andra mendorong kereta bayi dari arah belakang.


"Wil, cucuku," ujar Anye.


"Mereka cucu ku juga," kata Wiliam tak mau kalah.


Halim dan Rahayu hanya tersenyum, mereka begitu menginginkan kehadiran bayi itu. Betapa bersyukurnya Halim dan istrinya itu, mendapatkan besan seperti mereka yang sangat menyayangi putrinya.


Nindya sudah berada di kamar bersama kedua anaknya, para orang tua pun menyusul. Anye dan Wiliam langsung menggendong sang cucu.


"Cantiknya cucu Oma." Anye menciumnya dengan gemas.

__ADS_1


"Cantik? Emangnya kamu tahu dia wanita?" tanya Wiliam.


"Bajunya warna pink, tentu pasti perempuan. Lihat, bayi yang kamu gendong bajunya warna biru. Pasti laki-laki, iyakan, Ndra?" tanya Anye.


"Apa kata Mommy benae, Dad," jawab Andra.


"Siapa namanya? Apa kalian sudah menyiapkan nama untuk mereka?" tanya Wiliam.


"Belum, Dad. Kami masih memilih-milih nama yang bagus dan bermakna," jawab Nindya.


"Boleh aku menggendongnya?" pinta Rahayu pada Anye. Anye tersenyum, ia merasa egois karena tidak mengingat akan keberadaan besannya. Tentu wanita itu juga ingin menggendong cucu pertamanya.


Rahayu pun mencium sang cucu, menghirup aromanya yang begitu wangi khas bayi. Andra dan Nindya semakin bahagia ketika melihat kedua orang tuanya terlihat akur.


Mereka juga tidak menyangka dengan keadaan ini, jika teringat akan sikap Wiliam begitu mustahil mereka dapat bersatu, dan bahagia seperti sekarang.


"Hai semua," sapa dokter Elena, bumil itu langsung menyusul karena ingin melihat sang bayi yang menurutnya sangat lucu. Rasanya ia tak sabar dengan kehadiran anaknya.


"Hai juga, Dok," jawab Anye, "Ndra? Roy masih di kantor?" tanya Anye kemudian.


"Iya, Mom. Ada meeting penting hari ini, jadi dia masih di kantor. 'Kan Mommy tahu, Adam sudah 1 bulan ini tidak ke kantor."


"Kasian ya, Adam? Kamu gak nyuruh dia nikah lagi saja, biar ada yang mau ngurus bayinya," tutur Anye lagi.


"Adam setia, mana mungkin dia menikah lagi. Aku yakin kalau Aileen pun pasti ingin bertemu dengannya apa lagi pada Rakhsa," terang Andra.


"Mommy-mu ada-ada saja, emangnya gampang cari pengganti istri. Sebenarnya Aileen baik, papanya saja yang keterlaluan," timpal Wiliam.


Perbincangan mereka jadi ngelantur ke mana-mana, sampai-sampai waktu begitu cepat berlalu. Dokter menyarankan agar semua keluar dari ruangan dan membiarkan pasien beristirahat.


Karena ruangan cukup luas, bahkan kamar pasien terpisah dari ruangan yang ingin menjenguk. Pada akhirnya, Nindya bisa beristirahat tanpa diganggu. Wiliam dan yang lainnya berduduk santai di ruangan lain. Sedangkan Andra, ia menemani istrinya. Bahkan menyuapinya makan sebelum beristirhat.


...----------------...


Padahal, bukan Andra yang belum menemukan nama, tapi aku-nya 😅😅😅

__ADS_1


Ayo, siapa yang mau nyumbang nama anak kembar, yang bagus dan ada maknanya tentunya.


__ADS_2